JAKARTA, KBKNews.id – Konflik bersenjata masih melanda sejumlah negara dan memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan. Sudan, Myanmar, Yaman, Somalia, dan Ethiopia menjadi lima negara yang masih bergulat dengan perang saudara atau konflik internal, mulai dari perebutan kekuasaan hingga perlawanan terhadap pemerintah. Pertempuran di negara-negara tersebut menyebabkan jutaan warga mengungsi dan menghambat akses terhadap pangan, pendidikan, serta layanan kesehatan.
Berikut lima negara yang masih dilanda konflik internal, seperti dirangkum KBKNews.id, 26 Oktober 2026.
1. Sudan
Perang saudara di Sudan pecah pada April 2023 akibat perebutan kekuasaan antara tentara nasional atau Sudanese Armed Forces (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik yang melibatkan dua kubu militer tersebut meluas dari ibu kota Khartoum ke wilayah Darfur dan Kordofan.
Hingga kini, belum ada penyelesaian damai yang mampu menghentikan pertempuran. Lebih dari 12 juta orang dilaporkan mengungsi, sementara jutaan lainnya menghadapi ancaman kelaparan. Kerusakan infrastruktur juga membuat banyak rumah sakit dan sekolah tidak dapat beroperasi secara normal.
Sudan pun menghadapi salah satu krisis pengungsian dan kelaparan terparah di dunia.
2. Myanmar
Myanmar terjerumus dalam perang saudara sejak kudeta militer pada 2021. Junta militer menghadapi perlawanan dari kelompok pro-demokrasi dan berbagai organisasi bersenjata etnis yang telah lama memperjuangkan kepentingan mereka.
Konflik berlangsung di berbagai wilayah dengan serangan terhadap permukiman dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan. Sekitar 3,5 juta orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, sedangkan hampir 20 juta penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Situasi keamanan yang terus memburuk juga mengganggu pendidikan anak-anak dan memperbesar kesulitan warga dalam memperoleh kebutuhan dasar.
3. Yaman
Perang saudara di Yaman berlangsung sejak 2014, melibatkan kelompok Houthi dan pemerintah Yaman. Konflik berkepanjangan tersebut kembali memperburuk kondisi kemanusiaan, terutama di Kota Taiz yang sebagian besar terisolasi sejak awal Oktober 2026.
Blokade jalur pasokan menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan mengganggu operasional fasilitas kesehatan. Salah satu rumah sakit bahkan terpaksa mengurangi jumlah inkubator yang beroperasi dari 40 unit menjadi hanya 10 unit karena keterbatasan bahan bakar dan oksigen.
Selain itu, lebih dari 800.000 orang di Taiz dan wilayah sekitarnya dilaporkan terputus dari bantuan pangan. Puluhan ribu anak mengalami malnutrisi akut, sementara bayi prematur dan pasien yang membutuhkan perawatan rutin menghadapi risiko akibat terbatasnya layanan medis.
4. Somalia
Somalia masih menghadapi konflik berkepanjangan melawan kelompok militan Al-Shabaab yang menguasai sejumlah wilayah di bagian selatan negara tersebut. Selama hampir dua dekade, pemerintah federal berupaya merebut kembali wilayah-wilayah itu dengan dukungan pasukan Afrika dan internasional.
Namun, lemahnya stabilitas keamanan membuat upaya pemulihan berjalan sulit. Serangan bom dan penculikan masih terjadi, termasuk di ibu kota Mogadishu.
Konflik juga memperburuk kondisi masyarakat yang menghadapi kekeringan dan krisis pangan. Jutaan warga terpaksa mengungsi atau bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
5. Ethiopia
Ethiopia kembali dilanda konflik internal setelah perang di wilayah Tigray berakhir pada 2022. Sejak 2023, pertempuran di wilayah Amhara melibatkan milisi FANO dan pasukan pemerintah federal.
Konflik tersebut menimbulkan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Layanan dasar, termasuk pendidikan dan fasilitas kesehatan, turut terganggu akibat pertempuran.
Situasi ini menunjukkan bahwa berakhirnya satu konflik belum tentu menjamin stabilitas di seluruh wilayah Ethiopia, negara dengan populasi lebih dari 120 juta jiwa tersebut.





