JAKARTA – Gerobak berisi wayang itu melaju pelan. Diantara kemacetan Jakarta gerobak yang dikemudikan Hadi itu sangat kontras dengan jejeran mobil mewah yang berbaris rapih memenuhi jalan. Langkahnya yang lunglai menandakan Hadi telah lama mengaspal, sesekali handuk kecilnya ia elapkan ke peluh yang membasahi dahi.
Ketika memasuki daerah Sumur Batu, Jakarta Pusat langkah kaki Hadi terhenti sejalan dengan dikumandangkannya azan isya. Bagi kakek berusia 66 tahun itu dapat menunaikan solat ditengah rutinitas pekerjaan ialah kewajiban yang tidak boleh dikesampingkan.
Sosok penjual wayang keliling itu ternyata direkam oleh salah seorang netizen. Melalui akun instagramnya @ntaaditya mengatakan bahwa Hadi merupakan sosok yang pantang menyerah ditengah gempuran zaman.
Menurut @ntaaditya sebelum berjualan wayang golek, Hadi merupakan seorang tukang becak di Purwakarta, Jawa Barat. Kemiskinan yang membelit perekonomian keluarga membuat Hadi pada tahun 2004 mulai alih provesi sebagai penjual wayang golek.
Diusia yang makin renta kala itu Hadi mesti memikul dagangan berkeliling Kota Purwakarta. Hasil keuntungan yang didapat dari berjualan wayang lalu ia tabung untuk dibelikan gerobak.
Memasuki tahun 2012 Hadi mulai hijrah ke Jakarta dengan harapan dapat mendongkrak penghasilan. Provesinya tetap sama yakni penjual wayang keliling. Di Jakarta pun Hadi tidak memiliki rumah maupun menyewa kontrakan. Jika langit mulai gelap ditambah rasa letih yang menerpa tubuh, Hadi memilih beristirahat di emperan toko.
“Jadi Pak Hadi ini mengambil dagangannya dari Desa Malangnengah, Purwakarta dan menjualnya di Jakarta. Beliau suka berpindah-pindah lokasi dalam 2-3 bulan. Pak Hadi berjualan dari pagi sampai malam. Di Jakarta beliau tidak punya rumah, jadi tidurnya di emperan toko,” tulis @ntaaditya yang pernah berjumpa dengan Hadi di daerah Sumur Batu.
Setiap kali berdagang sedikitnya Hadi mampu memboyong 30 sampai 50 wayang digerobaknya. Menurut @ntaaditya yang membuat miris ialah tingkat kelakuan wayang yang rendah. Per hari Hadi hanya mampu menjual 1 wayang, meski sedikit namun Hadi sudah bahagia dan sangat senang.
“Kata Bapak dagangannya baru habis selama 1 – 2 bulan. Jadi rata-rata 1 hari hanya 1 yang terjual itupun beliau sudah sangat bersyukur dan senang sekali,” tulis @ntaaditya dalam tautannya.
Yang membuat salut para netizen kendati Hadi hidup sarat kesusahan namun ia tetap bersahaja, baik, murah senyum dan berdaya juang tinggi. Meski hidup sulit Hadi tak pernah mengeluh.
”Jadi buat teman-teman yang ingin koleksi wayang atau mungkin buat hiasan, mainan untuk adik, anak, keponakan, murid sekolah. Yuk bisa diborong wayangnya Pak Hadi Rp 50 ribu saja. Karena selain membeli, kita juga ikut melestarikan kebudayaan Indonesia. Asik kan?,” tutup @ntaaditya yang lantas menuai banyak respon positif dari kalangan netizen lainnya.





