CUPU PAMEKAK TIRTA

Kata Betari Durga di depan Kartomarmo. "Harga cupu Pamekak Tirto sebuah Rp 1 miliar. Mau?"

DALAM kepemimpinan adipati Dirgabasuki, negeri Tirtotinalang aman tentram, karena rakyat negeri hidup makmur. Tapi sejak adipati dilengserkan Kartomarmo dan kemudian menguasainya, kondisinya berbalik 180 drajat. Banyak proyek infrastruktur tak dilanjutkan, karena anggaran tersebut diubah menjadi dana hibah untuk membantu ekonomi anggota Timses Kartomarmo saat melengserkan adipati Dirgabasuki. Mereka ditampung pada sebuah lembaga bernama  Panggelak Karya, yang tugasnya merumuskan segala kebijakan Adipati Kartomarmo. Kerjanya tak seberapa, tapi gajinya lumayan gede.

Negeri Tirtotinalang masih di bawah kekuasaan negeri Ngastina pimpinan Prabu Jakapitono, yang biasa dipanggil sebagai Jokopit. Mentang-mentang raja Ngastina itu kakak sendiri, jika ada program dari pusat sering dieyeli alias tak dikerjakan. Jika ditegur, Prabu Jokopit malah ditantang debat. Adipati Kartomarmo memang terkenal ahli menata kata, pinter ngomong. Dan rupanya rakyat Tirtotinalang memang senang pemimpin demikian, santun dan seiman pula.

“Nakmas Kartomarmo jangan begitu, sama Sang Prabu, meski itu kakak sendiri. Sebagai anak muda, harus menghormati yang lebih tua, jangan mentang-mentang pendidikan tinggi sekolah sampai Ngatasangin.” Tegur Patih Sengkuni.

“Ealah, jadi tua kan bukan prestasi, itu sebuah keniscayaan belaka. Jika saya anak tertua, niscaya saya yang jadi raja Ngastina. Kan begitu logikanya,” jawab adipati Kartomarmo mendebat Patih Sengkuni.

Bener juga sih. Tetapi Prabu Destarastra yang buta tapi tak buta hati, tak mungkin menyerahkan kekuasaan pada Kartomarmo. Beliaunya sudah lama tahu bahwa Kartomarmo ini hanya modal jago ngebacot, tak bisa kerja. Maka sebelum berkuasa di Tirtotinalang, dia hanya menjadi tokoh pelengkap penderita. Dia tak pernah diajak rapat sidang kerajaan bersama Adipati Karno, Baladewa, Patih Sengkuni dan Pendita Durna.

Dia hanya dimunculkan ketika Patih Sengkuni memberi keterangan pers, sesuai dengan petunjuk bapak pres….. eh Prabu Jokopit. Di situ barulah Kartomarmo tampak bersama Durmagati, Citraksa-Citraksi. Sebab mereka punya prinsip, yang penting mateng bagehi (mateng dikasih).

Man….nyungsung werta, nyungsung werti…” begitu selalu mereka berebut ngomong.

“Bosan aku! Memangnya nggak ada kata lain? Dari dulu hanya itu saja yang diomongkan.” Sindir Patih Sengkuni pada Durmagati, adapun Kartomarmo memilih diam seribu basa.

Diamnya Kartomarmo kali ini memang lain. Sebab dia baru saja dipanggil secara khusus oleh Prabu Jokopit, ditegur soal program Tirtotinalang era adipati Dirgobasuki yang tak dilanjutkannya. Sebelum dilengserkan oleh Kartomarmo, Dirgobasuki memang sedang getol mengatasi banjir di negerinya dengan memberi talang beton memanjang pada aliran sungai Yamuna. Oleh karena itu negeri tersebut diberi nama Tirtotinalang, yang mengandung makna: air dilewatkan talang.

“Sebentar lagi musim hujan, jangan sampai negerimu kebanjiran lagi. Biar itu program pendahulumu, asal baik kenapa tak dilanjutkan?” tegur Prabu Jokopit di ruang khusus, agar tak sampai bocor oleh pers dan media online.

“Tapi itu kan melanggar sunatulah, kangmas Prabu. Air itu harus dimasukkan ke bumi, bukan dimasukkan talang raksasa lalu dialirkan ke laut. Itu program salah fatal adipati Dirgobasuki,” jawab Kartomarmo ngeyel, seperti biasanya.

Demikianlah, instruksi kakak kandungnya sama sekali tak digubris. Bahkan dana penanggulangan banjir senilai Rp 1 trilyun, separonya dipangkas untuk membangun trotoar dan jalur sepeda. Benar-benar Kartomarmo adipati yang tak paham skala prioritas. Dia memang adipati yang sangat perhatian pada PKL, sehingga trotoar dibangun selebar mungkin agar bisa dimanfaatkan untuk menampung PKL juga. Tapi mereka juga sangat diharapkan jadi pendukung setia manakala Kartomarmo pengin jadi raja Ngastina.

Karena tak mau perhatikan saran raja Ngastina, apa lacur? Pas malam Tahun Baru 2020 kadipaten Tirtotinalang hujan  berkepanjangan sampai pagi. Akibatnya terjadi banjir di mana-mana. Rumah rakyat, gedung perkantoran, semua terendam, mobil-mobil mengapung seakan kapal, penduduk mengungsi. Pendek kata, berantakan kotanya, basah kuyup warganya.

“Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang penting para pengungsi kita bantu.” Kata Kartomarmo saat meninjau tempat pengungsian rakyat.

“Kok pinter banget ngeles. Ini memang kesalahan sampeyan.” Omel warga saking kesalnya pada adipati Kartomarmo.

Warga mengomel seperti itu masih mending. Komentar di internet dan medsos, makin parah. Adipati Kartomarmo dibully sebagai pejabat yang hanya pinter ngomong tapi tak bisa bekerja. Banyak juga yang mendesak adipati Kartomarmo sebaiknya mundur saja. Saking panik dan stressnya, dia langsung sowan ke Sanghyang Tunggal di Ngondar-andir Bawono, konsultasi mengatasi banjir di negerinya.

“Maaf Pukulun, selama ini ditakdirkan Tirtotinalang berada di daerah rendah, sehingga banjir kiriman dari Ngawangga juga memperah keadaan. Karenanya saya mohon, agar posisi bumi negeri kami dinaikkan sedikit lebih atas ketimbang Ngawangga, sehingga banjir kiriman segera balik dan negeri kami terbebas dari kebanjiran.” Ujar adipati Kartomarmo.

“Itu ndak bisa, Kartomarmo. Di samping melawan sunatulah, juga kasihan rakyat Ngawangga, bakal kebanjiran parah. Padahal di situ tempat tinggal anak cucu Betara Surya. Bisa didemo saya.” Jawab Sanghyang Tunggal tegas.

Akhirnya adipati Kartomarmo disarankan ke Pasetran Gandamayit saja, ketemu Betari Durga. Dia dewa pecatan kahyangan, tapi banyak jaringan dan kelebihan. Siapa tahu bisa memberi solusi terbaik. Jika gagal juga, terakhir bisa minta tolong kepada Kantor Pegadaian, sebab dia satu-satunya lembaga pemerintah yang punya motto: mengatasi masalah tanpa masalah.

Tambah pusing Kartomarmo dibuatnya. Sowan Betari Durga berarti harus ada pengeluaran ekstra. Sebab Pasetran Gandamayit adalah terkenal sebagai kawasan preman dan gudangnya pungli – gratifikasi. KPK saja tak berani masuk. Tapi ketimbang diomeli sana sini, terpaksalah Kartomarmo berangkat ke sana.

“Ketemu Betari Durga, saya yang ngatur jadwalnya. Tapi minta jadwal harus bayar.” Begitu ujar Jaramaya tanpa tedeng aling-aling. Dia adalah sekpri Betari Durga siang hari, kalau malam hari Jarameya.

“mBok ya nanti saja kalau sudah ketemu Eyang Betari.” Kartomarmo masih menawar.

Ternyata Jaramaya tetap menggeleng, sehingga dengan terpaksa adipati Kartomarmo mengeluarkan lembaran merah sehelai. Setelah dicatat KTP-nya baru dipersilakan masuk ke dalam.Ternyata di ruang dalam sana memang ada tulisan “pungli adalah olie-nya urusan”, yang sepertinya diilhami pendapat anggota DPR Fadli Zon dari negara sebelah.

“Kaki Kartomarmo, waktuku nggak banyak. Ada keperluan apa, tumben-tumbenan ke sini. Kena banjir nggak?” ujar Betari Durga main tembak langsung.

“Justru karena itu Eyang Betari. Tak hanya kebanjiran, saya habis diomeli rakyat Tirtotinalang, dituduh takbecus mengatur wilayah. Bagaimana Eyang Betari solusinya, karena banjir semakin parah.” Jawab Kartomarmo sambil menyembah takjim.

Ternyata solusinya simpel sekali. Adipati Kartomarmo hanya diminta menolak hujan dan  banjir lewat cupu Pamekak Tirta, yang sebijinya seharga Rp 1 miliar. Cupu tersebut jika dilempar ke atas, kena awan gelap biang hujan, langsung hilang itu awan gelap dan otomatis tak jadi hujan. Ketika cupu itu jatuh ke bumi, kena genangan air sisa banjir, juga langsung kering.

“Ya sudah Eyang, saya beli lima sekalian buat cadangan.” Kata Kartomarmo.

“Oke, nih nomer rekening saya di BNI.” Jawab Betari Durga sambil memberikan kertas kecil.

Cupu Pamekak Tirta masing-masing segede telur ayam negeri itu langsung dibawa pulang ke ngercapada hanya dengan dibungkus kantong plastik item. Begitu dipraktekkan di langit Tirtotinalang, ternyata benar. Awan gelap menggantung itu kena hantam cupu Pamekak Tirta langsung melenyap, batal jadi hujan. Demikian juga ketika cupu jatuh ke bumi menimpa genangan air banjir, langsung saja sop (kering) itu air Adipati Kartomarmo dan rakyatnya tepuk tangan sambil teriak histeris. “Hidup Kartomarmo, calon raja Ngastina 2024.” (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement