Kelompok Garis Keras Iran Ingin Perang Lawan AS berlanjut.

Iran terbelah. Kelompok garis keras terutama ara perwira militer menghendaki terus perang lawan AS, sementara Presiden Mahmood Pezeshkian mendorong dicapainya kesepakatan damai AS dan Iran.

JAKARTA – (KBNEWS) – 27/10 – KELOMPOK garis keras Iran makin terang-terangan  menentang Presiden Masoud Pezeshkian dan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS).

Paydari Front, faksi politik garis keras Iran, seperti dilansir oleh Al Jazeera (27/10) meminta parlemen dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran memulai proses untuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) secepat mungkin.

Pernyataan kali ini menjadi pesan paling tegas dari kelompok garis keras Iran terhadap Washington.

Konflik militer masif Iran melawan koalisi AS dan Israel diawali dengan seragan terhadap Iran pada 28 Februari dengan alasan Tehran berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Di hari pertama bombardemen dari darat, laut dan udara oleh AS dan Israel, Iran kehilangan Presiden Ali Khamenei dan sejumlah petiggi militer dan sipil, sedangkan puteranya, Mojtaba Khamenei terluka dan sampai hari ini belum mumpul di media.

Teheran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah aset AS di negara-negara Teluk. Iran bahkan menganggu jalur perairan strategis, Selat Hormuz.

Dari sisi Iran, perang juga  menimbulkan perpecahan internal dan perebutan pengaruh antara kelompok moderat dan kelompok garis keras.

Kubu moderat dan sentris, termasuk Presiden Pezeshkian, umumnya mendukung negosiasi dengan AS. Sebaliknya, Paydari Front menolak langkah tersebut.

Kubu moderat menginginkan perang segera berakhir untuk menyelamatkan perekonomian Iran yang semakin memburuk.

Cuma pahami bahasa kekuatan

Sementara itu, kelompok garis keras meyakini Washington hanya memahami bahasa kekuatan. Mereka berpandangan perang harus terus berlanjut hingga AS menyerah pada tuntutan Iran.

Perseteruan tersebut terlihat di sejumlah ruang publik di kota-kota besar Iran. Selama sekitar 200 hari terakhir, pendukung kelompok garis keras menggelar aksi pada malam hari.

Awalnya, aksi tersebut menjadi wadah untuk menunjukkan dukungan kepada pemerintah dan memprotes perang AS terhadap Iran.

Namun, aksi kemudian berkembang menjadi demonstrasi politik yang terorganisasi. Para aktivis secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap upaya kubu moderat mengakhiri perang melalui jalur diplomasi.

Slogan yang mereka serukan antara lain, “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan diri—perjuangan melawan Amerika” dan “Bernegosiasi dengan musuh adalah pengkhianatan terhadap tanah air”.

Kelompok garis keras juga memprotes kepulangan Pezeshkian ke Tehran dari SU PBB pada September. Saat itu, Pezeshkian mengecam perang AS, tetapi juga menekankan pentingnya diplomasi.

Aksi tersebut dipandang sebagai upaya menyampaikan pesan antinegosiasi secara langsung kepada Pezeshkian.

Negosiasi dengan AS Mustahil

Sementara itu Amirhossein Sabeti, anggota parlemen yang berafiliasi dengan Paydari Front, mengatakan negosiasi dengan AS tidak akan dimulai selama Washington belum mengakhiri pengepungan terhadap pelabuhan-pelabuhan selatan Iran atau mencabut sanksi.

Menurut Sabeti, tujuan AS untuk menghancurkan Iran tidak berubah dan Washington hanya menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan mendadak lainnya. Ia menilai pihak yang mengira negosiasi dapat mencegah perang atau membuat AS mencabut sanksi melalui perundingan telah keliru memahami dunia.

“Bahasa yang dipahami dunia hanyalah bahasa kekuatan,” kata Sabeti.

Faksi politik tempat Sabeti bernaung juga telah mengajukan mosi pemakzulan terhadap Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi setelah kunjungannya ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

Araghchi dianggap lebih mendukung negosiasi dengan AS yang dinilai bertentangan dengan mandat Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Parlemen Iran juga tengah mempertimbangkan undang-undang yang akan mengkriminalisasi wawancara dengan media asing.

Pezeshkian tetap dorong diplomasi Lihat Foto Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendorong diplomasi untuk mengakhiri perang di negaranya.

Meski tekanan dari kelompok garis keras meningkat, kubu yang mendukung pemerintah tetap mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

AS tak berambisi lagi gulingkan rezim Iran

Davood Heshmati, jurnalis yang dianggap dekat dengan Pezeshkian, mengatakan terdapat tanda-tanda bahwa pasukan AS telah meninggalkan ambisi besar untuk menggulingkan pemerintah Iran dan beralih pada tujuan yang lebih terbatas.

Menurut dia, berbagai cara dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk perang.

Namun, untuk mencegah perang, semua alternatif terhadap tindakan militer harus terlebih dahulu dicoba.

“Negosiasi dan kesepakatan diplomatik termasuk di antara alternatif tersebut dan harus selalu didahulukan daripada perang,” kata Heshmati kepada Al Jazeera. Heshmati mengatakan bahwa pihak yang menolak pembukaan kembali Selat Hormuz adalah mereka yang meyakini perang tidak boleh berakhir.

Menurut dia, dari perspektif kubu antinegosiasi, perang antara Iran dan AS tidak memiliki akhir.

Namun, kelompok tersebut tidak menjelaskan hasil seperti apa yang mereka harapkan dari perang tersebut.

Ia menilai kelompok garis keras tampaknya percaya bahwa setelah beberapa putaran pertempuran, AS akan begitu saja meninggalkan konflik.

Heshmati mengatakan perang pada akhirnya membutuhkan kesepahaman dengan AS yang menghormati integritas teritorial Iran.

Kelompok yang mendukung negosiasi, lanjutnya, meyakini keseimbangan kekuatan tidak selalu harus dicapai melalui perang.

Namun, ketidakpercayaan terhadap AS dinilai dapat dipahami mengingat berbagai hal yang terjadi dalam jalur diplomatik.

Kelompok garis keras bukan penentu akhir Analis politik Negara Mortazavi menilai kelompok garis keras merupakan kekuatan domestik yang kuat di Iran, tetapi pengaruh mereka terhadap kebijakan luar negeri saat ini masih terbatas.

Mortazavi mengatakan kelompok garis keras dapat terus menghadapi para perunding, mengancam pemakzulan pihak-pihak yang mengusulkan pembicaraan dengan AS, serta berupaya menghambat diplomasi.

Namun, mereka tidak dapat mencegah kesepakatan jika kesepakatan tersebut mendapat dukungan dari pemegang kekuasaan utama Iran, termasuk Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Situasi masih dinamis, dan belum  tampak pendekatan sigifikan, baik dari sisi AS maupun Iran bahwa keduanya memilih berunding untuk mengakiri perang (al Jazeera /kompas.com/ns)(AL Jazeera/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here