
KEANGGOTAAN Turki dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) termasuk keberadaan Brigade ke-39 AU Amerika Serikat di pangkalan udara incirlik sejauh ini tidak (belum) terganggu akibat memburuknya hubungan dagang AS – Turki belakangan ini.
Hubungan ekonomi kedua negara ditandai dengan perang tarif bea masuk terhadap sejumlah barang-barang ekspor masing-masing, bahkan merambat ke ranah politik setelah AS mengancam akan mengenakan sanksi lebih keras lagi terhadap Turki jika tidak membebaskan Pendeta Andre Brunson yang dituduh teribat aksi makar di negeri itu.
Turki merupakan pasar keempat terbesar bagi produk ekspor AS dengan nilai 12 milyar dollar AS, sebaliknya AS merupakan pasar kelima terbesar bagi produk ekspor Turki yang mencapai 8,7 milyar dollar AS. Pemerintah Turki juga menyerukan pada raakyatnya untuk memboikot produk-produk AS.
Walau tergabung dalam 28 negara anggota NATO pimpinan AS, Turki dan AS berbeda pandang di sejumlah isu misalnya di Suriah, AS mendukung kelompok separatis etnis minoritas Kurdi di Turki yang yang tergabung dalam Unit Perlindungan Rakyat (YPG) dan Partai Uni Demokrasi (PYD) dalam memerangi milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Kisruh antara Turki dan AS diperburuk oleh keputusan Turki membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumpf buatan Rusia alih-alih membeli pesawat tempur generasi terbaru F-35 Lightning yang ditawarkan AS.
Selain kehilangan transaksi milyaran dollar AS akibat pembatalan pembelian pesawat temur generasi kelima itu, AS juga cemas, penempatan S-400 di Turki tidak kompatibel dengan sistem NATO dan berpotensi mengancam pesawat-pesawat tempurnya.
Namun NATO bagi AS dan Turki tentu saja menjadi taji sebagai kekuatan pemukul serta penangkal terhadap kemungkinan serangan dari Rusia, mengingat sejumlah negara sempalan Uni Soviet seperti Latvia, Lithuania dan Estonia, dan bekas anggota Pakta Warsawa seperti Albania, Bulgaria, Cekoslowakia dan Rumania yang bergabung ke dalamnya.
Pangkalan Incirlik yang berada di Provinsi Adana, Turki memiliki posisi strategis bagi AS karena memiliki akses langsung ke Laut Tengah, pernah digunakan sebagai pangkalan pesawat-pesawat udara kekuatan koalisi pimpinan AS saat Perang Teluk melawan Irak beberapa tahun lalu.
Laut Tengah atau Laut Mediteranea bagian timur juga disebut-sebut memiliki cadangan gas terbesar di dunia, dan lebih dari itu, bisa dikatakan bahwa siapa yang mampu mengontrol Laut Tengah akan mampu pula mengontrol kawasan Timur Tengah dan menjadi pintu masuk ke kawasan Asia.
Dari pangkalan Incirlik, AS juga bisa membayang-bayangi skuadron udara Rusia yang ditempatkan di pangkalan Khmeimim, Suriah yang hanya terpisah pada jarak 300 Km.
Walau sejauh ini masih belum terusik, wacana pangkalan udara Incirlik paling tidak, pernah disuarakan oleh Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik yang menyebutkan Februari lalu bahwa pemerintahnya bisa saja melakukan hal itu jika kebijakan yang diambil AS bergerak ke arah berlawanan dari kepentingan negaranya. Yang jelas, dalam persoalan Kurdi, kepentingan AS dan Turki memang bertolak belakang.
Namun ketika didesak wartawan, Isik mengatakan, ia tidak akan menyampaikan keputusan untuk menutup pangkalan Incirlik secara terbuka, melainkan akan mengacu pada mekanisme pengambilan keputusan kasus per kasus.
Yang jelas, tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali ketidakpastian itu sendiri, termasuk hubungan antarnegara, dan tidak ada pula lawan atau teman yang abadi, kecuali kepentingan.(AP/AFP/Reuters/NS)




