Wuhan Antisipasi Gelombang II Covid-19

Ilustrasi seluruhnya 11 juta warga kota Wuhan, Prov. Hubei, China akan dites massal guna mengantisipasi gelombang ke-2 serangan pandemi Covid-19. Wuhan menjadi asal muasal pandemi Covid-19 yang menewaskan lebih 303.000 orang dan menjangkit sekitar 4,5 juta orang di 216 negara di dunia (sampai 17/5).

TIDAK tanggung-tanggung, pemerintah China akan mengambil specimen seluruhnya 11 juta warga kota Wuhan, ibukota Provinsi Hubei dalam upaya mengantisipasi kemungkinan serangan  gelombang ke-2 Covid-19.

Seorang penduduk Wuhan seperti dikutip harian New York Times (16/5) menyebutkan,  dari sejumlah postingan medsos, tersirat adanya kekhawatiran publik, kerumunan massa di lokasi tes massal yang akan dilakukan justeru bakal memicu lonjakan orang terpapar virus tersebut.

Tidak diketahui apakah rencana tes massal tersebut menggunakan metode rapid test dengan mengambil specimen darah atau melalui Polymerized Chain Reaction (PCR) dengan swab atau sapuan sputum (cairan) di tenggorokan.

Rencana pengambilan specimen secara massal itu digulirkan setelah ada laporan dari radio Inggeris, BBC tentang adanya enam kasus warga yang positif mengidap Covid-19 dan saat ini sedang dilakukan tahap pendataan terhadap warga di setiap distrik dan diharapkan prosesnya rampung dalam 10 hari.

Kecemasan akan munculnya gelombang kedua Covid-19 dipicu penemuan klaster baru berupa lima kasus infeksi di salah satu distrik permukiman di Wuhan, kota awal penyebaran Covid-19 pada pertengahan Desember lalu yang kemudian menjadi pandemi yang menyebar ke 216 negara.

Sejumlah kasus infeksi baru Covid-19 juga dilaporkan terjadi di Shulan, kota berpenduduk 670 ribu orang yang berlokasi di kawasan timur laut China, sehingga otoritas setempat langsung menerapkan lockdown bagi warganya.

Sementara di Indonesia, selain warga yang diambil specimennya masih relatif sedikit, di bawah 200.000 orang atau kurang dari 0,1 persen dari 270 juta total penduduk, rendahnya disiplin menaati seruan social distancing untuk tinggal di rumah dan tidak mudik, dicemaskan bisa memicu lonjakan jumlah korban Cvid-19.

Lemahnya penegakan hukum dan sanksi bagi pelanggar PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ketidaksepahaman antara pejabat pusat dan daerah serta banyaknya celah-celah untuk melakukan pelanggaran, juga persoalan yang bisa membuat program tersebut tidak efektif atau gagal.

Tercatat 1.089 orang meninggal akibat Covid-19 di seluruh Indonesia (sampai 17/5) dari 17.025 kasus, 12.025 orang yang terpapar, diantaranya 3.911 orang dinyatakan sembuh.

Sejumlah pakar mengingatkan, jika PSBB tidak efektif atau gagal mencegah penyebaran Covid-19, bisa terjadi outbreak atau ledakan jumlah korban sampai ratusan ribu bahkan jutaan orang.

Waspada dan waspada lah!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement