'Ombak Besar' Menuju Gaza

0
254
Ilustrasi / Ist

Tekad aktivis dunia untuk berlayar dan menyuarakan kemerdekaan Palestina serta membuka blokade untuk Jalur Gaza tidak pernah berhenti. Seperti diberitakan KBK 23 Juni 2015 lalu, Freedom Flotilla 3 (FF3) segera bertolak dalam beberapa jam menuju Jalur Gaza, meski pihak Israel mengancam akan menghalanginya.

Tekad itu disampaikan Ketua Konvoi Miles of Smile, Dr. Isham Yusuf hari ini Senin (21/6/2015). Dalam pernyataan persnya, Yusuf menegaskan, para peserta di FF 3 bertekad melanjutkan perjalanan ke Jalur Gaza untuk menembus blockade Israel. Mantan Presiden Tunis, al-Munshif Marzuqi sudah tiba di Yunani untuk bergabung dengan rombongan FF 3 ini.

“Selain itu sejumlah anggota parlemen dari Maroko, Aljazair, Yordania, Eropa dan perwakilan lembaga-lembaga swadaya masyarakat sipil dan partai-partai di Eropa juga ikut bergabung,” ungkap Yusuf.

Yusuf menilai, keikut-sertaan delegasi itu mencerminkan tekad aktivis kebebasan dunia untuk menembus blockade. Ia memperingatkan dampak sikap dan tindakan kekerasan Israel terhadap relawan FF 3. Ia menyerukan masyarakat internasional untuk bertanggungjawab secara moral menjaga relawan dari seluruh dunia.

Tapi tekad itu tidaklah mulus, di saat pemberangkatan  FF3 ternyata pihak Otoritas Yunani yang sebelumnya adem ayem, mendadak melakukan upaya-upaya yang tidak masuk akal. Mereka mencoba menghalang-halangi dengan berusaha membuat alasan dan mencegah pergerakan kapal kelima dari kapal-kapal Freedom Flotilla. Pada hari Ahad (28/6/2015) mereka memeriksa secara tidak wajar pada dokumen kapal dan menunda pemberangkatannya.

Komite melihat tindakan ini disengaja dan bertujuan untuk mencegah kapal tersebut menyusul keempat kapal (kecil-kecil) yang menunggu di perairan internasional menuju Jalur Gaza. Itu indikasi bahwa penjajah Zionis tidak putus asa dan terus menekan pemerintah Yunani.

Ketua Komite, Zahir Birawi menegaskan, “Penundaan atau pencegahan kapal kelima tidak akan banyak mempengaruhi keberhasilan armada dalam merealisasikan tujuan-tujuannya. Karena sebagian besar tujuan telah terealisasi sampai sekarang.”

Dia menegaskan bahwa pengaruhnya hanya satu akibat penundaan ini, yaitu pembagian pergerakan bersama kapal-kapal armada. Dia menegaskan bahwa kapal kelima akan menyusul armada secepat mungkin dan akan masuk Gaza meski terlambat dari kempat kapal yang sudah jalan lebih dulu.

Persoal keterlambatan kapal-kapal yang sempat ditahan Yunani, sudah tidak menjadi soal. Mereka yang terlambat segera menyusul ke laut lepas. Hanya saja datang persoalan baru ketika mendekati jalur Gaza. Komite anti blockade Eropa dari Gaza mengkhabarkan, tentara Zionis Senin pagi (29/6/2015) berhasil mengambil alih kapal Swedia Marriyana yang tergabung dalam Freedom Flotilla 3 lalu mengarahkanya ke pelabuhan Israel di Asdod.

Dengan ini, komite mengecam aksi pembajakan yang dilakukan tentara Zionis dan meminta dunia segera bertindak, tidak diam melihat kejahatan yang dilakukan Zionis selama ini. Ia juga meminta pemerintah Swedia intervensi dalam hal ini guna menyelamatkan kapal Marriyana dari gangguan Zionis. Namun demikian pihaknya tetap komit untuk mengarungi lautan menuju Gaza hingga terbebasnya Negara tersebut dari blockade Israel.

Sebelumnya, angkatan laut Israel berhasil mengepung Freedom Flotilla 3 di perairan internasional. Berdasarkan informasi ini, koalisi Flotilla telah mengembalikan tiga perahu yang menyertai Kapal Marruyana ke pelabuhan dimana mereka bertolak.

Ia juga menambahkan, chenel Israel 2 melaporkan, tentara Zionis tengah bersiap mengepung Freedeom Flotilla 3 ketika akan mendekati pantai Gaza.

Sementara itu di Gaza tengah bersiap untuk menyambut kedatangan armada freedom Flotilla yang menurut jadwal akan tiba hari ini (Senin, 29/6/2015). Semua berharap para tamu tersebut sampai dengan aman ke Gaza tanpa menemui hambatan. Mudah-mudahan mereka bisa sukses tiba di Gaza demi untuk membebaskan wilayah tersebut dari kepungan blockade yang sudah berlangsung sejak delapan tahun lalu.

Freedom Flotilla terdiri dari 5 kapal. Kesemuanya telah bertolak dari sejumlah pelabuhan, di antaranya pelabuhan pulau Keryat di Yunani. Kesemuanya bertujuan membebaskan Gaza dari blockade internasional dan membuka mata dunia atas kewajiban mereka selama ini.

Ikut dalam ekspedisi freedom flotilla yang digagas lembaga internasional anti blockade Gaza terdiri dari sejumlah politikus, cendikiawan, seniman, olahragawan dari sejumlah Negara di dunia. Yang terdepan adalah mantan presiden Tunisia, Muhammad Munshif Marzuqi dan Aktivis Australia, Robert Martin, Pendeta Spanyol Teriza Forkades dan Relawan Kanada Robert Lovleis.

Selama Sembilan tahun lalu, pernah terjadi beberapa upaya untuk menembus blockade Gaza, baik perorangan maupun kelompok. Lima perahu berhasil merapat ke Gaza dan lima perahu lagi berhasil digagalkan Zionis.

Kapal-kapal yang berhasil dicegat Zionis Israel:

– Kapal “Libya Marwah”: 1 Desember 2008, yang membawa tiga ribu ton makanan dan bantuan farmasi.
– Kapal “Haflah” pada 7  Desember 2008, yang membawa bantuan medis dan bantuan untuk Palestina 1948 (yang berada dalam jajahan Israel).
– Kapal “Martabat” pada  14 Januari 2009, yang membawa misi bebaskan Gaza, begerak dari pelabuhan Siprus Yunani.
– Kapal “saudara Lebanon” pada 2 Februari 2009 yang membawa bantuan dari masyarakat Lebanon.
– Kapal “Spirit of Humanity” pada bulan 30 Juni 2009, bergerak untuk “bebaskan Gaza” membawa bantuan, serta sejumlah aktivis dan Eropa dan Arab.

Kapal-kapal berhasil mencapai Gaza, mereka adalah:
– HMCS “kebebasan” dan “Free Gaza” tiba di Gaza pada tanggal 23 Agustus 2008, yang membawa lebih dari 40 relawan solidaritas dari 17 negara.
– Kapal “Harapan” tiba di Gaza pada 29 Oktober 2008, membawa 27 aktivis Arab, Eropa dan Turki.
– Kapal “Martabat” tiba di Gaza, pada 8 November 2008, membawa 22 aktivis, termasuk menteri Kerjasama Internasional Inggris, pemerintah Tony Blair dari Clare Short.
– Kapal “Negara martabat” tiba di Gaza 20 Desember 2008, membawa sejumlah tokoh yang mewakili organisasi amal negara masing-masing, membawa bantuan obat-obatan dan perlengkapan medis.

Freedom Flotilla 1

Enam organisasi internasinal non pemerintah NGO dipimpin IHH Tukri memutuskan untuk mengembangkan upaya membebaskan Gaza dari blockade laut dengan mengirimkan bantuan, tidak hanya dengan kapal kecil, tapi menggunakan kapal besar. Kapal ini kemudian diberi nama, Mavi Marmara yang mengangkut 750 aktivis dari 37 negara.

Namun pada 31 Mei 2010, saat berlayar menuju Gaza, di perairan internasional mereka dibajak tentara Zionis dan diserang dengan peluru tajam, gas air mata dan yang lainya, hingga 10 aktivis Turki meninggal syahid, sementara 50 lainya luka-luka. Kejadian ini mengakibatkan hubungan Zionis-Turki memburuk dan juga kecaman internasional, hingga akhirnya melemahkan blokadenya pada Gaza.

Flotilla 2

Setelah gagalnya Flotilla 1, kembali sejumlah Negara menggagas pengiriman bantuan untuk Gaza pada tahun 2011 melalui kapal ekspedisi Flotilla 2. Sedianya kapal freedom 2 ini berlayar dari pelabuhan Keryat di Yunani, namun karena tekanan Israel yang begitu kuat, hingga Flotilla ini juga gagal berlabuh di Gaza.

Padahal  Flotilla 2 telah menyiapkan 4 kapal besar yang akan menampung 60 aktivis dari 22 negara, terutama Norwegia, Yunani, Irlandia dan sejumkah Negara Arab lainya. – Sumber dari Infopalestina.com

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here