
TIDAK cukup dilindungi sistem pertahanan udara (hanud) Iron Dome (Kubah Baja), Amerika Serikat, konco utama Israel memperkokoh negara Yahudi itu dengan Sistem Terminal Area Pertahanan Altitud Tinggi (THAAD).
Israel menggunakan sistem hanud yang rumit dan berlapis-lapis untuk melawan ribuan roket yang diluncurkan milisi Hamas sejak 2006, juga rudal dan drone serang Hizbullah, Houthi dan Iran baru-baru ini.
Iron Dome , perisai rudal Israel yang paling terkenal, dirancang untuk mencegat roket jarak pendek, serta peluru dan mortir, pada jarak dari empat km sampai 70 km dari peluncur rudal.
Harga satu set Iron Dome juga tidak tanggung-tanggung, tiga miliar dolar AS (sekitar), (Rp47 triliun) belum termasuk rudal pencegatnya yang sebuah berharga sekitar 50.000 dollar AS (Rp785 juta)
Selain Iron Dome, ada David Slings untuk menangkal ancaman serangan udara berupa roket, rudal, drone berjarak sampai 300 km, ditambah sistem rudal anti rudal Arrrow untuk menghadang rudal jarak jauh (sampai 2.400 km).
Israel menggunakan seluruh sistem pertahanan misilnya untuk melawan serangan terbaru Iran yakni sekitar seratus rudal pada April dan 180 rudal pada Agustus lalu yang diluncurkan dari jarak 2.000-an km dari negeri itu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim 90 persen proyektilnya mengenai sasaran, sebaliknya Israel mengaku, sebagian besar roket, rudal dan drone musuh berhasil dicegat sistem hanudnya.
Iron Dome telah menjadi sistem hanud yang paling teruji dalam pertempuran di dunia, karena banyaknya rudal yang ditembakkan ke Israel dalam beberapa tahun terakhir oleh Hamas dan kelompok militan lain dari Gaza serta oleh Hizbullah dari Lebanon.
Diperkirakan ada sepuluh baterai Iron Dome yang ditempatkan di Israel. Setiap baterai terdiri dari tiga atau empat peluncur, yang masing-masing berisi 20 rudal pencegat.
Iron Dome mendeteksi roket yang datang dengan radar dan menghitung lokasi jatuhnya. Rudal dilincurkan jika roket atau rudal lawan bakal jatuh di daerah berpenduduk dan dibiarkan jika estimasi jatuhnya di lahan kosong.
IDF sebelumnya mengklaim bahwa Iron Dome menghancurkan 90 persen roket yang menjadi targetnya. Rudal “Tamir”-nya diperkirakan berharga sekitar $50.000 masing-masing.
Cegat ribuan roket
Iron Dome dikembangkan setelah “Perang Musim Panas” tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah bermarkas di Lebanon yang meluncurkan 4.000-an roket ke Israel, mengakibatkan kerusakan besar dan menewaskan puluhan warga.
Dirancang oleh perusahaan Israel Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries – dengan beberapa dukungan AS – Iron Dome dikerahkan pada 2011.
Sementara David’s Sling atau “Tongkat Ajaib” dalam bahasa Ibrani yang dapat mencegat rudal hingga jarak 300 km, dikembangkan bersama oleh Rafael Advanced Defense Systems dari Israel dan Raytheon dari AS dan mulai beroperasi 2017.
Rudal Stunner yang digunakan dalam sistem David Sling’s dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik jarak pendek, jarak menengah, dan jarak jauh di ketinggian rendah.
Sementara sistem Arrow 2 dirancang untuk menghancurkan rudal balistik jarak pendek dan jarak menengah saat rudal tersebut terbang melalui atmosfer atas, sekitar 50 km di atas Bumi.
Pengerjaan sistem ini dimulai setelah Perang Teluk Pertama pada tahun 1991, ketika Irak menembakkan puluhan rudal Scud buatan Soviet ke Israel. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 2000.
Sistem ini dapat mendeteksi rudal dari jarak 500 km. Sistem ini mencegat rudal pada jarak yang relatif dekat – hingga 100 km dari lokasi peluncuran. Rudalnya melaju sembilan kali kecepatan suara, dan dapat menembak hingga 14 target sekaligus.
Arrow 2 dilaporkan digunakan dalam pertempuran untuk pertama kalinya pada tahun 2017, untuk menembak jatuh rudal permukaan-ke-udara Suriah.
Sedangkan Arrow 3 pertama kali digunakan pada tahun 2017, dan dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak jauh saat rudal
tersebut bergerak di puncak busurnya, di luar atmosfer Bumi. Jangkauannya adalah 2.400 km.
Pertama kali digunakan dalam pertempuran pada tahun 2023, untuk mencegat rudal balistik yang ditembakkan pemberontak Houthi di Yaman ke kota pesisir Eilat, di Israel selatan.
Sistem ini dikembangkan oleh perusahaan milik negara Israel Aerospace Industries, dengan bantuan perusahaan AS Boeing.
THAAD
AS dilaporkan telah memerintahkan pengerahan sistem pertahanan udara THAAD ke Israel bersama sejumlah personel militer untuk membantu mengoperasikannya.
Humas Pentagon, Pet Ryder, saat menyampaikan pengumuman itu pada Minggu, 13 Oktober 2024, mengatakan ini untuk pertama kalinya Washington menurunkan tentara AS ke wilayah darat Israel sejak perang Gaza meletup sejak 7 Oktober tahun lalu.
THAAD atau Terminal High Altitude Area Defense adalah sistem anti-rudal balistik bergerak yang dirancang untuk mendeteksi dan mencegat rudal-rudal balistik yang ditembakkan ke wilayah yang dilindunginya .
Sistem THAAD berharga 1,1 miliar dolar satu set (sekitar Rp16,4 triliun) bisa meluncurkan proyektil dengan kecepatan delapan kali kecepatan suara untuk menyongsong dan menghancurkan rudal lawan dengan tumbukan energi kinetiknya.
AS mengerahkan baterai THAAD ke Arab Saudi setelah meletus Perang Gaza dan mengirimkannya ke Israel sebagai sarana latihan militer pada 2019. Korea Selatan tercatat sebagai negara di luar AS yang mengoperasikan THAAD selain Israel dan Arab Saudi dan sejumlah anggota NATO.
Berbeda dengan sistem pencegat rudal umumnya, THAAD dengan panjang 6,2 m, diameter 0,4 m dan berat 662 kg diklaim mampu mencegat target di dalam atau di luar atmosfir.
Dengan keunggulan radar Army Navy atau Transpotable Radar Surveilance (AN/TPY-2), menurut pembuatnya, THAAD mampu melacak target pada ketinggian 870 hingga 3.000 km.
THAAD yang mengoperasikan sistem hanud berlapis digunakan untuk melindungi situs strategis atau taktis seperti pangkalan udara atau penduduk di padat area, serta rudal jarak pendek sampai sedang dengan metode “hit to kill” atau menubruknya dengan energi kinetic, bukan dengan hulu ledak.
Perang hanya menghambur-hamburkan uang karena pihak yang berseteru harus berlomba-lomba menemukan teknologi baru untuk mengalahkan lawannya.
Buktinya, secanggih apa pun sistem Iron Dome, diguyur ribuan rudal atau roket Hamas, Hizbullah, Houthi dan juga rudal-rudal jelajah dan drone Iran, ada juga yang tembus, bahkan jatuh di bekas ibu kota negara Yahudi itu Tel Aviv. (Anadolu/BBC/ns)
.




