PENDAWA NGENGER

Prabu Matswapati bergembira karena yang bisa membunuh Kencarupa-Rupakenca ternyata Bima.

ORANG yang terlalu jujur dan lugu memang tak bisa berpolitik. Begitulah keluarga Pendawa Lima seperti Puntadewa-Bima-Permadi dan Nakula-Sadewa. Ditambah kurang baca buku dan koran, mereka jadi mudah dikadali wayang lain. Celakanya, Pendawa Lima ini ketemu Patih Sengkuni dari negeri Ngastina. Langsung saja jadi korban plekotho-isme. Diajak main judi dengan mempertaruhkan negara, kok mau saja.

“Kalau nakmas Puntadewa Cs menang, negeri Ngastina bisa kalian kuasai dengan cepat, tanpa divestasi saham 51 persen segala.” Bujuk Patih Sengkuni, yang rupanya menganggap Pendawa Lima ini memang sekelompok wayang pekok.

“Lalu judinya model apa? Kami tak bisa main rolet atau kartu ceki, tahunya main dadu.” Jawab Puntadewa jujur.

Ternyata Patih Sengkuni menyatakan, itu tak masalah. Main dadu tak perlu memeras otak, dan tak dipajaki negara lagi. Maka di pagelaran Kraton Ngastina, permainan dadu antara Pendawa dan Kurawa itu dilangsungkan. Dan benar saja, begitu perjudian dilaksanakan dengan liciknya, kubu Ngamarta kalah. Negeri Ngamarta terampas, bahkan Drupadi istrinya nyaris di “sum kuning”-kan oleh anak-anak Kurawa

“Aku melarat karena judi, berjudi boleh saja asal ada artinya..…..”, begitu raja dangdut Rhoma Irama pernah mengingatkan lewat lagunya. Sayangnya, keluarga Pandawa tak pernah beli kaset tersebut, sehingga mereka tidak tahu bahaya judi dan begadang. Makanya ketika diplekotho (diakali) oleh Patih Sengkuni untuk bermain judi dengan taruhan negara, mereka mau saja.

“Maaf ya, sekarang negara Ngamarta kami kuasai, kalian harus segera pergi sesuai dengan perjanjian.” Kata Patih Sengkuni.

“Minta tempo habis Lebaran haji dong.” Usul Bima.

Keluarga Ngastina menolak. Ya sudah, nasi telah menjadi bubur. Puntadewa bersama ke-4 adiknya termasuk juga sang istri Drupadi dan Dewi Kunti sang ibu, kini benar-benar telah hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal kolor doang, kehilangan negara dan harus minggat ke dalam hutan selama 13 tahun. Ndilalahnya Pakde Jokowi dari negeri Indonesia juga tidak mengetahui, sehingga mereka tak pula mendapat Kartu Indonesia Wareg (KIW).

“Kita sudah menjadi kere semua nih. Bagaimana kalau teken transmigrasi saja ke Kalimantan?” Bima alias Werkudara mengusulkan.

“Aku nggak bisa bekerja kasar dimas. Agar cepat kaya, sebaiknya kita jadi anggota DPR saja.”

“Telat. Pendaftaran caleg sudah ditutup, bahkan nama-nama DCS (Daftar Calon Sementara) sudah mau diumumkan.” Potong Permadi non SH yang tak pernah jadi jadi paranormal.

Puntadewa benar-benar pusing, bagaimana memperbaiki masa depan keluarganya yang kadung bangkrut-krut tinggal entut. Di kala mereka belum juga menemukan solusi, tiba-tiba muncul seseorang yang menawari pekerjaan. Kalau mau, ada lowongan di negeri Wiratha. Pekerjaannya banyak, bisa yang kasaran, bisa pula yang alusan. Gajinya sebulan Rp 5.000.000,- dapat makan dalam dan fasilitas perumahan. Yang hobi ngerokok juga dapat rokok Minakjinggo sebatang sehari.

Gaji sebulan Rp 5.000.000,- sungguh sudah di atas UMP (Upah Minimun Perwayangan). Tapi itu pun masih kotor, karena harus dipotong Rp 500.000,- oleh pihak outsorching, Tumenggung Brajanala. Tapi bagaimana lagi, dari pada jadi pengamen biskota, Puntadewa Dkk terpaksa menyetujui.

“Di Wiratha tiap tanggal 1 Mei juga diliburkan?” Puntadewa menyelidik.

“Libur dan dibolehkan demo sebebas-bebasnya.” Jawab Brajanala sang calo tenaga kerja.

Puntadewa serombongan diberangkatkan ke Wiratha naik prahoto (truk). Semula mau diterima langsung oleh Prabu Matswapati. Tapi karena sang prabu sibuk temu kader partai untuk perbaikan DCS (Dafar Calon Sementara), mereka diserahkan kepada Patih Kencarupa – Rupakenca. Ternyata kedua patih ini tak tahu siapa sebenarnya sosok para calon TKW (Tenaga Kerja Wayang) ini, sehingga mereka dilayani biasa saja, bahkan cenderung arogan. Tapi bagi Puntadewa Dkk, ini justru lebih menguntungkan, karena takkan diketahui oleh wayang-wayang Ngastina.

“Wah, wah, kok kurus kering begini. Yang perkasa cuma satu ini, siapa namamu? Pernah kerja di Pasar Induk, ya?” Patih Kencarupa bertanya penuh kesombongan.

“Namaku Bima, tanggal lahir……”

Bima tak jadi menyampaikan curiculum vitae-nya, karena langsung dipotong Patih Wiratha. Katanya, kerja di sini tak perlu ijazah dan pengalaman kerja, yang penting kerja kerja kerja…… dan tak banyak menuntut. Berdasarkan seleksi kilat, Puntadewa – Bima  dan Nakula Sadewa dipekerjakan di bagian pembuatan alat-alat rumahtangga, dari panci, penggorengan sampai pacul. Sedangkan Kunthi, Drupadi beserta Permadi –yang seperti perempuan– di bagian dapur kerajaan.

Apa yang pernah dijanjikan Tumenggung Brajanala, hanyalah isapan jempol belaka. Ada fasilitas perumahan, ternyata maksudnya tinggal di barak berlantai mester. Bima Dkk istirahatnya di situ, dengan alas tikar plastik, bantal…..lengan masing-masing. Mereka kerja dari jam 08.00 hingga pukul 22.00. Makan hanya 2 kali dengan porsi sangat terbatas. Bagi Bima yang jago makan, tentu saja bikin nggragas, sehingga suka nyolong-nyolong bakari tela munthul (ubi jalar). Tapi resikonya, bila ketahuan Patih Kencarupa atau Rupakenca, pasti kena tempeleng.

“Baru jadi buruh pabrik saja sudah korupsi, bagaimana kalau kalian jadi anggota DPR dan bupati?” maki kipatih dan Bima pun disel di kamar pengap sebagai hukuman.

Begitulah, Puntadewa dan adik-adiknya diperlakukan seperti budak belian oleh Patih Kencarupa. Pernah mereka mau kabur, tapi malah Satpamnya diganti tentara yang pegang “munthu”. Bima pernah juga disel di kamarnya, dikunci dari luar. Puntadewa juga pernah disundut rokok gara-gara salah bikin penggorengan. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mau kabur, di luar juga belum tentu nasibnya lebih bagus.

Patih Kencarupa ini tipe pengusaha yang menganggap buruh sebagai alat produksi. Jadi dia sengaja membayar buruh semurah mungkin, bahkan gaji Puntadewa Dkk sudah berbulan-bulan tak pernah dibayarkan dengan alasan ditabung. Nanti diambil menjelang Lebaran, itung-itu sebagai THR.

“Kalian kan sudah dijamin segalanya, buat apa pegang uang? Bukankah fasilitas di sini sudah cukup memadai?” kata Patih Kencarupa.

Puntadewa – Bima beserta adik-adik terus bertahan dalam derita. Tapi demi melihat  bahwa Drupadi menangis tersedu-sedu, karena nyaris diperkosa oleh Patih Kencarupa dan Rupakenca, habis sudah kesabaran Sang Bima. Ini patih benar-benar kurang ajar. Tubuh boleh diinjak-injak, tapi harga diri, jangan coba-coba.

“Sabarlah mbakyu Drupadi, Kencarupa-Rupakenca harus terima pembalasanku,” kata Bima dan langsung mencari kedua patih laknat itu.

“Jangan emosi, Dimas. Nanti hukuman kita makin diperberat,” Puntadewa mencoba mengingatkan, tapi tak digubris.

Kala itu Patih Rupakenca dan Kencarupa sedang diskusi tentang kemungkinan menaikkan harga BBM, yang tanpa membebani rakyat. Tapi belum sampai ketemu kata putus, mendadak datang Bimasena. Tanpa ba bi bu lagi, keduanya dihajar habis-habisan, dan kepalanya diadu hingga pecah dan tewaslah keduanya.

Gegerlah negeri Wiratha. Awalnya Prabu Matswapati marah atas kematian kedua patihnya. Tapi setelah tahu bahwa Puntadewa Cs adalah anak-anak Pendawa yang sedang didzolimi oleh Ngastina, mereka direhabilitasi. Mereka diberi pekerjaan yang lebih layak, bahkan Bima ditugasi mengelola BUMN yang boleh dijual bila mana perlu.

“Kalau ditentang DPR?” kata Bima.

“Kasih saja mereka duit, beres.” Ujar Prabu Matswapati bisik-bisik.  (Ki Guna Watoncarita)