20 Tahun Menjual Kacang Rebus dan Jagung, Pak Warji Kangen Layar Tancap

Ilustrasi/media.vica.co.id

JAKARTA – Bertahun-tahun hidup serba kekurangan tentu tidak diinginkan oleh semua orang. Namun, kondisi seperti ini masih bisa kita jumpai di sekitar kita.

Diterangi hanya dengan lampu petromax,  Warji setia menunggu pembeli dagangannya. Pria yang kini sudah berumur 40-an itu sudah sejak sore menjajakan kacang rebus. Namun, baru beberapa orang saja yang membeli dagangannya.

“Sekarang sedikit yang beli, tidak seperti dahulu. Dahulu kan tahun 90-an banyak film-film diputar di pasar-pasar dan lapangan. Jadi banyak yang beli,” ucapnya.

Pak Warji, pria kelahiran Pemalang ini mengaku sudah 20 tahun berjualan kacang rebus dan jagung. Hal tersebut dilakoninya sejak merantau ke Jakarta.

“Saya merantau ke Jakarta tahun 1996. Dulu pengennya merantau ke Jakarta, ya, ingin dapat kerjaan yang bagus, tapi ya susah, tidak ada pilihan lagi. Akhirnya saya sama istri jualan kacang rebus dan jagung, terkadang saya gantian jualan sama istri saya”, tutur dia.

Pak Warji menjajakan dagangannya di depan Masjid Al-Akhyar Cipete Timur dari sore hingga tengah malam. Uang hasil jualannya sangat pas-pasan untuk keperluan sehari-hari, itupun masih dibagi untuk biaya sekolah anaknya di kampung halaman.

“Saya modal dagangan Rp500 ribu, kalau laku semua untung Rp200 ribu, tapi jarang habis. Biasanya habis 3-4 hari. Saya cukup-cukupkan untuk biaya sehari-hari dan biaya sekolah anak di kampung,” kata dia.

Warji hanyalah salah satu contoh pedagang yang ulet mencari nafkah, meskipun perbaikan ekonomi secara signifikan belum berpihak kepadanya. Tapi rasa syukur dan istiqamah tetap membekali jiwanya mengarungi kehidupan.

Advertisement