
SETELAH reda sejak berakhirnya era Perang Dingin antara Barat dan Timur pada awal dekade 1990-an, dua raksasa nuklir global: Amerika Serikat dan Rusia, kini keduanya mulai aktif lagi melakukan uji-uji coba senjata pemusnah massal itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin seperti dikutip AFP, Rabu (29/10) mengumumkan keberhasilan uji coba drone bawah air bertenaga nuklir yang juga mampu membawa hulu ledak nuklir.
Uji coba dilakukan hanya beberapa hari setelah Moskwa mengetes rudal nuklir hipersonik Burevestnik, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan agar Rusia menahan diri.
Putin menyampaikan hal itu saat berkunjung ke rumah sakit militer yang merawat tentara Rusia yang terluka dalam perang di Ukraina.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Putin engatakan bahwa uji coba terbaru melibatkan sistem bawah air tanpa awak bernama Poseidon yang diklaim digerakkan tenaga nuklir.
“Kemarin, uji coba lain dilakukan untuk sistem prospektif lainnya—perangkat bawah air tak berawak ‘Poseidon’, yang dilengkapi dengan unit tenaga nuklir,” ujar Putin.
Tidak bisa dicegat
Presiden Putin, pada bagian lain orasinya sesumbar, drone bawah laut buatan Rusia tak dapat dicegat oleh sistem pertahanan mana pun dan mampu melaju lebih cepat dari kapal selam konvensional.
“Tidak ada cara untuk mencegatnya,” klaim Putin seraya menambahkan, kemungkinan besar, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”
Poseidon, lanjut Putin, mampu menyelam lebih dari satu kilometer dan melaju hingga 70 knot tanpa terdeteksi.
Media pemerintah TASS mengutip sumber di industri militer Rusia menyebutkan, perangkat tersebut dapat membawa hulu ledak nuklir hingga dua megaton.
Sistem senjata bawah air ini kali pertama kali diuji pada 2018 bersamaan dengan Burevestnik, rudal dengan daya jelajah tak terbatas yang juga berkemampuan nuklir.
Uji coba rudal Burevestnik pada Minggu lalu menuai kritik dari Presiden AS Donald Trump, yang menilai latihan itu tidak tepat dan mendesak Putin menghentikan perang di Ukraina ketimbang memperbanyak pengujian senjata.
“Dia seharusnya mengakhiri perang (di Ukraina). Perang yang seharusnya berlangsung selama satu minggu kini akan segera memasuki tahun keempat,” kata Trump seraya menambahkan, itu yang seharusnya lakukan Putin, alih-alih menguji coba rudal.
Eskalasi ketegangan
Ketegangan antara kedua pemimpin meningkat setelah Trump membatalkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan Putin di Budapest.
Washington menilai Rusia tidak menunjukkan kemauan untuk berkompromi guna mengakhiri konflik, meski Trump telah mencoba membuka jalur diplomasi sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, upaya itu belum membuahkan hasil.
Ia bahkan menjatuhkan sanksi kepada dua perusahaan minyak terbesar Rusia.
Sementara itu, Presiden Trump pada, Kamis (30/10) mengumumkan, negaranya akan kembali melakukan uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir.
Trump mengatakan, keputusan itu diambil agar AS berada pada tingkat yang setara dengan Rusia dan China, sebagaimana dilansir Euronews.
“Sekarang adalah waktu yang tepat,” kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan menuju Washington DC, tak lama setelah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan.
Trump sebelumnya telah mengumumkan rencana tersebut melalui media sosial sebelum pertemuannya dengan Xi. Dia menegaskan bahwa keputusan itu berkaitan dengan negara-negara lain.
“Karena program uji coba negara lain, saya telah memerintahkan Kementerian Pertahanan untuk memulai kembali pengujian senjata nuklir kita secara setara,” tulis Trump sebelumnya di platform media sosial Truth Social.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait rincian keputusan tersebut dan Kementerian Pertahanan AS juga belum mengklarifikasi pernyataan Trump tentang rencana uji coba senjata nuklir.
Hanya selang beberap hari
Pernyataan mengejutkan Trump muncul beberapa hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Moskwa telah menguji drone bawah laut bertenaga nuklir serta rudal jelajah berkekuatan nuklir.
Putin tidak menyebut adanya uji coba senjata nuklir Rusia, yang terakhir dilakukan pada 1990. Namun, langkah tersebut tetap memicu kekhawatiran akan dimulainya kembali perlombaan senjata nuklir global.
Sementara itu, sebelum kunjungan Trump ke Korea Selatan, Korea Utara juga mengumumkan uji coba rudal yang diklaim sebagai senjata laut ke permukaan.
Pekan lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memamerkan sejumlah senjata baru, termasuk sistem rudal balistik jarak pendek yang dilengkapi teknologi peluncur hipersonik.
Menurut catatan, kekuatan nuklir global didominasi oleh AS dengan sekitar 5.735 hulu ledak nuklir, Rusia (5.830), selanjutnya Perancis (350-an), Ingeris (200-an), Tiongkok (130), Israel (75 – 100), India dan Pakistan (antara 30 – 50), dan Korea Utara (10-an).
Alih-alih memulai lagi lomba persenjataan nuklir yang menelan biaya sangat besar, sebaiknya anggaran yang ada dialokasikan untuk mengentaskan kemiskinan yang masih terjadi di sejumlah kawasan. AFP/Euronews/Kompas.com)




