Tempat Jin Buang Anak

Sebelum dibenahi Gubernur Ali Sadikin Ancol juga terkenal sebagai tempat jin buang anak.

PEPATAH lama mengatakan, sekali tepuk dua lalat. Tapi jika ini diterapkan pada Edy Mulyadi wartawan senior yang sekaligus eks Sekjen GNPF MUI, justru dia yang jadi lalat kena tepuk dua kali. Gara-gara ucapannya “Kalimantan tempat jin buang anak” dia kena semprot orang Kalimantan. Bahkan kalangan jin juga marah padanya, sejak kapan jin buang anak ke Kalimantan? Sok tahu saja ini Edy Mulyadi, kader PKS yang sudah tak diakui lagi oleh partai induknya.

Jin adalah makhluk Allah Swt yang tidak kasat mata seperti halnya syaitan. Dalam Qur’an surat ke 72 juga dinamakan Al Jinn terdiri dari 28 ayat. Jin tidak memakan tempat, dan juga beranak pinak sebagimana manusia. Bedanya dia tak dibatasi waktu kehidupannya sebagaimana manusia. Jika usia manusia terbatas, jin tetap hidup sampai hari kiamat nanti. Jin termasuk makhluk Allah Swt yang taat pada pencipta-Nya, sehingga dikenal ada jin Islam.

Banyak orang menceritakan, ada makhluk Allah tinggi besar wudlu di masjid dengan byarr-byurrr….. menghabiskan banyak air. Ada pula cerita, jin suka salat bermakmum pada orang yang baru pulang Haji. Maka jika ada orang salat sendirian kemudian berasa ada yang makmum di belakang tiba-tiba menghilang setelah salam, jangan-jangan dia sosok jin yang menampakkan diri.

Kata M. Jahid (Sofiyan M Zahid), pendongeng Betawi tahun 1970-an, Jin itu juga memiliki nafsu terhadap lawan jenisnya. Untung saja dia tak tertarik pada umat manusia. Jika jin doyan pada makhluk manusia, “Manusia tak  kebagian, karena perempuan cantiknya dikawini para jin.” Kata Jaid.

Menarik adalah tulisan Qadi Badruddin bin Abdullah as-Syibly dalam kitabnya yang berjudul ‘Ajaib wa Gharaib al-Jin. Melalui kitabnya dia menyatakan bahwa aktivitas jin, pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur, dan beranak-pinak. Bedanya jika manusia makan dan minum pakai tangan kanan, jin diceritakan  menggunakan tangan kiri. Rupanya mereka kidal secara alami.

Nah, belum lama ini Edy Mulyadi sang wartawan senior, bikin tayangan Youtube yang berkonten menolak kebijakan pemerintah soal pemindahan IKN ke Kaltim. Dengan penuh emosi dan berapi-api dia habis memaki-maki Prabowo, Menhannya Presiden Jokowi, yang dikatakannya diam saja ketika Jakarta akan digantikan Nusantara di Kaltim. “Kenapa ibukota negara dipindah ke Kalimantan tempatnya jin membuang anak.” Kata Edy Mulyadi bersemangat dan meledak-ledak.

Menhan Prabowo-nya sih diam saja dikata-katain demikian. Tapi orang Kalimantan termasuk para tokoh etnis Dayak sangat tersinggung, karena  wilayahnya disebut sebagai tempat jin buang anak. Lewat video pula mereka mendesak Edy Mulyadi datang ke Kalimantan untuk minta maaf. Memang Edy Mulyadi sudah minta maaf dengan segala klarifikasinya, tapi itu tidak cukup. Dia harus datang ke Kaltim untuk menjalani upacara adat.

Dalam klarifikasinya dia menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada niatan melecehkan orang Kalimantan. Istilah “tempat jin buang anak” sekedar untuk menggambarkan bahwa tempatnya sangat jauh. Tapi Edy Mulyadi lupa bahwa hal jelek dikaitkan dengan suatu daerah bisa bermakna SARA. Sebagai orang yang ngakunya wartawan senior, masak soal batasan SARA sampai lupa.

Yang tersinggung bukan saja orang Kalimantan lho. Jin juga tersinggung ketika distigma sebagai tukang buang anaknya. Memangnya Edy Mulyadi tahu bawa masyarakat jin juga ada yang pacaran, lalu hamil di luar nikah, kemudian cowoknya kabur. Maka ketika lahir bayinya pun dibuang di tempat jauh? Rupanya Edy Mulyadi berpikir dengan standar kehidupan  manusia pada umumnya.

Buat orang Jakarta yang juga tempat kelahiran Edy Mulyadi, terkenal sebagai tempat jin buang anak justru Ancol sebelum dibenahi Gubernur Ali Sadikin (1966-1977). Waktu itu benar-benar daerah sepi. Tapi setelah disulap jadi Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) oleh PT. Pembangunan Jaya, pesisir laut di Jakarta Utara itu menjadi daerah wisata yang selalu dikunjungi warga kota dan daerah. Dan ketika gaya pacaran anak muda semakin bebas, pemeo “tempat jin buang anak” berubah jadi tempat jin bikin anak. Jin-jinnya berkepala hitam, pakai celana jin Cihampelas Bandung. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

Advertisement