
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, mengungsi karena banjir yang terjadi pada Rabu tengah malam.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan telah mencatat bahwa sekitar 100 KK di wilayah tersebut telah dievakuasi ke tempat aman.
Menurut laporan dari BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, warga telah dievakuasi dari tempat tinggal mereka dan beberapa di antaranya berada di berbagai pos pengungsian yang tersebar, termasuk di rumah kerabat dan gedung serbaguna.
Pantauan BPBD menunjukkan bahwa air kembali naik pada Selasa malam, menyebabkan pemukiman warga terendam. Sementara itu, di Nagari Air Hitam, air cenderung surut, meskipun beberapa titik masih tergenang air.
“Tindakan darurat telah dilakukan, termasuk evakuasi warga dan pendistribusian bantuan kepada warga terdampak,” katanya, Rabu (16/8/2023).
BPBD Kabupaten Pesisir Selatan bersama dengan Camat Silaut dan forum pimpinan di tingkat kecamatan memberikan bantuan berupa makanan, selimut, dan matras.
Abdul menyatakan, petugas BPBD masih terus melakukan pendataan terhadap warga yang mengungsi ke tempat aman.
“Di samping itu, petugas BPBD masih terus melakukan pendataan warga yang mengungsi ke tempat aman,” katanya.
Tim kaji cepat BPBD telah mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga terdampak, seperti makanan siap saji, air bersih, dan pelayanan kesehatan.
Wilayah desa yang terdampak banjir mencakup Nagari Sanbungo, Air Hitam, Sungai Seri, Sungai Pulai, Silaut, Lubuk Bunta, Pasir Binjai, Sungai Sirah, Durian Seribu, dan Talang Binja. Wilayah ini terletak sekitar 170 km dari kota utama, Painan, dan tinggi muka air banjir mencapai 175 cm.
Sebanyak 713 KK atau 2.432 jiwa tersebar di desa-desa tersebut terdampak banjir. Meskipun saat ini musim kemarau, BNPB tetap mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk tetap waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi basah.
“Salah satu langkah kesiapsiagaan yang disarankan adalah menyiapkan tempat evakuasi berbasis komunitas dan persediaan logistik dalam menghadapi kemungkinan banjir yang memerlukan pengungsian masyarakat,” tuturnya.
Sumber: Antara




