Pemimpin Eropa Kompak Hadapi Rusia

Presiden UKraina Volodymyr Zelenskyy (tengah kanan) sedang berbincang dengan kepala negara lainnya dalam KTT Komunitas Politik Eropa (EPC) ke-2 di Moldova, 1 Juni. 42 kepala negara di Eropa hadir, kecuali Rusia dan Belarusia yang dikucilkan akibat agresi ke Ukraina.

EMPAT puluh tujuh Kepala negara dan kepala pemerintahan di Eropa kecuali Rusia dan Belarusia berkumpul di kota Bulboaca, Moldovia guna menghadiri KTT ke-2 Komunitas Politik Eropa (EPC) .

Perang di Ukraina sejak invasi Rusia ke negara tetangganya itu pada 24 Feb. 2022 menjadi fokus utama bahasan dalam KTT ke-2 EPC di Bulbaca, 35 Km dari ibukota Moldovia, Chishinau yang dibuka, Kamis (1/6).

Pembentukan EPC digagas oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Okt. 2022 sebagai forum untuk mendapatkan cara pandang lain terkait Eropa selain dari Aliansi Pertahanan Atlatik Utara (NATO) maupun dari persepsi perekonomian Uni Eropa (UE).

Di ajang EPC, negara-negara Eropa yang menjadi anggota NATO dan  UE atau bukan juga dilibatkan untuk menyampaikan visi mereka terkait Eropa.

Macron mengemukakan, anggota EPC harus menemukan cara untuk menawarkan jaminan keamanan nyata dan kredibel bagi Ukraina yang sampai hari ini menjadi bulan-bulanan serangan pasukan Rusia.

Sedangkan Kepala Kebijakan LN UE Josep Borell menyindir pemimpin Rusia yang absen, bukan karena mereka tidak mengundangnya, tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri yang mengucilkan diri dari komunitas EPC melalui invasi ke Ukraina.

Bagi tuan rumah,  Moldova, seperti disampaikan Presiden Maia Sahdu, KTT EPC yang digelar di Bulboaca  menunjukkan keseriusan negaranya memenuhi seluruh standar yang dibutuhkan untuk bergabung ke UE. Moldova dan Ukraina saat ini berstatus calon anggota UE.

Selain membahas isu Ukraina, KTT ke-2 EPC juga mengangkat isu sengketa antara Armenia dan Azerbaizan pada 2020 yang menewaskan sekitar 6.000 orang dan konflik antara Serbia dan Kosovo yang masih berlangsung saat ini. KTT ke-1 EPC digelar di Praha, Ceko, 26 Okober 2022.

Bulbuoaca  merupakan areal lahan anggur yang hanya berjarak 20 Km dari perbatasan Ukraina, sementara wilayah Transnistria di bagian timur Moldova yang juga berada di sepanjang perbatasan Ukraina diduduki oleh pasukan Rusia.

Transnitria atau Transdniestria atau Trans-Dniester sendiri yang terletak antara Moldova dan Ukraina, dengan luas 4.163 Km2 dan penduduk 470.000 -an  mengklaim sebagai negara merdeka, didukung Rusia untuk melepaskan diri dari Moldova.

Selain Ukraina yang sedang berperang melawan Rusia, negara-negara kecil di Eropa juga bisa menjadi ajang konflik jika diprovokasi atau menjadi proksi kekuatan raksasa kawasan mau pun global.

 

 

Advertisement