ACEH – Banjir yang menerjang 11 kecamatan di Aceh Barat menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah berdampak pada 19.289 jiwa warga Kabupaten Aceh Barat.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Aceh Barat Iraidi Yus, di Meulaboh, Minggu (8/1/2017) mengatakan banjir dilaporkan terus meluas sehingga ribuan warga terpaksa dievakuasi, akan tetapi enggan untuk mengungsi.
“Yang terparah saat ini banjir sudah mengepung Kecamatan Kaway XVI. Kami terus memantau perkembangan ekses banjir yang masih terjadi di Kecamatan Pante Cereumen juga karena dari sini semua awal banjir meluas ke hilir,”sebutnya.
Hingga hari keempat banjir mengepung daerah itu, setidaknya telah merendam 11 dari 12 kecamatan, meliputi 74 desa sehingga terdampak terhadap 5.946 kepala keluarga dengan 19.289 jiwa, ketinggian debit air banjir 50-170 centimeter.
Banjir melanda daerah itu akibat tingginya intensitas curah hujan sehingga dua sungai yakni Kreung Woyla dan Krueng Meurebo meluap dan menerjang pemukiman penduduk selama empat hari terakhir.
Iraidi menyampaikan petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) dalam beberapa hari dilanda banjir ini telah siaga satu dan berpencar melakukan pemantauan dan membantu evakuasi warga yang terjebak banjir akibat meluapnya dua sungai.
Banjir yang baru mengepung Kecamatan Kaway XVI, menurut dia merupakan hantaran dari banjir dari kawasan kecamatan wilayah hulu karena ketinggian debit air disana semakin mengecil, namun tidak dapat dipastikan kondisi itu surut atau bertambah.
Dia melakukan pendataan dan membantu evakuasi warga apabila memang ada yang terjebak atau terkurung, namun banjir kali ini walaupun besar belum ada warga yang mengungsi besar-besaran.
Warga lebih memilih bertahan di rumah dan mencari tempat tinggal sementara yang aman di dataran lebih tinggi, sementara persoalan bantuan logistik untuk bahan makanan merupakan ranahnya instansi teknis lainnya.
Sementara itu tokoh masyarakat Kecamatan Woyla Timur, Nasir melaporkan di kawasan mereka telah rata direndam air banjir dengan ketinggian hingga 100 centimeter sehingga membuat aktivitas warga lumpuh.
“Banjir kami sudah beberapa hari, tapi belum mengungsi. Hanya yang perlu kami ingin laporkan lewat media bahwa semua tanaman padi di daerah kami sudah rusak, padahal baru ditanam beberapa hari lalu,” kata Nasir yang juga mantan Mukim Krueng Bhee itu.
Sementara itu banjir juga hingga siang ini masih memutuskan akses transportasi darat lintas Nagan Raya-Aceh Barat Daya, Aceh. Di kawasan Lamie dan Kecamatan Darul Makmur, antrian kendaraan jalan lintas provinsi itu tidak bisa elakan.





