
JAKARTA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menlu Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali telah melakukan pertemuan, dan dalam kesempatan tersebut keduanya membahas tentang krisis Rohingya.
Dalam pertemuannya pada Selasa (20/12/2016) dengan Mahmoud Ali, Retno menyorot pentingnya Bangladesh dan Myanmar menjaga hubungan baik, dan mendukung pengelolaan perbatasan kedua negara tersebut.
“Hubungan dan komunikasi baik antara Myanmar dan Bangladesh kunci dari pengelolaan isu pengungsi di perbatasan kedua negara,” ujar Retno, seperti dilansir Tempo.co, Kamis (22/12/2016).
Retno menyarankan penguatan komunikasi antara Myanmar dan Bangladesh. Retno pun menyampaikan pesan State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi, yang menyebut akan segera mengirim utusan khusus ke Bangladesh, yang langsung disambut baik oleh Menlu Mahmood.
Selain itu, dibahas juga berbagai tantangan yang dihadapi dalam menangani pengungsi yang jumlahnya telah melebihi kapasitas penampungan mereka.
Diketahui Bangladesh dialiri sekitar 30 ribu pengungsi dari negara bagian Rakhine, Myanmar pasca kekerasan yang terjadi di tetangganya tersebut. Menlu Retno mengunjungi Dhaka setelah menghadiri pertemuan tingkat menteri ASEAN yang membahas situasi di Rakhine tersebut.
Sejak terjadinya ketegangan di Rakhine State pada 9 Oktober lalu, telah terjadi peningkatan jumlah pengungsi hingga 10-20 ribu orang.
Menurut data UNHCR, saat ini terdapat sekitar 32 ribu pengungsi Muslim dari Myanmar yang tercatat resmi pada dua camp pengungsi di Bangladeh. Selain itu UNHCR pun mengestimasikan adanya sekitar 200 ribu pengungsi yang tidak tercatat, dan tinggal di perbatasan Bangladesh dan Myanmar.




