
NENEK moyang manusia pertama dari trah ibu, berdasarkan hasil riset genetika terbaru, tinggal di wilayah Botswana, Afrika bagian selatan sekitar 200-ribu tahun lalu.
Riset terbaru jurnal Nature (Kompas, 30/10) mengungkapkan, lokasi persisnya awal leluhur manusia masih menjadi perdebatan walau secara antropologis dan genetika disepakati bahwa seluruh homo sapiens (manusia modern) berasal dari leluhur sama.
Antropolog Vanessa Hayes dari Garvan Institute of Medical Research dan University of Sydney ang memimpin riset menyebutkan, asal manusia pertama ditemukan dari hasil analisis DNA mitokondria (mtDNA) terhadap 1.200 orang di Afrika dan membandingkannya dengan bank gen manusia di dunia.
DNA (deoksiribonukleat acid) adalah materi genetika di dalam tubuh manusia yang diwarisi dari kedua orang tua, sedangkan mtDNA adalah mata rantai DNA yang ciri dan ukurannya berbeda dengan nukleus DNA.
Menurut Hayes, mtDNA yakni materi genetika setiap organisme bagai lorong waktu yang menyimpan informasi leluhur perempuan manusia.
Berbeda dengan sistem genetik inti mengikuti Hukum Mendel (teori tentang pewarisan sifat organisme), mtDNA diwariskan secara maternal (garis ibu) yang lalu mewariskan (mtDNA) ke seluruh keturunannya, dan kemudian anak perempuan menurunkan lagi ke generasi berikutnya.
Seluruh manusia modern, berdasarkan riset tersebut, mewarisi gen mtDNA dari kelompok besar “L”, terdiri dari “L1”, “L6” dan “LO”.
Dengan membandingkan ketiga cabang “L”, akan terlacak, orang yang hidup saat ini berasal dari keturunan perempuan “LO” yang hidup di kawasan lahan basah-paleo Makgadikgadi-Okavango , Botswana 200-ribu tahun lalu atau kini disebut Delta Okavango yang dikarunia ekosistem produktif bagi kehidupan.
Penelusuran juga dilakukan oleh Kompas dengan mengirimkan sampel saliva (liur) ke laboratorium genetika di AS yang dijawab via e-mail yang menguatkan bahwa manusia berasal dari trah leluhur perempuan di Afrika timur yang hidup 150-ribu tahun lalu.
Rute perjalanan leluhur dari trah perempuan hingga tiba di Indonesia termasuk persinggahannya tergambarkan secara rinci. Trah pertama “L” menyeberangi Laut Merah sekitar 70-ribu tahun lalu, dan kemudian di lingkungan baru 65-ribu tahun memicu mutasi genetika jadi “L3”.
Perjalanan berlanjut ke jazirah Arab 57-ribu tahun lalu hingga sampai di Asia Tenggara 43-ribu tahun lalu, bermutasi menjadi haplogrup “F”, kemudian menyeberang dari benua Asia menjadi haplogrup “F1ala1” 5.500 tahun lalu atau 220 generasi.
Sedangkan Ahli Geologi Universitas Rhodes Andy Moore memaparkan, Makgakdigadi sebelumnya adalah sistem danau terbesar di Afrika yang sebelum kehadiran manusia modern mengering karena pergeseran lempeng (plate) dan menciptakan ekosistem yang produktif bagi manusia.
Kebenaran bahwa Botswana adalah tempat kelahiran manusia pertama tentu harus didukung oleh riset-riset lainnya, walau beberapa riset juga membenarkan, Afrika pernah menjadi oase bagi para leluhur.
Pakar genetika Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo juga mengamini, jika orang memeriksakan sampel asam deoksiribonukleat (DNA) mitokondria, niscaya cocok dengan perempuan yang hidup di Botswana 150-ribu sampai 200-ribu tahun lalu. Wallahuallam,




