AL China Makin Perkasa

China sedang merampungkan pembuatan kapal induknya yang ketiga, Fujian berbobot 80.000 ton yang dapat mengangkut 55 unit pesawat tempur J-15 Shenyang dan ragam wahana terbang lainnya, diharapkan bisa beroperasi pada 2025.

CHINA terus membangun kekuatan angkatan lautnya, bahkan paling tidak, dari jumlah kapal perang yang dimiliki, sudah mengungguli Amerika Serikat dan kini sedang membangun kapal induk ketiga.

Menurut catatan Global Firepower (GFP), AS sebagai negara dengan kekuatan AL terbesar dunia, a.l. mengoperasikan 11 kapal induk, 68 kapal selam termasuk bertenaga nuklir, 22 penjelajah, 70 perusak, 71 korvet, 8 penyapu ranjau dan 33 serbu amfibi.

Sementara China a.l memiliki 524 kapal perang terdiri dari tiga kapal induk, 72 kapal selam, ada yang bertenaga nuklir, 48 perusak, 71 korvet, 44 fregat dan 11 kapal serbu amfibi.

AL China baru-baru ini merilis kapal induk ketiga yang sedang dibangun, Fujian berbobot 80.000 ton, panjang 300 m, lebar 39,5 m, digerakkan oleh turbin uap dan delapan boiler bertenaga 220.000 HP.

Berbeda dengan dua kapal induk sebelumnya, Liaoning dan Shandong, Fujian dengan awak sekitar 2.000 orang dan kecepatan  29 knot, tidak lagi menggunakan geladak lengkung untuk meluncurkan pesawat, tetapi sistem ketapel (electromagnetic aircraft launch system-EMALS) yang lebih canggih, menyamai kapal-kaal induk AS.

Dengan sistem EMALS, Fujian mampu mengangkut 55 unit pesawat tempur Shenjang J-15 juga buatannya sendiri dan wahana terbang lainya seperti pesawat-pesawat  nirawak (drone).

Menurut laporan SIPRI 2023, China dengan anggaran belanja militer 292 miliar dollars AS (sekitar Rp 4.380 triliun) menempat urutan ke-2 global setelah AS sebesar 877 miliar dollar AS (Rp13.350 triliun).

China termasuk segelintir  negara yang mengoperasikan kapal induk selain AS, Rusia, Perancis, Inggeris, Spanyol, Itali, dan tiga negara di Asia yakni Jepang (kapal induk pengangkut helikopter), India dan Thailand.

Selain membangun kapal-kapal jenis lainnya seperti penjelajah, perusak, korvet dan kapal selam dan sistem satelit, China juga mengembangkan rudal hipersonik seri Dong Feng  yang juga digunakan untuk mengawal kapal induk serta pesawat-pesawat tempur siluman generasi ke-5.

Bagi China, kekuatan laut kelas dunia sangat strategis untuk mempertahankan hegemoninya terutama di Laut China Selatan (LCS) yang dipersengketakan dengan Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina dan Vietnam.

China mengklaim 90 persen perairan LCS seluas dua juta Km2 yang masuk dalam sembilan garis putus-putus (nine-dashline) yang disebut sebagai wilayah operasi nelayan tradisionalnya walau klaim tersebut bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut PBB.

AL yang tangguh diperlukan bagi negara maritim, apalagi seperti NKRI yang terdiri dari 13.700 pulau untuk menjaga potensi ancaman kedaulatan dan juga pencurian kekayaan laut.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here