AMBISI China menguasai dirgantara salah satunya tercermin dari pesawat tempur berkemampuan siluman (stealth) J-20 Chengdu buatannya yang baru-baru ini dipublikasikan oleh negara tirai bambu itu.
Pesawat-pesawat tempur buatan China yang sampai dekade tahun 1970-an masih berupa “copy paste” peninggalan Uni Soviet seperti berbagai seri dan varian lawas pesawat MiG atau Sukhoi, kini sudah didisain dan dibangun sendiri, kecuali beberapa bagian seperti sistem avionik yang teknologinya masih diimpor dari Uni Soviet .
J-20 yang mulai diujicoba pada tahun 1990-an bahkan disasar untuk mampu bersaing, mengimbangi bahkan menandingi kemampuan pesawat-pesawat tempur generasi kelima buatan AS seperti F-22 Raptor dan F-35 JSF Lightning yang sampai saat ini pun masih dioperasikan secara terbatas atau Sukhoi T50 buatan Rusia.
Disebutkan, J-20 yang bermesin jet ganda, memiliki jarak jelajah hingga 3.400 Km, mampu terbang pada ketinggian 18 Km, kecepatan 2.100 Km per jam dan bisa dilengkapi berbagai jenis rudal udara ke udara jarak dekat atau jarak jauh serta konfigrasi persenjataan lainnya. J-20 dibandrol dengan harga 110 juta dollar AS atau sekitar Rp1,485 triliun satu unit (pada 2011)
J-20 yang pertama kali mengudara pada 2011 merupakan pengembangan pesawat tempur terdahulu J-15 yang mirip pesawat tempur Sukhoi SU-33 buatan Rusia. Skadron pesawat tempur J-l5 saat ini ditempatkan di atas kapal induk pertama, Lioning yang dioperasikan oleh negara tirai bambu itu.
Lioning sendiri adalah kapal induk buatan galangan kapal di Ukraina yang pembangunannya kemudian diteruskan oleh China. Kapal induk kedua yang seluruhnya dibangun di galangan dalam negeri China sedang dikerjakan dan diharapkan beroperasi pada 2020.
Tidak diperoleh detil perbandingan kemampuan J-20 dibandingkan dengan pesawat-pesawat tempur andalan negara-negara Barat terutama AS, namun satu-satunya kelemahan tentu saja keandalannya yang belum pernah dijajal di palagan sesungguhnya
Belum teruji
Di dalam terminologi alutsista termasuk pesawat tempur, ada istilah “combat proven” atau bukti keandalan, terutama dalam “dog fight” atau pertempuran udara sesungguhnya.
Di era Perang Dunia II misalnya, banyak kisah-kisah heroisme pilot-pilot Jepang yang menggunakan pesawat pemburu Zero, keandalan pembom tukik Stuka, Luftwaffe atau AU Jerman serta pesawat Mustang P-51 AS. Begitu pula keunggulan pesawat F-86 Sabre buatan AS di palagan Korea atau pesawat-pesawat Phantom F-4 buatan AS yang digunakan AU Israel di Perang Enam Hari (Juni 1967) Fighting Falcon F-16 (juga buatan AS) dalam pertempuran udara di atas Lembah Bekaa, Lebanon (Juni 1982).
China juga sedang membangun rudal balistik anti kapal induk Dongfeng DF21 berdaya jelajah 3.000 Km. Rudal jenis ini berpotensi menjadi ancaman bagi armada kapal AS yang lalu-lalang di Laut Cina Selatan.
Tekad China menjadi raksasa dunia sebagai produsen alutsista termasuk pesawat tempur, baik untuk memperkuat mesin perangnya maupun untuk ekspor, tidak terbantahkan, tercermin dari besarnya anggaran belanja militernya.
Bersamaan dengan kenaikan 10 persen anggaran pertahanan AS tahun ini menjadi 603 milyar dollar AS (sekitar Rp8.000 triliun), China juga menaikkan tujuh persen anggarannya menjadi 151,4 milyar dollar AS (sekitar Rp2.000 triliun). Bisa dibandingkan dengan anggaran pertahanan RI yang cuma Rp 103 triliun.
China tercatat sebagai negara pengekspor senjata terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Rusia. RI sejauh ini juga menggunakan rudal permukaan ke permukaan C-802 buatan Tiongkok yang ditempatkan di kapal-kapal patroli FPB-57 buatan PT PAL dan juga sistem artileri pertahanan udara ringan (kaliber 23 mm) Giant Bow.
Kebangkitan kekuatan militer China tentu saja diamati oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terutama Taiwan, Jepang yang bersengketa di Laut Timur dan sejumlah negara yang terlibat sengketa dengannya di Laut Cina Selatan.





