BIMA – Anak-anak korban banjir Bima merasa trauma, karena ini pertama kali mereka merasakan bencana dahsyat yang hampir menenggelamkan diri dan keluarganya.
Menurut penuturan penggiat Komunitas Babuju, Rangga Babuju trauma ini dialami anak akibat kepanikan orang tua dan kondisi mencekam di tengah bencana. Ditambah dengan gemuruh air bah yang menghanyutkan segala yang dilaluinya.
“Anak-anak ini tidak tahu apa-apa, tapi nampaknya banyak yang ketakutan. Karena kejadian ini terjadi persis pukul 3 dan 4 sore. Saat anak-anak bermain dan tidur siang,” jelasnya, Kamis (22/12/2016).
Menurutnya tak hanya pemulihan secara fisik yang perlu dilakukan, tetapi juga pemulihan psikis kembali seperti saat belum terjadi bencana sangat dibutuhkan.
Sementara itu mengenai kondisi terkini di Bima, hingga kemarin sore pukul 17.15 WITA listrik sudah kembali dinyalakan. Tetapi akses komunikasi masih bisa disebut lumpuh total. “Suara ambulans yang lalu lalang, juga pemadam kebakaran, patroli Basarnas, Tagana, patroli SAR dan BPBD hampir tiap lima menit terdengar,” katanya, seperti dilansir suarantb, Jumat (23/12/2016).
Di beberapa ruas jalan yang sudah bisa dilalui telah berdatangan bantuan dari berbagai wilayah. Evakuasi barang juga menjadi pemandangan yang dianggap biasa saat ini. Komunitas Babuju yang turut turun ke lokasi bencana hingga sore tadi hanya berhasil mencapai setengah dari wilayah bencana.
“Kondisi wilayah Rasanae Barat, Mpunda dan sebagian wilayah Raba sangat memprihatinkan. Hanya sebagian kecil saja perabot dan barang-barang warga yang bisa diselamatkan,” ucapnya.
Berdasarkan laporan relawan Babuju yang turun ke lokasi sejak kemarin malam. Ada sekitar 42 mobil dan ratusan motor yang terseret banjir. Dan puluhan rumah panggung juga hanyut terbawa derasnya air bah.





