JAKARTA- Petani asal Teluk Jambe, Karawang yang melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara sejak 25 April 2017 lalu terus berlanjut dan kini jumlahnya bertambah menjadi sepuluh orang.
Meski demikian, hingga Kamis (27/4/2017) belum ada tanggapan dari Istana. Koordinator Aksi, Haris mengatakan para petani sudah lelah mencari keadilan ke sana ke mari namun belum juga membuahkan hasil.
Selama sebulan tinggal kembali di Jakarta setelah sebelumnya sempat dipulangkan ke Karawang, para petani Teluk Jambe telah mengetuk beberapa pintu mulai Gedung Dewan Perwakilan Rakyat hingga Kementerian Lingkungan Hidup. Istana adalah pilihan akhir mereka menyampaikan asa.
“Apakah petani harus ada yang meninggal dulu baru ada penanganan dari negara? Padahal petani hanya ingin dipulangkan ke lokasi pertanian dalam keadaan semula serta ada jaminan keamanan dari pemeritah,” ucapnya, dikutip PR.
Wakil Ketua Komisi II DPR yang membidangi masalah dalam negeri dan agraria, Lukman Eddy juga sempat berjanji bakal ikut campur atau mengintervensi sengketa lahan Teluk Jambe di Karawang, Jawa Barat.Dia juga telah mendatangi lahan sengketa seluas 700 hektar tersebut.
PT Pertiwi Lestari sebagai pihak yang bersengketa dengan petani mengklaim memiliki hak pengelolaan lahan di Telukjambe seluas 791 hektar sesuai tiga sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional. Sertifikat itu dikeluarkan Kantor Pertanahan Karawang pada 1998. Namun, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari 791 hektar itu, sebanyak 350 hektar masuk hutan negara.





