G-20 Kompak Perangi Terorisme

Presiden Jokowi bersama pemimpin negara G-20 lainnya seperti Presiden AS DOnald Trump dan Presiden Perancis Emannuel Macron menghadiri KTT G-20 di Hamburg (tempo)

SELAIN perbedaan tajam akibat sikap Presiden AS Donald Trump terkait isu ekonomi, negara-negara dengan kekuatan ekonomi terkuat kelompok G-20 bersatu dan bertekad menggalang kerjasama dalam memerangi aksi terorisme.

Dalam komunike bersama di akhir pertemuan KTT G-20 di Hamburg, Sabtu (8/8), para pemimpin negara G-20 mengecam keras aksi terorisme di mana pun dan sepakat bahu-membahu dalam pertukaran informasi intelijen, penindakan dan memutus jaringan serta aliran dana bagi mereka.

Isi pernyataan bersama itu sejalan dengan seruan yang disampaikan Presiden RI Joko Widodo sehari sebelumnya di tengah sesi retret KTT G-20 itu terkait pengalaman Indonesia dalam penanggulangan terorisme melalui soft power atau pendekatan lunak selain pola represif.

Jokowi  menyebutkan antara lain pentingnya upaya mengatasi ketimpangan ekonomi, pertukaran informasi intelijen, penanganan para combatant lintas negara dan menyetop aliran dana bagi kegiatan terorisme.

Optimisme disampaikan pula oleh tuan rumah, Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pidato pembukaan yang menyebutkan, walau saat ini dunia menghadapi tantangan berat, semua akan bisa diatasi melalui kerjasama dan kompromi.

Keyakinannnya didasari fakta bahwa negara-negara G-20 yang dihuni dua pertiga populasi penduduk dunia dan mendominasi 80 persen produk domestik bruto  dunia (PDB) dan tiga perempat perdagangan dunia.

Sementara dilaporkan pula, tatap muka pertama kali antara Presiden Jokowi dan Presiden AS Trump di sela-sela KTT G-20 berjalan cukup hangat, bersahabat dan dalam suasana cair. Trump menganggap RI sebagai sahabat AS dan berharap meningkatnya hubungan bisnis kedua negara ke depannya.

Di bidang ekonomi, antusiasme negara-negara Uni Eropa, Jepang dan China untuk menjalin kerjasama agaknya terganjal sikap proteksionisme yang ditunjukkan AS di bawah Presiden Donald Trump.

Para pemimpin G-20 bereaksi keras atas rencana AS yang dengan alasan melindungi industri baja dalam negeri, akan mengenakan tarif bea masuk tinggi dan  membatasi impor baja atau memberlakukan kombinasi kebijakan tersebut.

Di era globalisasi saat ini, kemitraan dan kerjasama adalah kunci untuk mengatasi berbagai persoalan dunia termasuk ancaman terorisme dan ketimpangan ekonomi.

Pendiktean kehendak oleh negara tertentu sudah bukan zamannya lagi karena di era globalisasi saat ini yang dikedepankan adalah kemitraan dilandasi kesetaraan.

 

 

 

Advertisement