
SETELAH beberapa kali isu tentang kematian Abu Bakar al-Baghdadi terbantahkan, kali ini Amerika Serikat mengonfirmasi terbunuhnya pemimpin tertinggi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) itu.
“Abu Bakar al-Baghdadi sudah tewas, “ seru Presiden AS Donald Trump dalam keterangannya di Gedung Putih, Minggu (27/10) terkait operasi rahasia yang dilancarkan di barat laut Suriah akhir pekan lalu.
Trump memuji operasi di tengah kegelapan malam tersebut yang dinilainya sangat berani dan berbahaya berakhir sukses tanpa kehilangan seorang personil pun.
Al-Baghdadi yang memproklamasikan kehilafahan NIIS di mesjid Al-Nuri, Mossul, Irak, 29 Juni 2014, menurut versi AS, tewas dengan meledakkan rompi mesiu yang dikenakannya saat diburu satuan AS di sebuah terowongan. Bersama al-Baghdadi, ketiga anaknya juga dilaporkan tewas dalam serangan itu.
Namun AS juga tidak mengesampingkan dukungan intelijen Irak yang berhasil mengendus lokasi persembunyian al-Baghdadi sejak tahun lalu dan juga berkat kontribusi pihak lain di balik sukses operasi tersebut.
Selain Raqqa di Suriah yang dijadikan ibukota NIIS bersama Mossul, kekhalifahan pimpinan al-Baghdadi mencakup wilayah yang luas seperti provinsi Aleppo dan Deir Ezzor.
Seruan al-Baghdadi menginspirasi kelompok Islam garis keras termasuk di Indonesia untuk bergabung dalam perang Suriah dan mengupayakan berdirinya kilafah, menggantikan NKRI yang berdasarkan Pancasila.
Kelompok-kelompok fundamentalisme seperti JAD yang tertangkap saat menyiapkan aksi teror atau melakukan aksinya seperti penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto Sept. lalu juga anggota kelompok tersebut yang berafiliasi dengan NIIS.
NIIS yang semula bernama Negara Islam di Irak (ISI) berasal dari kelompok Al Qaeda bentukan aliran Islam Sunni pasca invasi AS ke Irak pada 2003 yang lalu bergabung dengan kubu penentang rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Kehadiran NIIS malah membuat pihak-pihak yang saling berseteru di Suriah, AS, pasukan perlawanan Suriah dan milisi Kurdi dan di kubu lawannya, Rusia, rezim Bashar al-Assad, Turki dan Iran justeru bersatu memeranginya.
Satu per satu wilayah yang dikuasai NIIS jatuh ke kubu lain, sementara el-Baghdadi harus berpindah-pindah karena terus diburu AS, sampai akhirnya dipastikan tewas.
Pertanyaannya, apakah kepergian al-Baghdadi juga mengakhiri sepak terjang NIIS? Tidak tergantikan kah kepemimpinnnya?
Kewaspadaan terus dituntut, karena faham radikalisme bisa muncul sewaktu-waktu jika kita lengah, di tengah kemiskinan, ketidak adilan dan di bawah rezim otoriter.




