RAMA GANDRUNG (1)

Dewi Sinta sangat tertarik akan penampilan kidang yang berkulit seperti emas 24 karat. Rama pun diminta menangkapnya.

KEDUANYA segera mendarat dengan cantik di ara-ara amba (baca: tanah kosong) mirip lapangan  Monas yang baru ditebangi ratusan pohonnya oleh Gubernur DKI demi revitalisasi. Kira-kira sepenggalah dengan posisi trio Rama-Sinta-Lesmana. Ketiganya sama sekali tidak tahu bahwa ada rencana jahat dari negeri seberang, yang pada akhirnya nanti akan menjadikan dua negara saling berhadapan bak Iran – Amerika Serikat. Bedanya adalah dua negara itu soal kedaulatan, sedangkan Rama-Dasamuka soal selangkangan!

 Kala Marica sebelum menghamba pada Prabu Dasamuka, adalah seniman kelas kampung yang biasa main kethoprakan dan wayang orang. Di Jakarta dia sering pentas di WO Barata, Kalilio Senen. Karenanya soal bermake up dengan cepat dia mahir sekali. Jadi putri cantik bisa, apa lagi hanya didapuk jadi kidang kencana itu pekerjaan simpel sekali. Yang agak merepotkan justru menyulap Prabu Dasamuka jadi kakek tua renta, seperti para kakek-nenek penerima kartu prakerja Presiden Jokowi. Dari phisiknya saja tak pantas kakek abal-abal ini dapat santunan Rp 500.000,- sebulan.

“Kemiringan punggungnya jangan 45 drajat, gusti Prabu. Seperti rukuknya orang salat, atau niru bungkuknya Begawan Abiyasa.” Kata Kala Marica memberi petunjuk.

“Ha, ada Abi Yasa, apakah itu wayang PKS?” potong Prabu Dasamuka.

“Husy, jangan sampai ke situ mikirnya Boss. Nanti Abimanyu, Abilawa, dianggap orang PKS juga dong!” sergah Kala Marica dengan berani. Baru Kala Marica saja yang berani meng-hussy raja Alengka itu.

Prabu Dasamuka memang wayang cerdas, lebih-lebih dalam urusan perempuan. Maka dengan cepat bisa mengikuti arahan Kala Marica dengan benar. Dengan mengenakan jubah, teken (tongkat) dan kethu, ditambah suara bergetar seperti wayang telat sarapan pagi, penyamaran Dasamuka nyaris sempurna.

Sementara Prabu Dasamuka istirahat di bawah pohon beringin sambil menikmati bir hitam, Kala Marica yang telah menjelma jadi kidang kencana itu segera mendekati lokasi Rama-Sinta-Lesmana. Kelihatannya jinak sekali, makan rumput seakan tidak takut pada kedua ksatria yang selalu siap dengan senjata panahnya.

“Kangmas Rama, lihat tuh ada kijang berkulit emas, indah sekali nampaknya. Tangkap dong buat klangenan (peliharaan) adinda,” rengek Dewi Sinta.

“Sabar dinda Sinta, untukmu akan kulakukan segalanya.” Jawab Rama mirip judul film Indonesia tahun 1984.

Tapi sungguh di luar dugaan,  kidang kencana yang nampaknya jinak bersahabat itu, begitu didekati segera menjauh. Rama pun mengejarnya, tapi begitu sudah dekat, kembali si kidang kencana menjauh. Sebetulnya bisa saja Rama menggunakan panah andalannya, tapi takut si kidang terluka, cacat bahkan tewas. Soalnya targetnya bukan untuk dibuat sate atau thengkleng Solo, melainkan untuk piaraaan istrinya.

“Dimas Lesmana, tolong jaga baik-baik adikmu. Saya hendak menangkap kijang itu hidup-hidup.”

“Baik kangmas Rama, amanat ini akan kulaksanakan sebaik mungkin.” Jawab Lesmana.

“Dinda Sinta, saya tinggal sebentar untuk menangkap kijang itu ya. Kamu tenang saja, dimas Lesmana akan menjagamu dengan baik.” Pesan Rama pada sang istri.

“Iya kanda Rama, saya berharap kijang kencana itu segera tertangkap.”

Rama segera kembali mengejar kidang kencana yang tiba-tiba mendekat dengan tingkah ngiwi-iwi (meledek). Tapi gaya kidang kencana tak berubah, sebentar menjauh, sebentar mendekat. Tahu-tahu jarak lokasi kijang dengan Sinta-Lesmana sudah lebih dari 500 meter. Jika mengikuti emosi, akan segera saja dipanah, selesai. Tapi Rama memang tipe titisan Wisnu yang penyabar, bukan wayang sumbu pendek.

Satu jam telah berlalu, tapi Rama belum juga kembali. Sinta dan Lesmana mulai khawatir, jangan-jangan terjadi apa-apa. HP-nya dikontak sama sekali tak menjawab, karena memang tak ada sinyal. Akhirnya Dewi Sinta berubah pikiran, tak dapat tangkepan kidang kencana juga nggak papa, yang penting Rama kembali dengan selamat.

“Athooo, tolong, tolooong!” tiba-tiba terdengar suara nyaring memecah sepi, dari kejauhan.

“Dimas Lesmana, suara siapa itu? Jangan-jangan……” kata Dewi Sinta.

Dewi Sinta dan Lesmana memang kaget sekali mendengar suara teriakan orang minta pertolongan, apa lagi kedunya tengah mencemaskan suami dan kakak mereka yang tak ada kabar beritanya. Suaranya mirip sekali dengan suara Rama. Jangan-jangan Rama mengalami kecelakaan saat memburu kidang kencana tersebut.

“Dimas Lesmana, tolong dong kamu cek lokasi. Siapa tahu terjadi apa-apa atas kangmas Rama.” Desak Sinta.

“Sebetulnya aku juga ingin datang ke sana, tapi karena kangmas Rama berpesan tak boleh meninggalkan mbakyu Sinta, saya memilih tetap di sini..” jawab Lesmana.

“Jika terjadi apa-apa, bagimana Dimas?”

“Saya yakin kanda Rama bisa mengatasinya sendiri. Dia titisan Wisnu, dewa kahyangan, bukan titisan Totok Santosa Hadiningrat raja Agung Sejagad dari Purworejo.”

Dewi Sinta jengkel atas sikap Lesmana yang zaklek, seakan tak punya inisiatip. Hijau kata Rama, hijau pula kata Lesmana. Merah kata Rama, merah pula kata Lesmana. Sementara dia mencemaskan Rama, ini adik sendiri kok santai habis. Mulailah Dewi Sinta berprasangka buruk, jangan-jangan Lesmana mencari berkah di balik musibah. Jahat juga ini orang, ujung-ujungnya.

“Rupanya dimas senang ya kalau kangmas Rama celaka. Jika dia mati, kamu akan mengambilku sebagai istrimu. Begitu ya maumu?” tuduh Sinta penuh emosi.

“Kok sampai begitu, ta Mbakyu. Sedikit kata-katamu, tapi sengak didengar.” Jawab Lesmana mulai ketus, rupanya dia dulu penggemar Asmuni Srimulat.

Lesmana menjelaskan panjang lebar bahwa tak ada niat saglugut pinara pitu (baca: sedikitpun) untuk ngalap (menginginkan) kakak ipar sendiri. Bahwa orang lain bilang ipe (ipar) itu akronim iki ya penak (ini enak juga), tapi baginya tak ada kamus seperti itu. Apa lagi dia telah bersumpah, seumur hidup takkan menikah, anti mbelah duren meski montong sekalipun. (Ki Guna Watoncarita)

           

 

 

 

 

Advertisement