
GENCATAN senjata dua pekan terhitung sejak 8 April lalu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bakal berakhir, Rabu (22/4), namun belum indikasi ada tanda-tanda ada yang mengalah, bahkan ketegangan meningkat setelah kapal perag AS menembak tanker Iran.
Sejak serangan udara masif yang dilancarkan koalisi AS dan Israel ke Iran 28 Feb lalu, baru terjadi perundingan pertama yang dimediasi Pakistan di Islamabad (11/4) dan berakhir tanpa hasil.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya,” tulis Trump, Minggu (19/4), sambil kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Iran juga sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4) sebagai respons atas gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon, tetapi menutupnya lagi keesokan harinya setelah AS tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Teheran.
Jubir Kemenlu Iran Esmaeil Baqaei menyebut blokade itu sebagai “pelanggaran” terhadap gencatan senjata dan bentuk hukuman kolektif ilegal terhadap rakyat Iran.
Sejumlah kecil kapal tanker minyak dan gas sempat melintasi Selat Hormuz, Sabtu pagi (18/4) saat pembukaan singkat berlangsung, namun pada Minggu pagi data pelacakan menunjukkan alur perairan utama tanker pengangkut minyak itu kembali kosong dari lalu lintas kapal.
Sore sebelumnya, tiga insiden berupa tembakan dan ancaman Iran terhadap kapal-kapal komersial menunjukkan tingginya risiko setiap upaya penyeberangan.
gelora perang
Sementara itu, militer Iran bersumpah akan membalas tindakan kapal perusak AS yang menembaki kapal kargonya di Teluk Oman, Minggu (19/4).
Insiden ini terjadi setelah kapal tersebut dituding mencoba menghindari blokade laut AS.
“Kami ingatkan, AB Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata militer AS ini,” kata Jubir Pusat Komando Militer Iran, Khatam Al-Anbiya, seperti dikutipoleh kantor berita ISNA.
Teheran menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 8 April lalu.
Ketegangan ini memuncak hanya dua hari sebelum masa gencatan senjata tersebut resmi berakhir pada Rabu (22/4/2026).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, kapal Iran bernama Touska itu mengabaikan perintah peringatan untuk segera menghentikan lajunya.
“Kapal perusak rudal USS Spruance menghentikan mereka tepat di tempatnya dengan membuat lubang di ruang mesin,” tulisnya di Truth Social, dikutip dari AFP, Senin (20/4).
“Saat ini, Marinir AS telah mengamankan kapal tersebut dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya!” tambahnya.
Trump menuturkan, kapal Touska merupakan salah satu armada yang masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS karena memiliki riwayat aktivitas ilegal.
Berdasarkan data dari Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS, Touska terdaftar sebagai kapal kontainer berbendera Iran yang dikenai sanksi.
Dalam pernyataan resminya, Komando Pusat AS (Centcom) menjelaskan bahwa Touska tengah berupaya berlayar menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran.
Kapal USS Spruance kemudian menembakkan beberapa peluru dari meriam kaliber lima inci untuk melumpuhkan sistem penggerak kapal setelah awak kapal diperintahkan untuk mengosongkan ruang mesin.
Tidak ada yang bisa mmastikan apa yang terjadi menjelang dua hari berakhirnya tenggat waktu gencatan senjata.
Bisa saja, di menit-menit terakhir ada yang berubah sikap, seperti beberapa jam menjelang berakhirnya ulitmatum Presiden AS Trump di mana Iran akhirya menyatakan bersedia berunding di Islamabad (11/4) yang gagal menghasilkan kesepakatan (CNN.AFP/ISNA/ns)




