AS dan Iran Memanas Lagi

Ribuan warga Teheran, Iran protes dengan membakar bendera AS, Jumat (4/1) atas serangan drone AS yang menewaskan Panglima al-Quds atau satuan elit Garda Revolusi Iran yang ditempatkan di Irak, Jenderal Qassem Soleimani.

HUBUNGAN Amerika Serikat dengan Iran kembali memanas akibat tewasnya Panglima Brigade al-Quds, satuan elite Garda Revolusi yang ditemparkan di Irak, Jenderal Qassem Soleimani, Jumat (3/1).

Soleimani tewas bersama Komandan milisi loyalis Iran di Irak, Hashed al-Shaabi alias al-Mohandis akibat serangan rudal yang dilepaskan oleh drone-drone milik AS saat mereka berkendara keluar dari Bandara Bahgdad, Jumat dini hari waktu setempat.

Korban lainnya adalah Wakil Komandan satuan milisi pro-Iran Popular Mobilization Force (PMF), Abu Mahdi Al-Muhandis

TV al Arabiya melaporkan, serangan mematikan terhadap Jenderal Soleimani dilakukan atas kerjasama Badan Rahasia AS (CIA) dan Mossad, Israel yang mengendus aktivitas panglima al-Quds tersebut selama berbulan-bulan.

Konspirasi antara Israel dan beberapa negara Arab musuh Iran terhadap Soleimani yang dituding berada di balik serangan milisi Hezbollah ke Israel berhasil digagalkan pada Oktober lalu.

Kematian Soleimani memicu amarah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani yang bertekad untuk melancarkan belas dendam yang lebih keras lagi, begitu pula milisi pro Iran Hezbollah di Lebanon dan milisi Houthi di Yaman.

Kehadiran Soleimani memimpin satuan al-Quds di Irak dalam aksi-aksi penyerangan roket ke wilayah Israel sebenarnya juga tidak disukai sebagian warga Irak, karena dianggap terlalu jauh ikut campur di panggung politik di Irak.

Walau bertetangga, hubungan Iran dan Irak tidak terlalu akrab, bahkan selama delapan tahun (1980 -1988) keduanya terlibat perang dipicu sengketa wilayah yang merenggut lebih seratus ribu jiwa.

Irak sendiri seakan-akan tidak pernah sepi dari konflik berdarah sejak Perang Teluk I pada Agustus 1990 dan Perang Teluk II pada 2003 serta pasca tumbangnya rezim diktator Saddam Hussein pada 2003.

Namun berdasarkan kajian Global Fire Power, perang terbuka antara AS dan Iran tidak akan terjadi, karena tentu saja perimbangan kekuatan militer keduanya yang timpang tidak bisa dihadap-hadapkan.

Dari sisi anggaran saja,belanja militer AS pada tahun 2019 mencapai 719 milyar dollar AS (setara Rp1.000 triliun lebih) atau sekitar empat kali total APBN, sedangkan Iran hanya 6,3 milyar dollar (sekitar Rp88,2 triliun). Bandingkan dengan anggaran pertahanan TNI sekitar Rp134-triliun).

Yang kemungkinan tejadi, Iran melancarkan serangan sporadis atau terbatas ke target-target terkait kepentingan AS di Timur Tengah. (AFP/Reuters/ns)

Advertisement