SEJUMLAH lokasi di Arab Saudi yang sedang di tengah musim dingin saat ini mengalami hujan salju untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Fenomena alam tersebut, menrut laporan India Today, (23/12) menarik perhatian publik, mengingat Arab Saudi memiliki bentang alam padang pasir yang kering.
Di sisi lain, munculnya hujan salju juga kembali memunculkan kecemasan pada perubahan iklim global yang memicu pola cuaca tak lazim di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Timur Tengah.
Salju dilaporkan turun di wilayah utara Arab Saudi, khususnya di Provinsi Tabuk. Fenomena itu mengubah lanskap pegunungan yang biasanya gersang, kini tertutup lapisan salju putih.
Lokasi lain yang mengalami turun salju adalah Trojena, destinasi wisata dataran tinggi di kawasan Jebel Al-Lawz, di ketinggian sekitar 2.600 M di atas permukaan laut.
Selain Trojena, wilayah Hail juga turun salju, termasuk area di sekitar Kota Hail, yang jarang sekali mengalami hujan salju sepanjang sejarah di Arab Saudi.
Suhu udara di beberapa lokasi dilaporkan turun hingga di bawah 0 derajat celsius pada dini hari, menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya salju di dataran tinggi.
Gelombang udara dingin tidak hanya membawa salju, tetapi disertai hujan yang meluas ke sejumlah wilayah lain di negara itu.
Hujan ringan hingga sedang tercatat di Bir Bin Hermas, Al-Ayinah, Ammar, Alula, Shaqra, serta wilayah pinggiran sekitarnya.
Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur Riyadh, Qassim, dan sebagian wilayah timur Arab Saudi.
Penampakan salju
Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) menyebutkan bahwa salju juga terlihat di Al-Majmaah dan Al-Ghat, dua wilayah di utara Riyadh. Salju dilaporkan menutupi area terbuka serta kawasan dengan elevasi lebih tinggi di kedua wilayah itu.
Juru bicara NCM Hussein Al Qahtani menjelaskan bahwa fenomena hujan salju dipicu oleh massa udara dingin yang bergerak ke wilayah tengah dan utara Arab Saudi.
“Fenomena ini terjadi akibat masuknya massa udara dingin ke wilayah tengah dan utara yang berinteraksi dengan awan pembawa hujan,” ujar Hussein Al-Qahtani.
Suhu udara diperkirakan tetap rendah dalam beberapa waktu ke depan, terutama di wilayah utara dan tengah negara tersebut.
Otoritas setempat mengimbau masyarakat agar berhati-
hati saat berkendara dan menghindari daerah lembah yang berpotensi mengalami banjir akibat hujan deras.
Masyrakat antusias
Cuaca ekstrem tersebut juga memicu antusiasme masyarakat setelah foto dan video pegunungan bersalju di Arab Saudi beredar luas di media sosial.
Sejumlah warga bahkan terlihat mendatangi kawasan Al-Majmaah dan Al-Ghat untuk menyaksikan langsung fenomena langka tersebut.
Di tengah kondisi cuaca buruk, otoritas di ibu kota Riyadh pekan lalu memutuskan memindahkan seluruh aktivitas sekolah ke pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi.
Meski para ahli meteorologi menilai kejadian ini sebagai hasil kondisi atmosfer tertentu, frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang meningkat memunculkan kekhawatiran baru terkait dampak perubahan iklim.
Fenomena salju di Saudi ini kembali menghidupkan diskusi global mengenai meningkatnya anomali cuaca di berbagai kawasan dunia.
Dalam beberapa bulan terakhir, dunia juga menyaksikan hujan ekstrem di Uni Emirat Arab (UEA), gelombang panas memecahkan rekor di Asia Selatan, banjir bandang di kawasan Timur Tengah yang biasanya kering, serta hujan salju tak lazim di Eropa dan Afrika Utara.
Rangkaian kejadian itu memperkuat pandangan bahwa perubahan iklim tengah membentuk ulang pola cuaca global, bahkan di wilayah yang selama ini dikenal panas dan minim curah hujan. (kompascom /ns)





