45 Persen Anak Indonesia Korban Bullying

45 persen anak Indonesia jadi korban bullying, tapi pihak berwenang mulai dari kementerian pendidikan, para akil rakyat di pusat dan daerah sampai kepolisian agaknya kurang greget mengatasinya. (ilustrasi: youtube)

AKSI bullying atau perundungan di negeri ini sudah pada tingkat yang sangat mencemaskan, mengingat hampir separuh anak-anak (45 persen) menjadi korbannya melalui kegiatan chatting.

Angka anak korban bullying tersebut, kata Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid di Jakarta, Kamis (20/11) diperoleh dari data terbaru yang dirilis Badan BB untuk Dana Anak-anak (UNICEF).

“Bullying kurang lebih 45 persen, ini juga data yang kita pegang saat ini, yang dilakukan melalui aplikasi digital, khususnya chatting,” ucap Meutya.

Meutya menyebutkan, konten-konten negatif di ruang digital akan membawa dampak buruk bagi perkembangan sosial dan emosional anak.

“Rata-rata anak-anak yang terpapar hal-hal yang negatif  menjadi cenderung mudah marah, emosional, terpapar konten-konten negatif, dan sebagainya,” tutur dia.

Meutya mengakui, hatinya sangat menciut ketika melihat data yang memperlihatkan mulai masifnya anak-anak Indonesia menggunakan internet.

“Saya lagi pilih-pilih, karena ini data-datanya memang banyak yang membuat hati kita bisa menjadi ciut,” ucapnya.

Ia berharap, para orang tua memberikan pemahaman bahwa berselancar di dunia digital itu sangat tidak ramah anak dan berisiko tinggi. Pasalnya, saat ini masih banyak ditemukan orang tua yang abai dan membiarkan anaknya menggunakan gadget secara bebas.

“Ini sepertinya kita mengabaikan. Membiarkan anak-anak kita berlari di ranah yang tidak ramah kepada anak, sementara orang tua membiarkan anak-anak sendirian di ranah itu,” ucapnya.

Perundungan yag dilakukan di geng kelas dan sekolah tak hanya dilakukan secara verbal yang membuat korban tertekan, sampai berhenti dari sekolah, bahkan bunuh diri tak jarang juga dengan kekerasan fisik, yang membuat cacat, trauma sepanjang hidup bahkan kehilangan nyawa.

Fenomena gunung es

Praktek bully di lingkungan sekolah diduga bagai fenomena gunung es yang hanya tampak sebagian, karena pihak sekolah (guru, wali kelas sampai kepala sekolah) sering abai, sedangkan siswa lain permisif, mendiamkan karena takut terhadap pelaku.

Sebaliknya, pelaku makin jumawa dan merasa di atas angin karena merasa tidak ada yang berani melawan mereka.

Dari catatan harian ABH, pelaku peledakan SMA 72 di Jakarta baru-baru ini yang melukai puluhna siswa, menunjukkan rasa tidak berdaya setelah laporan perundungan yang dilakukan terhadap dirinya oleh sejumlah siswa lain tidk digubris pihak sekolah.

Bahkan saking putus asanya, korban  menulis: “Untuk apa lapor sama Tuhan, lapor ke guru sekolah saja tidak ada keadilan, “ ungkap mantan Kepala Densus 88 Anti Teror Kmjen Marthinus Hukom.

Kasus terbaru lainnya dialami  MH (13), siswa SMPN 19 Tengerang Selatan yang tidak tangung-tanggung, dibully dengan ekerasan fisik termasuk dengan melempar kepalanya dengan kursi.

Aksi brutal itu justeru dilakukan oleh rekan-rekan seniornya saat acara perkenalan Oktober lalu, sehingga beberapa hari dirawat di RS, MH menghembuskan nafasnya.

Sebelumnya, Eneng (14) siswi di Sukabumi, Jawa Barat bunuh diri Oktober lalu gegara dibully rekan-rekannya, begitu pula dua siswa lainya di Sawahlunto, Sumbar yakni siswa SMP VII Bagindo Evan (15) dan Arif Nofriadi (15) yang bunuh diri, diduga akibat kasus serupa .

Sejauh ini tidak jelas kebijakan yang diambil oleh menteri pendidikan dasar dan menengah untuk mengakhiri aksi-aksi brutal di lingkungan sekolah agar tidak jatuh korban-korban berikutnya.

Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Agama (yang menangani Pesantren) dan segenap jajarannya, para wakil rakyat di pusat dan daerah serta aparat kepolisian, pada ke mana ya ?

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here