
REAKSI keras Arab Saudi merespons kritik Kanada terkait persoalan HAM di negerinya mencerminkan belum berubahnya kebijakan konservatif kerajaan tersebut pasca reformasi yang dilancarkan Pangeran Mohammed bin Salman.
.
Kegusaran rezim Arab Saudi memuncak akibat cuitan di akun Menlu Kanada Chrystia Freeland yang kemudian disusul cuitan resmi Kementerian Luar Negeri Kanada yang mengritik praktik pelanggaran HAM di Arab Saudi.
Secara spesifik, Kanada mengecam penangkapan yang dilakukan otoritas Arab Saudi terhadap sejumlah aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan seperti Samar Badawi, Nassima al-Sada, Aziza el Jousef dan Aiman al-Nafyan.
Selain mengusir Dubes Kanada di Riyadh Dennis Hosak, pemerintah kerajaan Arab Saudi juga membatalkan sejumlah kesepakatan bisnis serta meminta 16.000 mahasiswanya yang sedang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Kanada untuk pindah ke negeri lain.
Yang dibatalkan a.l. perjanjian dagang senilai empat miliar dollar AS (sekitar Rp56 triliun)dan pembelian alusista sebesar 13 milyar dollar AS (Rp196 triliun) akibat kemelut diplomatik kedua negara tersebut.
Dengan nada keras Pangeran Salman mengingatkan bahwa Riyadh tidak akan membiarkan negara mana pun mencampuri urusan dalam negerinya. Keputusan Saudi didukung oleh sejumlah negara Arab lainnya seperti Bahrain, Uni Emirat Arab dan Palestina.
Arab Saudi sebelumnya juga pernah menarik dubesnya dari Stockholm pada 2015 akibat kritik yang dilontarkan Swedia tentang kondisi HAM di negeri tersebut, begitu pula dengan Jerman yang diturunkan tingkat hubungan dagangnya akibat mengkritisi blokade Arab Saudi atas Qatar pada 2017.
Arab Saudi sejah ini berpandangan, sikap kritis warga, lembaga dan negara lain terhadap negaranya merupakan ancaman terhadap sistem kekuasaan monarki.Sikap keras di kalangan istana juga ditunjukkan Pangeran Mohammed November lalu dengan menangkap 11 pangeran, empat menteri dan puluhan mantan menteri pada November lalu.
Walau pun tokoh-tokoh yang diciduk tersebut dituduh tersangkut perkara korupsi, tujuan lain penangkapan agaknya untuk mengamankan kekuasaan Pangeran Mohammed dari intrik-intrik di lingkungan keluarga besar Al-Saud yang berkuasa.
Arab Saudi memandang Kanada yang mulai mengusik-usik isu HAM di negerinya sebagai upaya untuk mereduksi nilai-nilai reformasi yang sedang digalang oleh Pangeran Mohammed, bahkan juga merusak citra dirinya yang ingin dinobatkan sebagai tokoh reformis di negerinya.
Sementara PM Kanada Justin Trudeau menyataan bahwa negerinya tidak ingin memiliki hubungan buruk dengan negara lain termasuk Arab Saudi, namun demikian akan tetap menyerukan pembelaan terhadap HAM.
Krisis diplomatik kedua negara menyulut ke isu-isu lainnya, misalnya dari Arab Saudi muncul cuitan balasan yang menyerukan agar Quebec melepaskan diri dari Kanada.
Di era now , saling mengingatkan antarnegara mitra sesuatu yang lumrah dan perlu, sepanjang yang diingatkan tidak gusar atau sampai sakit hati. (AP/AFP/Reuter/ns)




