
DALAM dunia pakeliran, sosok Dewi Antiwati memang tokoh kurang dikenal. Dia adalah istri Udawa, patih negeri Dwarawati. Bapaknya adalah Patih Sengkuni, politisi culas dari negeri Ngastina, sedangkan ibunya ….inilah yang masih gelap. Sebab pakeliran gaya Surakarta, Yogyakarta maupun Banyumas tak pernah menyebutnya. Ketimbang pusing, sebut saja nama istri patih Ngastina itu adalah: ….. Nyonya Sengkuni.
Dari perkawinan mereka, lahir tiga anak masing-masing Antisura, Antiwati, Surabasah. Kenapa si sulung diberi nama sama dengan gajah kehormatan negeri Ngastina? Karena Patih Sengkuni ingin anak sulungnya itu tetap eksis siapa pun penguasa di negeri Ngastina. Asal tahu saja, gajah Antisura kendaraan raja telah ada sejak Ngastina dipimpin Prabu Palasara.
“Kenapa pula keluarga Patih Sengkuni memberi nama anak demen pakai kata “anti” ya?” kata wayang akar rumput pada temannya.
“Karena keluarga patih Sengkuni ini setiap bepergian selalu bawa tablet Antimo, untuk mencegah mabuk udara, darat, laut dan kepolisian.” Jawab si teman seenaknya.
Antiwati memang dikenal akan kecantikannya, sehingga dulu sempat pula diperebutkan oleh Sarjokesuma, putra Prabu Duryudana. Sebenarnya Patih Sengkuni setuja-setuju saja, sebab jika dia berhasil besanan dengan Prabu Duryudana, akan makin meningkat nama dan rejekinya. Sayang, Antiwati lebih memilih Patih Udawa yang kalah ngetop dengan Sarjokesuma, karena prinsip Udawa memang hanya satu: kerja, kerja, dan kerja!
“Aku tak mau punya suami lholhak-lholhok (kekanak-kanakan), selalu bergantung pada orangtua. Mending Patih Udawa, sudah jelas posisinya. Sedangkan Sarjokesuma, meski putra mahkota, tapi tak jelas kapan dilantik jadi raja. Apa lagi ada isyu santer, Ngastina mau pakai sistem republik, makin jauh dia jadi raja.” Begitu alasan Antiwati.
“Ya terserah kamu sajalah. Yang penting kamu sayang dan cinta pada suamimu, ketimbang nanti kamu kawin sama Sarjokesuma tapi masih punya PIL juga.” Jawab Patih Sengkuni yang rupanya mengacu asas tut wuri handayani.
Isyu Ngastina berbentuk republik memang sedang mencuat di Ngastina, ini sama kerasnya dengan isyu negeri Ngamarta mau dijadikan negeri khilafah. Begawan Abiyasa yang pelihara jenggot dan ke mana-mana pakai jubah, dicurigai sebagai wayang radikal. Padahal jika dirunut ke belakang, para dewa di kahyangan rata-rata juga jenggotan dan pakai jubah, tapi tak pernah dicurigai oleh dalang dan pesindennya.
Di jagad pakeliran, jika ada resi moderat adalah Resi Seta dari pertapan Sukohini. Dia tak pelihara jenggot, juga tak berjubah sebagaimana Resi Bisma dan Begawan Durna yang disebut pula Resi Kumbayana. Karenanya Bisma dan Seta suka berseberangan dalam setiap menanggapi isyu politik.
“Perang Baratayuda sebuah keniscayaan, untuk menguji kebatilan harus kalah melawan kebenaran,” kata Resi Bisma saat ditanya pers dari media online.
“Perang Baratayuda bisa dicegah bila dewa punya political will. Perang Baratayuda menghancurkan perekonomian dua negara, Pendawa dan Kurawa. Ketimbang APBN dikuras untuk perang, mendingan digunakan untuk membangun infrastruktur,” kata Resi Seta tak mau kalah.
Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) ternyata sudah menjadi ketentuan dewa di kahyangan di mana derajat keabsahannya seperti TTS di majalah dan koran, lantaran keputusan dewan juri tak bisa diganggu-gugat. Cuma setelah jaman now seperti dewasa ini, ketika demokrasi dibuka seluas-luasanya, wayang ngercapada pun berani mengkritisi dan nyinyir pada penguasa kahyangan. Jangankan SBG (Sanghyang Betara Guru), Sangyang Wenang pun banyak yang mengolok-olok dan membully.
Skenario PBJ sudah dibuat rapi oleh para dewa di Jonggring Salaka, dalam buku Kitab Jitapsara. Panitia penyusunannya diketuai Betara Penyarikan, tanpa melibatkan sutradara handal Deddy Mizwar maupun Hanung Bramantyo. Sayang, apa isinya, itu menjadi rahasia kahyangan dan titah (makhluk) ngercapada dilarang mengetahui. Para wayang nantinya tinggal melaksanakan saja.
“Era demokrasi macam sekarang, arus informasi malah ditutup oleh kahyangan. Padahal wayang sebagai obyek PBJ perlu adanya transparansi dari kahyangan,” kata ketua Komnas HAM Ngastina, Durmagati.
“Ini sama saja Jonggring Sala meniru gaya Orde Baru.” Tambah Citraksa yang sering diledek sebagai “kadal gurun” itu.
Di kala kawula ngarcapada heboh membicarakan Kitab Jitapsara yang misterius itu, mendadak terjadi peristiwa mengejutkan, Resi Seta dari pertapan Sukohini, ditusuk wayang tak dikenal tepat di bagian dadanya. Untung saja dia punya ajian Lembu Sekilan, sehingga keris itu hanya menancap 5 Cm, tapi si penusuk merasa masuk seluruhnya sampai 20 Cm, menyentuh G-Spot. Resi Seta berhasil diselamatkan.
Wayang Pendawa di Ngamarta tentu saja marah dan prihatin atas kejadian itu. Tapi di medsos, banyak juga yang menganggap bahwa penusukan Resi Seta sekedar settingan Ngamarta demi menunda pelaksanaan PBJ. Saking nyinyirnya, bahkan banyak wayang cewek nyukurin penasihat Pendawa itu.
“Cemen, ditusuk begitu saja kok KO. Kenapa Seta nggak mati sekalian?” ledek Dewi Antiwati istri Udawa dalam postingannya di FB.
“Ah, itu hanya settingan. Aku yang bisa main film, tahu persis soal tipu-tipu adegan.” Kata Limbuk saat ngetwit.
Tentu saja banyak wayang Pendawa dan Ngamarta yang menyayangkan komentar itu. Masak Antiwati istri patih Udawa komentar begitu. Dasar anak Sengkuni, kelakuan bapak-anak tak jauh beda, suka nyinyir pada Keluarga Pendawa. Dia lupa bahwa sudah menjadi istri patih Dwarawati, yang selama ini pro dengan Pandawa.
Prabu Betara Kresna yang menjadi penasihat PBJ dari kubu Pendawa, tentu saja marah istri Patih Udawa berkomentar begitu. Langsung saja Udawa dipanggil, dan diomeli habis-habisan.
“Kakang Udawa itu gimana sih? Masak istri sampai berkomentar begitu? Kamu nggak bisa mendidik istri, ya? Tahu nggak, gara-gara binimu ngomong begitu, hancur citraku di mata Pendawa.”
“Maaf Sinuwun, saya nggak ngerti Antiwati sampai segitunya. Dia memang sejak sering ikut pengajian kelompok wayang radikal, jadi berani sama aku, suka melawan. Maaf, sekali lagi maaf.” Ujar Patih Udawa sambil menyembah-nyembah.
Prabu Kresna sudah kadung marah luar biasa, tapi tak sampai jadi buta (raksasa) Brahala. Untuk pembelajaraan, Udawa langsung dicopot sementara sebagai patih Dwarawati, dan sebagai Plt-nya ditunjuk Haryo Setyaki. Sedangkan Dewi Antiwati sudah dilaporkan ke polisi, sebentar lagi pasti jadi tersangka pelanggaran UU ITE.
Dengan langkah gontai, eks Patih Udawa kembali ke kepatihan, mengomeli istrinya habis-habisan. Itu hasilnya suka ikut pengajian wayang radikal, menganggap pejabat negara sebagai togut. Udawa khawatir, istrinya nanti makin tercuci otaknya, sehingga mau ikut praktek “amaliyah”, bunuh diri dianggap sebagai jihad.
“Tahu nggak kamu? Gara-gara kamu nyinyir di medsos, saya diberhentikan sebagai patih Dwarawati. Apa kamu nggak malu, jika nanti aku terpaksa jadi agen pulsa atau gas melon untuk nyambung hidup.”
“Maafkan kangmas, aku nggak mikir ke sana….” Kata Dewi Antiwati sambil nangis. Dia menyadari sekarang, bahwa dirinya cantik, tapi gobloknya nggak ketulungan.
Resi Seta sudah mulai sehat kembali, sudah bisa beraktifitas di pertapan Sukohini. Sedangkan penusuknya yang bernama Tumenggung Mantrakendho, memang sedang menjalankan misi “amaliah” untuk masuk suwarga tunda sanga sistim kilat. Yang paling mengejutkan, dia mengaku sebagai suruhan Patih Sengkuni. Sebab berdasarkan bocoran Wikileaks, dalam skenarip Kitab Jitapsara dituliskan: Sengkuni lawan Resi Seta, yang mati Sengkuni. Untuk menggagalkan skenario itu, Patih Sengkuni sengaja nyuruh wayang lain untuk membunuh Seta.
Adapun Dewi Antiwati, gara-gara Udawa jadi penganggur mendadak, kemudian dibayang-bayangi bakal ditangkap polisi, jadi stress. Tambah-tambah sang ayah, Patih Sengkuni juga ditahan Polda Metro Jaya, kini dia menjadi gila dadakan. Kelayapan ke mana-mana sambil nyanyi, “Awan-awan mlaku ngulon, tiwas edan ora klakon!”. Kasihan memang, dulu ada lakon “Srikandi edan”, kini “Antiwati edan”. (Ki Guna Watoncarita)


