12 Ribu Korban Banjir di Papua Terancam Kelaparan dan Malaria

Ilustrasi warga Papua/ IST

NABIRE—Banjir di sekitar danau Paniai, Papua selama tiga bulan terakhir belum juga surut. Banjir ini merusak tanaman dan ternak, dan membuat lebih dari 12 ribu orang terancam kelaparan. Demikian keterangan sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat Kabupaten Paniai pada Selasa (29/8/2017).

Selain itu, genangan air yang menutupi rawa, jalan, dan rumah-rumah sekitar danau juga menjadi potensi sumber berbagai macam penyakit seperti malaria tropika, ISPA atau gangguan saluran pernafasan anak, dan juga campak, kata sumber-sumber yang sama di ibu kota Paniai, Enarotali.

“Kami tidak bisa membantu para korban selain mendata. Kami tidak punya dana,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Paniai, Nahum Tebai, seperti dilansir Antara.

“Para korban ini berasal dari dua ratusan desa yang tersebar di pinggir Danau Paniai,” kata dia.

Sebagian masyarakat Paniai memang memilih untuk tinggal di bibir danau yang sudah terkenal menjadi objek wisata tersebut. Di tanah rendah itu mereka bercocok tanam ubi atau berternak sapi, dan menggantungkan sepenuhnya pasokan bahan makanan dari ladang tersebut.

Namun setiap kali musim hujan datang, ditambah sampah yang menyumbat gua yang berfungsi mengalirkan kelebihan air dari danau, selalu membuat air meluap menggenangi jalanan dan bangunan. Menurut pengakuan beberapa warga yang diwawancara oleh Antara di Enarotali, banjir tahun ini merupakan yang terbesar sepanjang ingatan mereka.

Letak Paniai yang masih relatif terpencil juga menyulitkan penyaluran bantuan dari luar daerah. Satu-satunya akses darat untuk ke kabupaten ini adalah dari daerah pesisir Nabire dengan jarak tempuh sekitar delapan jam. Selain itu, tidak ada angkutan umum yang menghubungkan keduanya–hanya ada mobil sewaan seharga 450.000 rupiah sekali jalan untuk satu orang. Antara

Advertisement