4 orang per 1.000 penduduk sakit ginjal

Empat di antara 1.000 penduduk Indonesia mengalami sakit ginjal, dan meningkat di kalangan remaja karena pola maakn dan minum tidak sehat (ilustrasi: surya.co.id

DATA Kementerian Kesehatan mencatat, 3,8 persen atau sekitar empat dari 1.000 penduduk atau dengan total populasi Indonesia saat ini sekitar 284 juta jiwa berarti sekitar 10.800 penduduk menderita sakit ginjal dan jumlah pasien remaja terus meningkat.

Sedangkan BPJS Kesehatan mengungkapkan, biaya perawatan penyakit ginjal kronis mencapai Rp 11 triliun pada 2024, naik tajam dari Rp 6,5 triliun pada 2019.

Lonjakan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah pasien, terutama yang menjalani hemodialisis atau awamnya dikenal cuci darah.

Yang lebih mencemaskan, semakin banyak anak muda yang menjalani cuci darah karena gagal ginjal sehingga jika penyakit ginjal dulu  identik dengan lansia, kini justru mulai dialami di usia produktif.

Dokter spesialis urologi dr Nur Rasyid, SpU, seperti dilansir detikhealth (5/7) menyebutkan,  penyebab gagal ginjal umumnya bersifat multifaktorial, tetapi lebih dari 50 persen pasien hemodialisis memiliki kondisi penyerta penyakit tertentu.

“Kalau kita lihat sekarang, 50 persen dari pasien cuci darah itu mengalami gangguan gula darah,” jelas dr Rasyid.

Artinya, diabetes menjadi penyebab nomor satu gagal ginjal kronis. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, terutama yang mengandung gula buatan (artificial sweetener) sejak uia muda, menurut dr. Rasyid, , sangat memengaruhi metabolisme tubuh.

Kecanduan main gadget

Anak-anak dan remaja disebutnya lebih sering duduk bermain gadget, jarang bergerak, dan mengonsumsi makanan cepat saji serta minuman manis dalam jumlah berlebihan.

Kombinasi ini membuat risiko obesitas meningkat, yang kemudian memicu resistensi insulin dan akhirnya menyebabkan diabetes.

Selain diabetes, hipertensi tekanan darah tinggi juga menjadi penyebab umum gagal ginjal. Tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah kecil di ginjal, membuat fungsinya menurun secara perlahan.

Ditambah lagi, kebiasaan minum air yang tidak cukup (dehidrasi kronis) juga memperparah kondisi. Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik, tetapi tinggi konsumsi kopi, teh manis, dan soda menyebabkan tubuh kurang cairan, yang pada akhirnya membebani fungsi ginjal.

dr Rasyid menegaskan konsumsi minuman manis berlebihan, terutama yang menggunakan pemanis buatan adalah akar dari masalah metabolisme.

“Pada saat metabolisme tubuh terganggu, penyakit seperti diabetes dan hipertensi lebih mudah berkembang, sehingga pada akhirnya bisa merusak ginjal, “ ujarnya.

Pola hidup tidak sehat, lanjut dr Rasyid,  menyebabkan metabolisme tidak normal. Ini yang membuat orang bermasalah dengan gula dan tekanan darah.

Salah satu masalah utama adalah gagal ginjal sering tidak bergejala pada awalnya. Orang baru menyadari ketika kondisinya sudah memasuki stadium akhir yakni stadium 4 atau 5, saat ginjal sudah hampir tidak berfungsi dan membutuhkan cuci darah hemodialisis.

“Orang baru bergejala saat kondisinya sudah berat. Mulai dari mudah lelah, lemas, mual karena ureum tinggi, hingga pucat. Awalnya mereka pikir masalah lambung, lalu minum obat sendiri tanpa cek ke dokter,” tambah dr Rasyid.

Padahal, stadium 1 sampai 3 bisa diketahui lebih awal lewat check-up rutin, dan ditangani sebelum berujung pada kerusakan permanen.

Meningkatnya kasus gagal ginjal di usia muda bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari pola hidup tidak sehat yang dijalani bertahun-tahun.

Untuk itu dr Rasyid menyarankan pada warga untuk rutin memeriksakan diri demi mencegah keterlambatan penanganan saat fungsi ginjal sudah jauh tersisa di bawah 50 persen. (detikhealth/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here