Kalteng Tak Kunjung Membaik, Relawan Lanjutkan Pemadaman

PALANGKARAYA (KBK) – Mengingat bencana asap yang tak kunjung membaik di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan sekitarnya, Tim Respon #MelawanAsap,  Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa (DD), memperpanjang masa respon di Kalteng.

Hal itu diinformasikan Direktur DMC DD Asep Beny, kepada tim lapangan di Kalteng . Asep bukan saja menyetujui perpanjangan masa tugas tim yang sudah berjalan di lapangan, melainkan juga akan mengirim tenaga tambahan dari Jakarta untuk memperkuat tim yang ada.

Ahmad, Koordinator Lapangan Tim Respon #MelawanAsap di Palangkaraya kepada KBK, membenarkan hal itu. 

“Saat ini kita akan fokus membantu masyarakat yang belum mendapat bantuan, untuk memadamkan api di sekitar lahan mereka,” ujar Ahmad.

Untuk mendukung kerja tim respon, Ahmad sudah membeli mesin pompa dan selang, serta beberapa perlengkapan untuk mendukung kerja tim. 

Ady Sumarna, Tim Respon yang berada di lapangan menyambut baik rencana itu. Ia berkaca dengan apa yang sudah dilakukannya di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Di kawasan ini, Ia dan timnya  bahu membahu dengan masyarakat memadamkan api yang menjalar ke kebun karet.

“Dari 6.000 hektare kebun karet masyarakat desa tersebut, 80 persen sudah terbakar. Masyarakat sudah mencoba berperang sendiri melawan api, karena tidak ada yang membantu mereka, hasilnya mereka terpaksa merelakan sebagian besar kebun karet yang mereka rawat selama bertahun-tahun dimakan api,” terang Ady. 

Kesulitan dalam memadamkan api di lahan gambut ini, lanjut Ady, karena apinya berada dan hidup di dalam tanah dari akar-akar kayu yang sudah mengering, karena terbakar akar kayu itu jadi bara di dalam tanah kering. Ketika angin berhembus kencang, api pun membesar. 

“Padahal di permukaan sudah kita siram,” terang Ady.

Selain itu, tim juga terkendala dengan jangkauan selang air yang hanya bisa digunakan maksimal 300 meter ketika menggunakan mesin pompa air standar yang menyedot air sungai, . 

“Ketika api menyala di lahan melebihi 300 meter, tim pemadam terpaksa menunggu api di titik tersebut atau mengejarnya dengan semprotan gendong,” jelas Ady.

Solusi terbaik untuk ini, lanjut Ady, adalah membuat sumur pompa di tengah ladang atau di diameter 300 meter, sesuai standar kemampuan mesin pompa kecil untuk menyemprotkan air. 

“Alhamdulillah DD sudah membuat 2 sumur bor,  di kebun karet warga Desa Pilang, agar kebun karet yang tersisa dapat diamankan,” jelasnya. 

Kini Ady dan tim relawan lainnya, bertekad untuk menyelamatkan kebun penduduk yang tersisa, jika tidak, tentu akan memupuskan harapan petani setempat, yang sudah mengidamkan penghasilan dari kebun karet selama bertahun-tahun.

Advertisement