NYAWA warga Yaman setiap saat tidak saja diintai di tengah perang saudara yang sudah berkecamuk selama dua tahun, tetapi juga oleh wabah penyakit kolera yang berjangkit di salah satu negeri termiskin di dunia yang berada di jasirah Arab itu .
Wabah kolera yang terjadi di Yaman, dilaporkan terparah di dunia, baik dari sisi cepatnye penyebaran dan skala cakupan wabah (19 dari 23 propinsi)Â , bahkan lebih buruk dari yang pernah terjadi di Haiti pada 2010 yang merenggut 9.000 warganya.
Jubir Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tarik Jasarevic sebelumnya memprakirakan, jumlah penderita kolera di Yaman bisa membengkak sampai 300.000 orang, padahal saat ini sudah mencapai 450.000 orang atau sudah terlampaui.
Korban yang meregang nyawa akibat bakteri vibrio cholera itu sejauh ini sudah mencapai 2.000 orang atau paling tidak setiap hari ada 5.000 penduduk yang terjangkit, padahal sejak Juni lalu atau dua bulan setelah wabah merebak pada April lalu, jumlah korban baru 100.000 orang  dan yang tewas cuma 789 orang.
Penyakit kolera sebenarnya tidak sulit diobati karena korban cukup diberikan larutan guna mencegah dehidrasi, dan korban juga tidak merasa sakit, namun buruknya prasarana umum termasuk sanitasi dan kesehatan ikut memperparah penanganannnya.
Konflik bersenjata berkepanjangan menyebabkan rusaknya sejumlah prasarana sanitasi termasuk pengadaan air bersih dan membuat air minum berisiko terkontaminasi kotoran manusia, sementara saluran irigasi dan sumur rawan terkontaminasi sampah-sampah yang berserakan.
Selain rusaknya sekitar separuh fasilitas kesehatan akibat perang, 30.000 petugas kesehatan juga tidak mendapatkan gaji sejak September tahun lalu sehingga tenaga mereka tidak bisa diandalkan, sementara pemberian vaksin anti kolera juga tidak efektif karena wabah terjadi secara massif.
Perang saudara antara kubu pemerintah pimpinan Presiden Abd. Rabbuh  Mansour Hadi didukung koalisi Arab Saudi dan UEA melawan milisi Houthi pimpinan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh menyebabkan tiga juta penduduk negeri itu menjadi pengungsi dan tinggal di kam-kam pengungsi yang sanitasinya buruk sehingga membuat negeri itu menjadi tempat inkubasi bakteri kolera.
Perang saudara yang berkecamuk sejak Maret 2015 mengakibatkan sekitar 7.600 korban tewas dan 42.000 luka-luka.
Para elite berseteru, yang menjadi tumbalnya, jelas rakyat jelata. (AP/NS)





