
MESKIPUN namanya terkenal di jagad perwayangan, sesungguhnya karier politik Haryo Setyaki sudah mentok. Dari dulu dia hanya menjadi adipati di Garbaruci, tak pernah naik pangkat menjadi raja Lesanpura. Sebab meskipun Prabu Setyajid sudah tua, negeri Lesanpura tak juga diserahkan pada putra tunggal lelakinya, Haryo Setyaki. Karenanya Setyaki lebih menyibukkan diri di Dwarawati, dengan gelar: Sapukawat Dwarawati. Dinamakan demikian karena ada masalah apapun di negerinya Prabu Kresna, Setyaki berhasil menyelesaikan.
Kenapa Prabu Setyajid tak juga memberi jalan suksesi pemerintahan di Lesanpura? Sebab meski Setyaki terkenal akan kesaktiannya, tapi secara phisik dia ini bertubuh kuntet, stunting jika pinjam istilah sekarang. Tingginya hanya sekitar 155 Cm, berat badan 65 Kg brutto. Jika di kamar mandi sedang bersih-bersih badan bobotnya tinggal 64 Kg DWT. Kalau habis sarapan, baru bobotnya naik 1 Kg. Padahal ada aturan tak tertulis, tinggi raja di Lesanpura minimal 170 Cm.
“Kenapa tubuhku tak bisa tumbuh normal, rama prabu?” Haryo Setyaki sekali waktu mempertanyakan hal itu pada ayahnya.
“Maklum Nak, jaman itu jaman susah, soal gizi anak kurang diperhatikan. Bapak tak mampu beli susu bayi bermerk, sehingga oleh Dewi Wersini ibumu, kamu sering diberi air tajin saja. Buah-buahan hanya pisang kepok.” Jawab Prabu Sdetyajid.
“Kata pejabat tinggi Indonesia, untuk mencegah stunting harus banyak makan telur, karena setiap keluarga wajib pelihara ayam.”
“Kita juga makan telur, tapi sebutir dibagi 4, bahkan 8.”
Kesadaran akan pentingnya gizi bagi masa pertumbuhab balita, masih kurang sekali. Akibatnya Haryo Setyaki menjadi lelaki kunting. Oleh teman-teman sepermainan dulu saat di Sekolah Rakyat, dia suka dibuat ledekan dengan dikait-kaitkan pada lagunya Lilies Suryani tahun 1960-an, “Gang Kelinci”: Hanya satu yang kuherankan, badanku gemuk tak bisa tinggi, persis kaya anak kelinci…..
Menyadari akan kekurangannya, Haryo Setyaki pernah maneges (bertanya) pada dewa di kahyangan. Bisakah kiranya bentuk tubuhnya direkonstruksi. Satu-satunya dewa yang mau melayani permintaan Setyaki hanyalah Betara Temboro, golongan dewa yang jarang tampil pada pertunjukan wayang kulit. Karena itu wayangnya hanya ditaruh dalam kotak, tak disimping (dipasang berderet) sebagaimana lazimnya tokoh wayang kulit.
“Coba jeneng kita (kamu) bertanya pada punakawan Pendawa, si Petruk Kantong Bolong, pasti tahu resepnya. Kenapa dia bisa tinggi anclung-anclungbagaian galah.” Kata Betara Temboro.
“Petruk? Apa kehebatan dia kok harus bertanya padanya?” Setyaki balik bertanya, nadanya seperti Fadli Zon anggota DPR biasa.
Sesuai dengan petunjuk Betara Temboro, Haryo Setyaki pun mencari punakawan Petruk dan bertanya. Tapi putra Semar kedua itu malah tertawa berguling-guling. Tokoh dewa macam Temboro kok dijadikan konsultan, tentu saja jawabnya ngaco. Tapi untuk tidak mengecewakan Sapukawat Dwarawati, Setyaki disarankan agar setiap pagi rajin bergelayut di gawangan bola.
“Ngaco kamu Petruk, masak pengin tinggi kok bergelayutan di gawang bola. Bagaimana teorinya?”
“Habis, saya mau sarankan ke Ortopedi, sampeyan sudah kelewat tua. Atau pakai egrang saja?” jawab Petruk asal-asalan.
Begitulah, meski Haryo Setyaki di negeri Lesanpura tak diperhitungkan, nama dia sangat populer di Dwarawati. Padahal di situ statusnya sekedar nempil kamukten (numpang hidup) pada kakak iparnya, Prabu Kresna. Soalnya, Dewi Setyaboma bini ketiga Prabu Kresna, adalah kakak kandung Haryo Setyaki. Tapi di sinilah kehebatan Haryo Setyaki. Meski kakak iparnya jadi petinggi negara, dia tak ngaji mumpung, yakni memanfaatkan jabatan Prabu Kresna.
“Paman Setyaki kenapa tak mau manfaatkan jabatan kakak ipar? Itu kan sudah lumrah, di mana-mana begitu. Bergelar Sapukawat Dwarawati, nrimo dengan gaji PNS golongan III-D. Padahal staf khusus Pakde Kresna yang bukan PNS, sebulan bawa pulang Rp 51 juta.” Tanya putra Bima, sekali waktu.
“Angger Antasena, kamu jangan bertanya apa yang bisa negara berikan padamu, tapi bertanyalah apa yang bisa kuberikan pada negara.” Jawab Haryo Setyaki.
Antasena tertawa ngakak gaya internet kwa kwa kwa. Jaman milenial begini masih ada yang idealis banget, kapan bisa kaya dong? Kebanyakan orang tak peduli akan kata-kata mutiara Presiden AS JF Kennedy itu. Bila ada peluang, ya disikat, ya diembat. Tak ada peluang saja diada-adain, misalkan bikin anggaran lem aibon Rp 82 miliar, balpoin Rp 123 miliar. Kalau tidak ketahuan kan lumayan.
Paling riel di negeri Indonesia sana, kakak kandung jadi Gubernur Banten, istri jadi Walikota Tangsel, Tubagus Wawan jadi makelar proyek. Artinya, setiap kontraktor yang mau mendapat proyek di wilayah kerja istrinya, harus melalui dia. Kalau mau menang tender, harus berani memberi prosentase padanya. Maka di Tangsel, Tubagus Wawan terkenal sebagai “walikota malam”.
“Aku adalah “Sapukawat Dwarawati” 24 jam, tidak hanya siang, tidak hanya malam.” Kata Haryo Setyaki menegaskan, karena dianggap kecil oleh Antasena.
“Jikalau 24 jam nonstop, lalu paman Setyaki kapan tidurnya?”
Demikianlah, kejujuran, keteguhan, keberanian dan kesaktian Haryo Setyaki tak diragukan lagi. Sebagai penghormatan, Prabu Puntadewa hendak memberikan gelar padanya dengan nama Bima Kunting, artinya meski posturnya produk stunting, tapi kekuatannya seperti Bima alias Werkudara ksatria Jodipati. Semua anggota keluarga Pendawa setuju, kecuali Bima itu sendiri. Alasannya, dia tak mau ada yang ngembari namanya.
“Jangan sembarangan pinjam namaku. Dia tambah terkenal, bisa jadi bintang iklan, sedang aku tak dapat royalty, hmm……” kata Werkudara sambil mendesis macam lokomotif uap tempo doeloe.
“Kalau begitu bagaimana solusinya, Dimas Sena? Kan sudah kadung diumumkan oleh jubir istana Kostar Nyebelin.” Ujar Prabu Puntadewa agak kecewa.
Werkudara wayangnya memang tak mau bertele-tele. Syarat pengukuhan gelar Bima Kunting tidak harus punya LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) dan surat keterangan bebas HTI, tapi cukup uji nyali dengan menerima pukulan gada Rujakpolo milik Werkudara. Bila kepala tidak pecah dan tidak mati, barulah boleh diberi gelar Bima Kunting.
Haryo Setyaki sudah terkenal akan kesaktiannya. Bila Werkudara memilik gada Rujakpolo, dia punya gada Wesi Kuning warisan Minakjinggo dari Blambangan. Pusaka ini luar biasa kekuatannya. Siapun kena pukul olehnya, akan hancur lebur seperti batu split buat ngecor proyek. Maka mendengar tantangan Werkudara, dia menggumam, “Kecil itu mah.”
“Dimas Setyaki siap menerima pukulan gadaku ini? Jangan malu-malu, kalau tak sanggup bilang saja sekarang. Ketimbang gelar melayang, nyawa juga tunggang-langgang.”
“Kapan saja saya siap kangmas Werkudara, mana gada Rujakpolo-mu?” tantang Setyaki.
Di alun-alun Indraprasta yang sering dibuat demo alumni 212, uji nyali berlangsung, disaksikan ribuan penonton. Dengan mengucap bismillah, Werkudara mengayunkan gada Rujakpolo ke kepala Haryo Setyaki yang ambil posisi setengah jongkok. Bugg….., bugg.. bug, bug, bug…., seperti merbot mukul bedug. Namun ternyata, Haryo Setyaki bergeming. Kepala sama sekal tidak pecah, bahkan tanah tempat berpijak melesak ke bawah. Persis seperti paku dipukul palu.
“Selamat, kamu berhak menyandang gelar “Bima Kunting”,” kata Werkudara dengan napas ngos-ngosan. Maklum berat gada Rujakpolo sampai 50 Kg.
“Terima kasih kangmas Sena” jawab Setyaki sambil bangun dari kedalaman tanah 50 Cm.
Hari itu juga Prabu Puntadewa menyematkan gelar Bima Kunting untuk Haryo Setyaki. Hari berikutnya dia dapat royalty dari PT KAI, karena nama dia ditabalkan untuk lokomotif disel “Bima Kunting” produk Balai Yasa, Madiun. Tapi bagi wayang yang syirik, banyak juga yang memplesetkan nama baru Haryo Setyaki menjadi: Bima Stunting. (Ki Guna Watoncarita)


