BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Gubernur BI yang baru Destry Damayanti memprediksi pertumbuhan negara emerging market melambat sampai tahun depan, namun ekonomi RI pada 2027 masih bertumbuh 5,2 sampai enam persen (Nusantaranews)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 1/9 – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti  memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market melambat menjadi 3,9% akibat dampak konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang berdampak pada inflasi global serta penguatan dolar AS, “ kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (1/9).

Menutut Destry, ketegangan AS dan Iran pada awal Juli lalu mengancam kesepakatan perdamaian yang telah dicapai pada pertengahan Juni. Prospek pertumbuhan ekonomi global juga disebut hanya sebesar tiga persen, kemudian negara emerging market 3,9 persen dan negara maju hanya 1,7 persen.

“Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas pada awal Juli dan mengancam intern deal yang dilakukan pada pertengahan Juni 2026. Akibatnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan tetap lemah, “ ujarnya.

Eskalasi konflik kedua negara, menurut Destry, juga diperkirakan akan menekan inflasi global pada level yang tinggi di kisaran 4,5 persen. Dollar AS diperkirakan tetap kuat pada sejumlah negara emerging market.

“Hal ini sejalan dengan tingginya suku bunga di AS, pelarian modal di emerging market ke AS, dan tingginya risiko global tersebut. Seluruh kondisi ini memberikan tekanan pelemahan nilai tukar, dan tekanan lebih besar akan dialami mata uang negara emerging market, termasuk rupiah,” terangnya.

Ekonomi Indonesia masih baik
Terkait perekonomian RI, Destry menyebut diproyeksikan masih tetap baik. Untuk 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Pada  2027, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan pada kisaran 5,2 hingga 6 persen.

Destry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan ditopang oleh keyakinan pelaku ekonomi dan pertumbuhan investasi yang juga didukung peran Badan Pengelola Investasi Indonesia (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan 2027 diperkirakan tetap baik. Pada tahun 2026, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Sementara di 2027, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dalam kisaran 5,2 persen hingga 6 persen didukung keyakinan pelaku ekonomi yang meningkat serta kenaikan investasi khusus yang berasal dari Danantara,” jelasnya.


5,29 persen pada kuartal II, 2026
Destri menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal II-2026 masih menunjukan prospek baik, yakni sebesar 5,29 persen. Sementara pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi RI diketahui sebesar 5,6 persen.

Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh stimulus fiskal yang berdampak pada peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi.

Selain itu, konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi yang ditopang oleh peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13 dan belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kemudian untuk kuartal III-2026, Destry mengatakan ekonomi RI masih akan tumbuh baik. Sinyal pertumbuhan tersebut tercermin dari indeks ekspektasi penghasilan (IEP) hingga Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia yang kembali naik pada bulan Juli 2026.
“Perkembangan terkini pada triwulan III-2026 menunjukkan kegiatan ekonomi di dalam negeri tetap baik. Indeks ekspektasi penghasilan pada Juli 2026 tetap

 terjaga pada semua kelompok penghasilan didorong dampak percepatan konsumsi pemerintah, meskipun perlu terus ditingkatkan untuk memanfaatkan momentum kuatnya stimulus fiskal,” pungkasnya. (detik.com/ns)


Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here