JAKARTA – Penyelesaian permasalan kekerasan terhadap etnis Muslim Rohingya seakan sulit menemukan titik terang. Sejak kekerasan di Rakhine merebak akhir 2016 setidaknya 65 ribu warga Rohingya diketahui menyeberang ke Bangladesh. Sepertiga dari mereka menyeberang dalam minggu ini. Angka yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menandai tingginya peningkatan jumlah pelarian Rohingya.
Kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) menyebut tragedi tersebut sebagai pelanggaran HAM berat. Utusan hak asasi manusia PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, telah memulai kunjungan selama 12 hari ke Myanmar untuk menyelidiki kekerasan yang terjadi di wilayah perbatasan tersebut.
“Selama seminggu terakhir sekira 22 ribu warga Rohingya telah menyeberangi perbatasan dari negara bagian Rakhine,” tulis keterangan resmi laporan mingguan PBB Sebagaimana dilansir dari The Guardian, Selasa (10/1).
Sementara itu, perwakilan resmi Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan Bangladesh menyebut, per 5 Januari, diperkirakan 65 ribu warga Rohingya menetap di kamp pengungsian dan permukiman darurat di Kota Cox Bazaar, Bangladesh.
Selain itu, pada Senin 9 Januari, Lee mengawali penyelidikan dengan mengunjungi negara bagian Kachin yaitu lokasi ribuan warga Rohingya mengungsi. Pada kunjungan sebelumnya Lee dihadapkan dengan ancaman dan demonstrasi atas komentar yang menyebut Myanmar telah menyiksa Rohingya.
Lee diperkirakan akan meninggalkan Myanmar dan mengakhiri penyelidikannya pada 20 Januari. Sebelumnya, Bangladesh telah melakukan upaya penolakan arus pengungsi Rohingya yang jumlah terus meningkat.





