1,5 Juta Warga Turki Kehilangan Tempat Tinggal akibat Gempa

Seorang anak berada di atas puing-puing banguanan setelah gempa mematikan dengan magnitudo 7,8 di Kahramanmaras, Turki, (8/2/2023). (Foto: ANTARA/REUTERS/Suhaib Salem)

JENEWA – Seorang pejabat Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP), Selasa (21/2/2023), memperkirakan bahwa 1,5 juta warga di Turki kehilangan tempat tinggal mereka akibat gempa yang terjadi belum lama. Dan, sekitar 500.000 unit tempat tinggal di negara itu harus dibangun kembali.

Perwakilan residen Turki dari UNDP, Louisa Vinton, menyampaikan dalam konferensi pers daring bahwa pemerintah negara itu telah menginspeksi sekitar 70 persen bangunan yang terdampak gempa.

Dari inspeksi tersebut, 412.000 unit tempat tinggal di 118.000 bangunan telah runtuh atau harus dibongkar sepenuhnya.

Dia mengatakan bahwa jumlah puing yang harus dibersihkan sangat banyak. UNDP berupaya untuk meminimalisasi ancaman limbah berbahaya.

Menurut Vinton, dua pekan setelah rangkaian gempa pertama, ada alasan mengapa gempa itu disebut sebagai bencana alam terbesar dalam sejarah Turki.

Dia menuturkan bahwa pemerintah telah mengakhiri tahap pencarian dan penyelamatan korban untuk rangkaian gempa pertama pada Minggu (19/2/2023). Penyintas terakhir dievakuasi dari reruntuhan hampir 300 jam pascagempa.

Catherine Smallwood, pejabat kedaruratan senior untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan dalam konferensi pers pada Selasa bahwa penanggulangan risiko penyakit menular saat ini menjadi sangat penting.

Mengingat sejumlah pengungsi hidup dalam kondisi berdekatan satu sama lain, terkadang dengan akses ke toilet dan air bersih yang tidak memadai.

“Terdapat peningkatan risiko penyakit pernapasan, kolera, hepatitis A, dan campak,” katanya, dilansir dari Xinhua.

Dalam beberapa pekan terakhir, Provinsi Kahramanmaras di Turki selatan diguncang oleh serangkaian gempa bumi yang magnitudonya berkisar antara 6,4 hingga 7,7.

Rentetan gempa itu juga mengguncang beberapa wilayah di Suriah. Secara keseluruhan, diperkirakan 47.000 orang tewas di kedua negara tersebut, menurut sejumlah laporan media.

Sumber: Antara

Advertisement