spot_img

YAMALI TB Sulsel Dorong Deklarasi Kampus Zero TB di STIK Tamalatea

MAKASSAR – Dalam kegiatan edukasi dan skrining TB di STIK Tamalatea Makassar, Selasa (31/10) lalu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Ishaq Iskandar meresmikan deklarasi kampus Zero TB.

Deklarasi ini merupakan inisiasi dari TB Rangers program magang Campus Leaders 7 yang sedang mendalami isu TBC di Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis Sulawesi Selatan (YAMALI TB). Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen masyarakat bersama akademisi untuk mendorong penerapan hidup sehat serta aktif dalam pencegahan Tuberkulosis di lingkungan kampus.

Ketua STIK Tamalatea menyambut baik seruan ini dan akan mendorong isu TBC untuk menjadi tema yang diutamakan dalam program magang, penelitian, maupun pengabdian masyarakat.

Sehingga, kontribusi dunia akademisi akan semakin nyata dalam pencegahan dan penanggulangan TBC di Indonesia.

“Kami menyadari bahwa penanggulangan TBC ini tidak cukup hanya pemerintah atau segelintir masyarakat saja yang menjalankan. Semua harus turun tangan, karena TBC ini mengancam kesehatan dan produktviitas. Mahasiswa masuk ke dalam usia poduktif, dan bukan tidak mungkin rentan terpapar penyakit ini,” jelas Rahmawati, Ketua STIK Tamalatea Makassar.

Saat ini di Indonesia diperkirakan jumlah kasus baru TBC hampir satu juta orang (969.000 orang). Sampai Oktober 2023, treatment coverage yang dilakukan baru mencapai 59% (Kemenkes RI), maka ada 41% kasus yang belum ditemukan dan diobati akan terus menjadi sumber penular TBC di masyarakat. Di Kota Makassar, target penemuan kasus TBC di tahun 2023 yaitu sebanyak 14.898 kasus.

Sedangkan secara provinsi, target capaian penemuan kasus aktif tersebut sebanyak 47.075 kasus. Namun, baru tercapai hingga Oktober 2023 sebanyak 21.667 kasus.

Skrining TBC yang dilakukan pada kalangan mahasiswa diharapkan dapat mendorong percepatan pencapaian target pencarian kasus TBC. “Berbagai upaya eliminasi TBC terus dilakukan dalam upaya pencegahan, penemuan kasus, baik secara aktif maupun laten, diagnosis, hingga terapi/pengobatan. Saya berharap kegiatan kolaborasi antara BCF dan perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi untuk mencapai target eliminasi TBC di Sulawesi Selatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Penyakit TBC merupakan penyakit yang penuh dengan stigma, maka dari itu proses edukasi dan skrining TBC dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif, seperti mengadakan sesi permainan edukasi untuk menarik minat mahasiswa mengetahui soal TBC lebih dalam. Tahapan skrining dilakukan dengan melakukan dialog dalam bentuk grup diskusi kepada mahasiswa yang didampingi oleh kader dari Yayasan Masyarakat Peduli TBC (YAMALI) Sulawesi Selatan.

“Kegiatan ini kami lakukan untuk mendorong mahasiswa ingin agar lebih mengetahui mengenai penyakit Tuberkulosis sehingga ketika mereka diedukasi dengan cara yang menyenangkan, maka diharapkan mereka bisa menyebarkan informasi yang benar soal TBC sehingga mitos atau kesalahan persepsi mengenai TBC bisa diturunkan,” jelas Kasri Riswadi, Ketua YAMALI TB Sulawesi Selatan.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles