Negosiasi AS dan Iran Maju-Mundur

Rudal pertahanan udara Iran Khordad 3 yang disiapkan untuk merontokkan pesawat-pesawat tempur AS jika perang pecah lagi. (ilustrasi: military magazine)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali menolak proposal Iran dan meragukan kemampuan negara ini menerima kesepakatan yang ia maui, sebaliknya pihak iran pantang bertekuk lutut pada tuntutan AS terutama untuk menghentikan pengayaan Uranium dan program senjata nuklir.

“Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tidak puas, ,” kata Trump, dikutip CNN, Jumat (1/5) seraya menabahkan, Iran tak bisa mengakhiri perang melalui negosiasi.

Hambatan ini, menurut dia, karena kondisi kepemimpinan negara Iran terpecah-belah.
“Ada dua hingga tiga kelompok, mungkin empat, dan kepemimpinannya sangat tidak terkoordinasi. Semua ingin membuat kesepakatan, tapi mereka kacau semua, ” tutur Trump,”

Meski demikian, Trump mengakui Iran membuat kemajuan namun, dia tidak yakin apakah mereka bisa sampai ke tahap mencapai kesepakatan secara bulat.

AS dan Iran sedang terlibat upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari, namun pertemuan perdana yang dimediasi Pakistan di Islamabad 11 April lalu gagal mencapai kesepakatan.

Pekan lalu, Iran mengirim proposal berisi penyelesaian Selat Hormuz dan upaya mengakhiri perang tanpa membahas kesepakatan nuklir.

Trump menolak proposal tersebut dan justru memilih untuk memperpanjang blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebelum perang pecah, politikus Republik ini memang berambisi menghancurkan program nuklir Iran. Dalam usulan yang diajukan AS, mereka juga menuntut Iran mengakhiri program nuklir dan menyerahkan uranium yang diperkaya.

Serangan allout atau Berunding
Pada bagian lain Trump menyebutkan opsi yang bisa dilakukan untuk mengakhir konflik yang sudah berjalan dua bula lebih sejak 28 Feb itu.

Pilihan pertama, kata Trump, AS akan menyerang habis-habisan untuk menghancurkan Iran selamanya, dan yang kedua, ialah upaya mengakhiri perang melalui jalur negosiasi.

“Apakah kita ingin langsung membombardir mereka habis-habisan dan menghancurkan mereka selamanya? Atau apakah kita ingin mencoba mencapai kesepakatan? Itulah pilihannya,” ujar Trump.

Dia mengatakan, AS akan tetap mengedepankan pilihan nomor dua untuk mengakhiri perang lewat jalur perundingan.

“Secara kemanusiaan, saya lebih memilih untuk tidak melakukannya. “Tetapi itulah pilihannya. Apakah kita ingin menyerang mereka secara besar-besaran dan menghancurkan mereka atau apakah kita ingin melakukan sesuatu?,” sambung Trump.

Negosiasi perdamaian Iran dan Amerika Serikat (AS) sempat terhenti. Iran kemudian melayangkan proposal terbaru untuk memulai negosiasi lanjutan dengan AS.

“Republik Islam Iran menyampaikan teks proposal negosiasi terbarunya kepada Pakistan, sebagai mediator dalam pembicaraan dengan AS Kamis malam (30/4),” ungkap keterangan kantor berita Republik Iran, IRNA, dilansir AFP, Jumat (1/5).

Menlu Iran Abbas Araghchi melakukan panggilan telepon dengan rekan-rekannya dari Arab Saudi, Qatar, Turki, Irak, dan Azerbaijan, sementara  menurut Kemenlu Iran isi telepon itu membahas “inisiatif terbaru Republik Islam untuk mengakhiri perang.

Perkembangan terakhir
Perkembangan terakhir seperti dilansir Al-Jazeera, Trump menyatakan akan tetap memblokade pelabuhan plabuhan Iran karena hal itu dianggap lebih efektif ketimbang serangan militer langsung.

“Blokade lebih efektif daripada pengeboman. Mereka seperti tercekik seperti babi yang disumbat,” ujar Trump, sambil menegaskan sikap keras AS terhadap program nuklir Iran.

“Itu akan semakin buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Sebaliknya Iran menjadikan pencabutan blokade sebagai syarat utama untuk kembali ke meja perundingan.

Sejumlah laporan media menyebut Teheran sempat mengajukan usulan kesepakatan terbatas pada pekan ini. Dalam usulan tersebut, Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dengan syarat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhannya dihentikan.

Namun, menurut laporan tersebut, Presiden Trump menolak proposal itu dan memilih mempertahankan status quo.

Trump juga menyatakan bahwa ia tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan baru maupun mengakhiri ketegangan yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, ketegangan di lapangan terus meningkat. Sedikitnya dua kapal dagang yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan telah ditahan oleh AS sebagai bagian kebijakan blokade.

Pihak AS juga disebut telah mengalihkan 39 kapal di wilayah perairan regional dalam beberapa pekan terakhir. Sebagai respons, Iran turut menahan sejumlah kapal yang dituduh melanggar aturan pelayaran internasional.

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak tajam, sementara harga BBM di AS melonjak tajam.

Sementara Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut AS sedang berusaha “mengaktifkan tekanan ekonomi dan perpecahan internal” untuk mengguncang stabilitas negaranya.

Namun ia menyatakan keyakinannya, rakyat Iran akan mampu menghadapi tekanan tersebut dan meraih “kemenangan besar”.

Retorika perang terus dikobarkan oleh kedua pihak, sambil terus tarik-ulur tuntutan masing-masing. Ending-nya, siapa yang lebih kuat sesuai fakta, bakal keluar sebagai pemenangnya.  (CNN/al-Jazeera/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here