Yogyakarta Kota Relawan

Ilustrasi: Pagelaran Kraton Yogyakarta.

 

MENTERI Sosial Khofifah Endarparawansa kemarin mendeklarasikan Yogyakarta sebagai Kota Relawan. Ada sejumlah alasan memberi predikat tersebut. Kata Mensos, masyarakat Yogyakarta sangat terlatih menghadapi bencana alam. Dengan sikap kerelawanannya mereka bahu membahu menolong para korban gempa Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi 2010. Kata Mensos Khofifah, rehabilitasi wilayah setelah bencana, daerah DIY merupakan yang tercepat di dunia berkat semangat gotong royong masyarakatnya.

Letak geografis kota Yogyakarta yang “sepenggalah” dari Gunung Merapi di sebelah utara, menjadikan kota tersebut selalu akrab dengan bencana alam. Asal Gunung Merapi batuk-batuk dan kemudian memuntahkan lahar panas dan lahar dinginnya, daerah Yogyakarta bagian utara sebagaimana Kaliurang, akan selalu menjadi korbannya. Tapi masyarakat Yogyakarta dengan cepat memberikan dana dan bala bantuan tanpa pamrih.

Swargi (almarhum) Mbah Maridjan adalah relawan terhebat dari Merapi. Meski Pemda DIY sudah menyarankan untuk mengungsi karena Gunung Merapi semakin tidak bersahabat, dia bertahan dengan alasan mengemban amanat Ngerso Dalem Sultan HB IX, agar ngreksa (menjaga) Gunung Merapi beserta warganya. Akhirnya, Mbah Maridjan benar-benar tewas terpanggang lahar Merapi pada erupsi 27 Oktober 2010. Padahal sebetulnya, jika swargi mau “lari dari tanggungjawab” bisa saja, wong Ngerso Dalem HB IX selaku pemberi perintah sudah wafat tahun 1988 lalu.

Ujian bencana lahar Merapi yang selalu datang berkesinambungan itu menjadikan warga DIY semakin teruji ketika gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 melanda. Meski ribuan rumah hancur dan ribuan nyawa melayang, dalam waktu cepat penduduk bisa memulihkan kotanya. Hanya dalam tempo enam bulan, bekas-bekas gempa bumi itu sudah tidak terlihat lagi.

Cuma ya itu tadi. Di samping masyarakat relawan, ada juga oknumnya yang berotak nggak keruwan. Ketika bantuan rehabilitasi dari pemerintah mencapai ratusan juta untuk setiap desa, warga Dlingo Kab. Bantul ada yang nakal. Seorang guru SD mencatut dana konsultan teknis dari Rp 15,5 juta tinggal Rp 12 juta. Dia korupsi Rp 3,5 juta, tapi kena vonis 14 bulan di samping denda Rp 100 juta. Bagaimana nggak tekor?

Begitu hebatnya gempa Yogya Mei 2006 itu, sehingga mantan presiden Gus Dur pun perlu datang ke Yogyakarta untuk menghibur para korban. Seorang warga bertanya pada Gus Dur, apa benar gempa ini terjadi karena kemarahan Nyi Rara Kidul? Gus Dur pun menjawab sekenanya, “Tentu saja Nyi Rara Kidul marah, wong nggak mau kok dipaksa-paksa pakai jilbab…..”

Tapi sesungguhnya kerelawanan masyakat Yogyakarta tak lepas dari keteladanan pemimpinnya di kota itu. Ngersa Dalem Sultan HB IX (1912-1988) adalah sosok relawan sejati, yang berjuang tanpa pamrih demi rakyat kawula Ngayogyakarta khususnya dan negara RI pada umumnya. Setelah Bung Karno – Bung Hatta menyatakan proklamasi RI, 5 September 1945 Sultan HB IX langsung menyatakan di belakang republik, meski itu akan menggradasi wilayah kekuasaannya.

Dan ketika ibukota negara Jakarta terus digempur Belanda, pada 3 Januari 1946 Sukarno – Hatta memindahkan ibukota RI ke Yogyakarta atas tawaran Ngerso Dalem. Anggaran pemerintahan selama 3 tahun sebanyak 6 juta gulden dibiayai dari kantong Sultan. Setelah ibukota RI kembali ke Jakarta 27 Desember 1949 (Penyerahan Kedaulatan), Bung Hatta mau mengembalikan utang Republik itu, tapi Ngerso Dalem menolaknya.

Sekitar tahun 1940-an mobil Sultan HB IX ditumpangi seorang mbok bakul  pedagang Pasar Beringharjo. Sultan ikut menurunkan barang dagangan tersebut  di pasar tujuan, bahkan menolak ketika mau diupah. Ketika diberi tahu bahwa sopir jip itu ternyata Ngerso Dalem, mbok bakul itu langsung pingsan dibuatnya. (Cantrik Metaram).

Advertisement