
JENEWA – Juru bicara badan pengungsi PBB (UNHCR), Jumat (12/5/2023), mengungkapkan bahwa sekitar 200.000 orang telah melarikan diri dari Sudan ke negara-negara tetangga sejak April lalu saat terjadi kekerasan. Banyak di antaranya adalah anak-anak yang mengalami malnutrisi yang tiba di Chad.
Sekitar 60.000 orang telah tiba di Chad melalui gurun, termasuk 30.000 orang dalam beberapa hari terakhir, seperti yang diungkapkan oleh Olga Sarrado dalam konferensi pers di Jenewa.
Lebih dari 80% dari para pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, dengan hampir 20% dari anak-anak tersebut menderita malnutrisi, kata juru bicara tersebut.
Olga menyerukan dukungan keuangan yang mendesak dari semua pihak yang terlibat untuk mencegah bencana kemanusiaan, mencegah ketegangan akibat sumber daya yang terbatas, dan membantu orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dengan cara yang tidak pantas.
“Dukungan dari sektor swasta lamban dibanding situasi darurat lainnya, meski krisis tersebut parah dan mendesak,” katanya, seraya mengatakan bahwa pengajuan baru diperkirakan setelah UNHCR menyerukan 445 juta dolar AS (sekitar Rp6,6 triliun) pekan lalu.
Pada konferensi yang sama, James Elder, juru bicara UNICEF untuk anak-anak, mengungkapkan bahwa sebuah pabrik di Khartoum, ibu kota Sudan, yang memproduksi makanan untuk anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, telah terbakar habis.
Elder menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan contoh paling suram dan nyata tentang bagaimana konflik dapat membahayakan nyawa anak-anak secara berbagai cara.
Namun, dia tidak mengetahui apakah pabrik yang memproduksi 60% dari karton makanan siap saji di Sudan itu sengaja dibakar atau tidak.
Sumber: Antara




