AMBON – Tim kesehatan gabungan dari Dompet Dhuafa, Univeritas Negeri Patimura (Unpati), dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) datang ke pengungsian di Pulau Haruku yang berada di tengah hutan.
Butuh waktu lama dan medan menanjak bagi tim kesehatan gabungan untuk menjangkau pengungsian warga-warga di Pulau Haruku, dan menemui Saher (4), anak yang sedang kesakitan di pengungsian.
“Saher sejak gempa sulit untuk ceria. Demamnya tidak berhenti dan suka menangis,” terang ibunya, menyampaikan keluhan putranya kepada dokter.
Tenda berukuran 4×7 meter menjadi tempat berlindung bagi Saher dan dua anggota keluarga lainnya. Setidaknya ada tiga balita, satu bayi dan satu lansia di tenda tersebut. Semuanya bergantiaan untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter yang bertugas. Keluhannya tidak jauh berbeda. Demam, batuk, dan gatal-gatal nyaris dialami oleh mereka.
“Paling banyak demam dan gatal-gatal. Balita, bayi dan lansia menjadi prioritas kami,” terang salah satu dokter.
Medan berlumpur dan curam sudah normal bagi para relawan kesehatan. Belum lagi peralatan medis dan obat-obatan yang berat, tetap mereka bawa.
“Sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai putri daerah, kami lahir di sini besar juga di Maluku, menimba ilmu juga di sini. Maka, dengan begitu ketika bencana seperti datang, kami semua harus turun tangan ikut membantu,” terang Rere, dokter asal Unpati, dilansir laman dompetdhuafa.org, Senin (7/10/2019).
Pulau Haruku yang berjarak 30 menit perjalanan laut dari Ambon, menjadi salah satu wilayah terdampak gempa. Berbeda dengan Pulau Ambon, di Pulau Haruku, warga mengungsi dalam kelompok kecil dan terpencar di perbukitan dan hutan.
Tim respon gempa Maluku tetap melaksanakan tugasnya dengan membagi pergerakan tim ke beberapa titik.
“Kami coba bagi beberapa tim di Pulau Haruku. Beberapa tim kesehatan ada yang mobile bergerak ke berbagai titik untuk menjangkau pengungsi,” terang Maizar Helmi, Kordinator Respon tim Dompet Dhuafa untuk Gempa Maluku.





