China Unjuk Gigi ke Taiwan

Pesawat tempur F-16 "Fighting Falcon" AU Taiwan (bawah) tampak mencegat pesawat pembom H-6 Xian milik AU China yang menerobos wilayahnya, Senin lalu (10/2)

CHINA kembali memancing Taiwan dengan mengirimkan sejumlah pesawat tempurnya melintasi koridor wilayah pulau yang masih dideklerasikan sebagai miliknya itu.

Seperti diberitakan AFP, sebuah pembom H-6K Xian salinan TU-16 buatan eks-Uni Soviet yang menerobos garis median di atas Selat Taiwan, Senin (10/2) dicegat oleh pesawat-pesawat F-16 “Fighting Falcon” AU Taiwan.

Insiden semacam itu sering terjadi termasuk provokasi yang dilakukan China dengan mengirimkan armada lautnya melintasi Selat Taiwan yang intensitasnya makin meningkat sejak terpilihnya Presiden Taiwan Tsai Ing- wen pada 2016.

Namun insiden lebih buruk tidak terjadi setelah pesawat-pesawat China itu keluar dari koridor udara Taiwan dan kembali ke wilayahnya.

Sebelumnya pada Maret lalu, dua jet tempur J-11 China melintasi “garis median” untuk pertama kali dalam beberapa tahun, membuat Taipei menuduh Beijing melanggar perjanjian yang telah lama dilakukan dalam serangan yang disebut sebagai “gegabah dan provokatif”.

Kapal induk pertama yang dibangun di dalam negeri China, Shandong juga melintasi selat itu pada November sehingga memicu kekhawatiran dari Kedutaan Besar AS di Taiwan.

Ancaman demi ancaman dilontarkan China untuk merebut kembali Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya tersebut, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.

Dari sisi kekuatan militer versi Global Firepower, China dan Taiwan bagi langit dan bumi. China bertengger pada ranking ke-3 setelah Amerika Serikat dan Rusia, sementara Taiwan di posisi ke -22.

AB China dengan anggaran belanja militer 224 milyar dollar (sekitar Rp3.228 triliun atau setara 1,5 kali total APBN Indonesia) memiliki tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk satu kapal induk, 76 kapal selam, AD memiliki 13.500 tank.

Kekuatan Nuklir
Selain membangun kekuatan nuklirnya, China ikut bersaing dalam lomba persenjataan konvensional, misalnya pesawat tempur generasi ke-5 “elang hitam” Chengdu J-20 berkemampuan siluman dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.

Sebaliknya, kekuatan Taiwan walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.

AU Taiwan ditulangpunggungi lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, pesawat Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya setara dengan F-16.

Sadar tidak sebanding untuk berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin.

Hal itu tampak dalam latihan perang yang digelar di Provinsi Changhua, akhir Mei 2019 dimana jalan raya dengan cepat berubah fungsi menjadi pangkalan udara dan landas pacu pesawat-pesawat tempur.

Dari simulasi perang itu, tampak Taiwan akan menggunakan kekuatannya yang terbatas secara efektif dan efisien, “bertahan selama mungkin dan mengakibatkan kerugian besar bagi penyerang.

Hal itu bisa dipahami, karena jika Taiwan diserang China, tentu AS sebagai pelindung utama, juga sekutu-sekutunya yang lain, tidak bakal tinggal diam.

Walau terus mengancam akan merebut wilayahnya itu, tampaknya China harus berfikir berkali-kali, karena perang tentu akan menyeret banyak negara lainnya (AP/AFP/ns)

Advertisement