DURIAN KADOK – Afrila Intan Putri, 18 tahun, hidup bersama nenek yang sudah renta. Bapak dan Ibu sudah tidak bersamanya. Ibunya meninggal saat ia masih berusia satu bulan, dan 8 bulan kemudian sang ayah pergi entah kemana. Hingga sekarang tak ada kabarnya.
Sejak empat tahun terakhir, Intan begitu ia akrab dipanggil, sudah tidak bisa membantu nenek, malah sebaliknya neneklah dengan tenaganya yang tersisa mencari nafkah untuk mereka berdua.
Bukannya Intan tega terhadap neneknya, akan tetapi keadaan yang membuat ia harus terbaring di tempat tidur. Tumor ganas yang makin membesar di kaki kirinya, itulah yang membuat Intan tak berdaya.
Intan tinggal di Kampung Juruai Durian Kadok, Kenagarian Barung-barung Belantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pessel-Sumatera Barat (Sumbar).
Hamdani, kerabat Intan mengatakan, semejak menderita tumor Intan tak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya. Ia hanya bisa berbaring.
“Kondisi penyakitnya semakin lama tampak parah. Dan membuatnya tidak bisa lagi duduk, apalagi melakukan aktivitas lain,” tuturnya
Hamdani juga sedih melihat neneknya Intan yang sudah lanjut usia. Ia juga sudah tidak bisa lagi melakukan pekerjaan berat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Paling kerja mencongkel Pinang. Itu terkadang tak sampai Rp50 ribu sehari,” ungkapnya.
Seperti dikutip dari KlikPositif, menurut info dari Hamdani, untuk kesembuhan Intan butuh biaya yang sangat besar. Seperti untuk obat penahan rasa sakit saja, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp600 ribu.
Kini, Intan membutuhkan bantuan dari berbagai fihak untuk kesembuhannya. Ada yang mencari surga?





