
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan rapat di Gedung Putih, Sabtu (18/4) pagi waktu setempat di tengah kegagalan negosiasi dengan Iran.
Washington dan Teheran, seperti dilaporkan AFP, berada pada titik kritis, sementara itu, belum ada jadwal pasti yang ditetapkan untuk pertemuan baru antara negosiator kedua negara.
Seorang pejabat AS mengatakan, pertemuan di Gedung Putih dihadiri Wapres JD Vance, yang diperkirakan akan berpartisipasi dalam negosiasi putaran berikutnya dengan Iran.
Hadir pula dalam pertemuan itu Menlu Marco Rubio, Menhan Pete Hegseth, Menkeu Scott Bessent, dan Direktur CIA John Ratliffe.
Seorang pejabat senior AS melaporkan, jika tidak ada terobosan dalam waktu dekat, perang dapat berlanjut dalam beberapa hari mendatang.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan pada hari Sabtu bahwa AS mengajukan proposal baru selama pembicaraan, dan bahwa Iran sedang meninjau proposal tersebut, tetapi belum merespons.
Iran Jumat (17/4) mengumumkan, Selat Hormuz dibuka untuk semua kapal komersial, menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Trump menyambut baik hal itu dan mengucapkan terima kasih kepada Teheran. Namun, ia juga mengumumkan meski selat tersebut telah dibuka, militer AS akan tetap melakukan blokade.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa selat Iran (Hormuz) telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui secara penuh.
“Terima kasih!” ujar Trump di Truth Social. “Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis dan pelayaran penuh, tetapi blokade AL akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi dengan Iran selesai 100 persen,” tambahnya.
Iran tutup kembali Selat Hormuz
Merespons hal itu, selang sehari setelah membukanya, IRGC menutup kembali Selat Hormuz Sabtu (18/4), dengan alasan AS melanggar janji negosiasi.
“Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata,” kata IRGC, dilansir Kompas.com, Sabtu (18/4).
Status Selat Hormuz tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi semula, sampai AS memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal.
Menyaksikan pengerahan belasan kapal perang armada AL AS termasuk tiga kapal induk (USS Abraham Lincoln, US Gerald Ford dan USS George W Bush), dan pernyataan terakhir Presiden Trump, agaknya perang berikutnya tak terhindarkan.
“Mungkin saya tak akan memperpanjang (gencatan senjata) lagi. Kami akan tetap memblokade (Selat Hormuz) dan sayangnya, kami akan menjatuhkan bom lagi, ” ujarya.
Dalam satu dua hari ke depan ini agaknya, jadi tidaknya perang berlanjut atau perdamaain yang muncul hanya bisa diterka-terka, karena perang menyangkut berbagai dimensi, mulai dari taktik, stratgi, diplomasi, pmenangan opini dan persespi publilk masing-masig mpun dunia. (AFP/ns)/




