Membuat Manusia Kebal dari Virus DBD

Penelitian sedang berlangsung untuk memasukkan antibodi manusia ke nyamuk aedes aegypti sehingga tidak menjangkiti penyakit DBD.

PENELITIAN saat ini sedang berjalan untuk memasukkan antibodi manusia ke nyamuk aedes aegypti agar jenis serangga kecil ini tidak menularkan demam virus dengue (demam berdarah – DBD).

DBD sendiri ditularkan oleh sengatan nyamuk aedes aegypti yang terinfeksi dan membawa serotype virus (DENV) dengan antigen yang berbahaya bagi manusia(harian Kompas, 20/1).

Korban yang terinfeksi DENV mengalami demam parah sehingga bisa berlanjut menjadi DBD yang dapat berakibat fatal, ditandai dengan anjloknya trombosit (trombositopenia) di bawah level normal yakni kurang dari 150 ribu per mikroliter.

Trombosit alias keping darah atau platelet adalah salah satu komponen darah yang diproduksi sumsum tulang yang bertahan selama 10 hari, kemudian sumsum tulang akan terus memperbarui persediaannya.

Platelet berperan penting dalam proses pembekuan darah (koagulasi). Ketika tubuh terluka, trombosit akan disalurkan ke lokasi luka guna membuat darah menjadi lengket dan membentuk gumpalan. Alhasil, darah pun tidak terus mengalir keluar.

Di saat bersamaan, trombosit juga merangsang protein dalam darah untuk membuat benang-benang halus (fibrin) yang berfungsi membantu trombosit untuk memperkuat sumbatan penutup luka.

Wabah DBD cukup signifikan akhir-akhir ini terutama di musim penghujan yang menjadi habitat subur bagi nyamuk aedes aegypti.

Hasil penelitian Messina JP di jurnal PubMed/NCBI 2014 menyebutkan, lebih separuh penduduk dunia berisiko terinfeksi (390 juta kasus setahun) dan kerugian ekonomi 40 milyar dolar AS per tahun.
Sekitar 111.000 kasus DBD

Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Kesehatan, dalam dekade terakhir ini tercatat peningkatan jumlah kasus infeksi DBD. Pada periode Januari sampai akhir Oktober 2019 saja dilaporkan 110.921 kasus, naik dari periode sama sebelumnya, 65.602 kasus.

Walau upaya melawan DBD menjadi perhatian global, virus tersebut sulit dilumpuhkan, karena penggunaan vaksin tunggal hanya sebagian yang efektif, begitu pula upaya profilaksis (pencegahannya).
Sementara Riset terbaru University of California San Diego (UCSD) menemukan cara merekayasa nyauk secara genetis untuk menghentikan penularan DBD.

Caranya, menurut peneliti senior Div. Ilmu Biologi UCSD Omar Akbari, dengan mengindentifikasi antibodi manusia untuk mengatasi empat strain (serotype) virus dengue (DEN-1, 2,3 dan 4) yang kemudian dimasukkan secara sintetis pada nyamuk aedes aegypti betina.

“Antibodi tersebut menghambat replikasi virus dan mencegah penyebarannya ke nyamuk, lalu mencegah peyebarannya ke manusia,” katanya. Drive-gen berdasarkan teknologi CRISPR/CAS-9 dapat menyebarkan antibodi ke semua populasi nyamuk penular.

Hasil penemuan itu, kata Direktur Pusat Venderbilt Vaksin di Venderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, AS, James Crowe, memungkinkan transfer gen kekebalan tubuh manusia ke nyamuk sehingga penyakit yang ditularkan dari nyamuk ke manusia bisa dicegah melalui rekayasa bioteknologi pengganggu.

Kajian tersebut diharapkan akan melipatgandakan alternatif solusi melawan DBD dengan merekayasa nyamuk sebagai vektornya (pembawa penyakit). (Kompas/Jurnal Pubmed/NCBI).

Advertisement