Makin mencemaskan, Penyebaran Virus Korona

Seluruhnya 243 WNI di kota Prov. Hubei, China terutama kota Wuhan akan dievakuasi dengan pesawat Lion Air yang sudah diberangkatkan dari Jakarta, Sabtu siang (2/1). Mereka akan diterbangkan ke Lanuma di P. Natuna untuk dikarantina sementara.

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menetapkan status darurat kesehatan global terhadap infeksi virus korona galur baru (2019- nCoV) yang menyebar dari Wuhan, Prov. Hubei, China sejak Desember lalu.

Infeksi virus korona yang diduga berasal dari hewan sampai Jumat (31/1) sudah menewaskan 259 orang, seluruhnya di China dan menjangkiti 10-ribuan orang serta terdeteksi di 22 negara lintas negara dan benua.

Korona 2019-nCoV terdeteksi sebagai mutasi virus yang pernah mewabah di Timur Tengah( Middle East Respiratory Syndrome – MERS) dengan korban 700-an orang tewas pada 2012 dan sebelumnya virus pernafasan akut (Severe Accute Respiratory Syndrome –SARS) juga di China pada 2002 (menewaskan sekitar 800-an orang).

Yang ke-3 infeksi virus Zika berasal dari Amerika Latin dan Afrika akibat sengatan nyamuk Aedes Aegypti yang menelan korban sekitar 30-ribu orang pada 2014, sedangkan ebola berasal dari monyet merebak dua kali di Afrika yakni pada 2014 dan 2019 menewaskan 11-ribu orang.

Keputusan WHO menetapkan status darurat global tas terjadinya pandemi virus korona 2019 nCoV bukan tanpa alasan atau menilai pemerintah China tidak mampu mengatasinya, tetapi mengingat masif dan cepat penyebarannya.

Lagi pula, upaya penapisan di pintu-pintu masuk (pelabuhan dan bandara) dengan pemindai suhu tubuh (thermal scanner) seperti dilakukan Indonesia di lebih 110 bandara ternyata tidak efektif, karena tetap saja orang yang terinfeksi bisa lolos.

Penyebabnya, orang yang terinfeksi virus korona 2019- nCoV sering tidak mengalami demam, sehingga suhu tubuhnya normal, padahal dia tetap bisa menularkan orang lain, mengingat masa inkubasi virus bisa sampai 14 hari.

Sistem Pemindaian Suhu Tubuh
Mengingat tidak semua orang yang terjangkit virus 2019 n-CoV mengalami demam, ke depannya sistem pemindaian suhu tubuh harus diubah yakni dengan menelusuri riwayat kontak atau perjalanan seseorang dari kawasan endemic virus korona di China.

Singapura misalnya, melarang orang masuk atau transit yang dalam 14 hari terakhir berada di China atau larangan keluar rumah 14 hari bagi permukim di Australia yang baru tiba dari China.
Gejala yang timbul pada infeksi MERS, SARS dan 2019-nCoV mirip-mirip yakni demam antara dua sampai 14 hari, nyeri otot dan sendi serta radang kelopak mata.

Pemerintah RI sejauh ini juga sudah mendapat izin (clearance) dari pemerintah China untuk mendaratkan pesawat guna mengevakuasi 243 warganya yang berada di kota Wuhan atau kota-kota sekitarnya di Provinsi Hubei. Saat ini mereka dikumpulkan di tujuh lokasi karantina.

Sejauh ini, belum terkonfirmasi ada WNI di China yang terinfeksi virus korona, begitu juga penumpang pesawat dari China yang terjangkit, walau ada beberapa orang yang sempat diobservasi di RS karena demam saat menginjakkan kaki di bandara tujuan.

Pesawat penumpang Lion Air dijadwalkan Sabtu siang ini (1/2)menuju Wuhan dan segera akan kembali (belum dikonfirmasi apakah pada hari yang sama atau keeseokan harinya) mengangkut seluruh WNI di kota tersebut menuju tempat karantina sementara di pangkalan TNI-AU di P. Natuna.

Menurut Pangab Masrsekal Hadi Tjahjanto, Lanuma di P Natuna dipilih sebagai karantina karena yang paling memenuhi protokol kesehatan, cukup aman dari permukiman dan pelabuhan (berjarak sekitar enam Km), dekat dari landasan dan memiliki fasilitas sanitasi dan dapur umum memadai.

Selain itu, stigma atau sikap lebai pada mereka yang baru pulang dari Hubei juga perlu dihindari agar juga tidak terjadi persoalan sosial saat kehadiran mereka di tengah lingkungan keluarga, kantor, ketetanggaan dan kampus

Advertisement