TNI-AL Akuisisi Kapal Induk Seken Italia

KSAL Laksamana Muhammad Ali menyatakan,  negosiasi untuk mengakuisisi kapal induk pengangkut pesawat seken eks-Italia ITS Giuseppe Garibaldi masih berlangsung dan diharapkan pada HUT TNI 5 Oktober, sudah rampung dan kapal bisa tiba di tanah air.

“Jadi masih proses negosiasi antara Kemhan, TNI AL, dan AL Italia, serta fabrikannya:  Fincantieri. Harapannya, kapal bisa sampai sebelum HUT TNI, 5 Oktober ” kata KSAL usai meresmikan SPPG di Mako Puspomal, Jakarta Utara, Kamis (12/2).

Tidak diperoleh informasi tentang sistem pembayaran dan harga untuk pembelian kapal induk seken AL Italia tersebut.

ITS Giuseppe Garibaldi (C551) bisa menampung 18 helikopter seperti Agusta Sikorsky SH-3D Sea King dan the Agusta Bell AB-212, atau 16 jet tempur Harrier AV-8B yang bisa  lepas landas dan mendarat jarak pendek (STOVL).

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi (C 551) diluncurkan pada 1985, memiliki panjang 800 kaki (setara243,84 meter), dengan dek untuk lintasan penerbangan 174 meter dan lebar 30,5 meter.

Menggunakan sistem propulsi Gabungan Gas dan Gas (COGAG), Garibaldi memanfaatkan empat turbin gas LM2500 berkecepatan maksimum 30 knot.

Dek kapal induk ini telah ditingkatkan untuk mendukung operasi yang melibatkan helikopter canggih EH101 yang digunakan AL  Italia. Berbobot 14.000 ton, Garibaldi diawaki sekitar 830 orang termasuk untuk pesawat udara.

Jangan sekedar Gengsi

Namun, seorang pakar militer Fauzan Malufti mengingatkan TNI-AL agar tak membeli kapal induk seken Italia itu sekedar dilatari kebanggakan, gengsi atau pride.

Menurut dia, akuisisi kapal induk milik Italia itu seharusnya benar-benar didasari kebutuhan nyata dan bukan semata gengsi.

Ia menyebutkan, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama dalam rencana tersebut.

Pertama adalah harga, termasuk biaya untuk perbaikan dan modifikasi. Lalu kemampuan TNI AL untuk mengoperasikan kapal  mulai dari SDM, biaya perawatan, bahan bakar, kelengkapan persenjataan, hingga pangkalan yang mampu menunjang operasi, pemeliharaan, dan perawatan.

“Kemudian konsep operasi, apakah TNI AL memang butuh kapal induk dan apa butuhnya sekarang?” ujarnya.

Menurutnya, beberapa hal di atas sebaiknya dijelaskan secara terbuka oleh TNI AL maupun Kemenhan agar publik bisa menilai baik-buruk rencana akuisisi kapal induk itu.

“Apalagi umur Garibaldi sudah cukup tua, statusnya bekas, dan situasi dalam negeri saat ini di mana publik sangat kritis terhadap belanja-belanja pemerintah yang dinilai tidak produktif dan mahal,” ujarnya.

Melihat pengalaman Thailand

Ia mengatakan pengalaman Thailand dengan kapal induk HTMS Chakri Naruebet harus jadi pelajaran dalam pengadaan alutsista yang sama di Indonesia.

Fauzan menyebut Thailand tidak bisa mengoperasikan secara maksimal dan kapal induk tersebut lebih banyak menghabiskan waktu di pelabuhan dibandingkan di laut.

Menurutnya, Chakri bisa dibilang sudah kehilangan banyak fungsi sebagai kapal induk.

“Intinya jangan dipaksakan karena nanti manfaat dan fungsinya bisa lebih sedikit dibanding biaya yang harus dikeluarkan, “ tutur Fauzan.

Ia menambahkan, bisa jadi lebih baik anggarannya digunakan untuk keperluan lain seperti menambah jumlah kapal fregat atau kapal-kapal patroli.

Menurut catatan, TNI-AL juga pernah memiliki kapal perang berukuran besar eks- Uni Soviet yakni penjelajah RI Irian di era kampanye untuk merebut Irian Barat pada 1960-an.

Akibat ketidaksiapan SDM, dan minimnya anggaran perawatan, kapal yang pernah menjadi kebanggaan armada Uni Soviet itu mangkrak, bahkan pernah dijadikan tempat penampungan para tapol eks-PKI dan akhirnya dilego sebagai besi tua.

Pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna!, ugkap pepatah lawas.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here