Bencana Kemanusiaan: Eksodus Pengungsi di Suriah

Ratusan ribu pengungsi menuju perbatasan Turki dari wilayah Suriah sejak Desember lalu akibat eskalasi pertempuran antara rezim pemerintah Suriah dan kelompok perlawanan (SDF) di kantong pertahanan terakhir SDF di Idlib dan Aleppo.

RATUSAN ribu pengungsi mengalir ke perbatasan Turki dalam sepuluh pekan terakhir ini di tengah musim dingin yang membeku, guyuran hujan lebat dan topan Ciara akibat eskalasi konflik di wilayah Suriah.

“Jika pertempuran terus berlanjut di seputar kota Idlib, lokasi berkumpulnya pengungsi bisa menjadi bencana kemanusiaan terburuk karena bakal menjelma menjadi kuburan, “ kata pejabat Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) Jens Larke (11/2) lalu.

Larke menuturkan, sekitar 700 ribu warga sipil, mayoritas perempuan dan anak-anak telah meninggalkan kampung halaman mereka sejak Desember lalu, dan sekitar 280-ribu lagi yang masih tinggal juga bakal menyusul jika konflik tak kunjung reda.

Sekitar 5,5 juta atau sepertiga dari 17 juta penduduk Suriah berjejalan di kam-kam pengungsi, terbanyak di negara tetangganya, Turki, sedangkan enam juta lagi menyebar ke lokasi-lokasi yang dianggap aman.

Sudah lebih 330-ribu orang tewas, sebagian besar warga sipil dan akibat konflik berkepanjangan antara rezim pemerintah Suriah melawan kelompok perlawanan pasca wafatnya Presiden Hafez al-Assad yang berada di tampuk kekuasaan lebih 30 tahun pada 2011.

Situasi makin runyam akibat campur tangan AS dan Rusia dan kekuatan kawasan yakni Turki, Iran, Irak, kelompok separatis Kurdi dan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang hendak mendirikan negara khilafah.

Konflik Suriah bermula pada 2011 saat Presiden Hafez al-Assad yang bercokol lebih 30 tahun wafat, lalu digantikan puteranya, Bashar al-Assad yang mendapat perlawanan dari kubu Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Di satu pihak, rezim al-Assad didukung Turki, Iran dan tentu saja Rusia yang memiliki pangkalan AL di Tartus, Suriah, sedangkan SDF didukung AS.

Bagi Iran, Irak dan Turki, dukungan atas rezim Bashar al-Assad penting untuk menghadang kelompok separatis Kurdi yang menjadikan wilayah Suriah sebagai basis untuk melancarkan serangan.

Munculnya NIIS yang memproklamasikan negara khilafah beribukota di Mosul, Irak dan Raqqa, Suriah pada 9 Juli 2017 sempat mengalihkan konflik karena dianggap sebagai musuh bersama oleh kedua belah pihak yang bertikai.

Kubu Rezim Bashar al-Assad yang didukung Rusia berada di atas angin pasca takluknya NIIS menjelang akhir 2019, dan saat ini sedang melancarkan pukulan terakhir terhadap sisa-sisa lasykar SDF di wilayah Idlib dan Aleppo. Ini yang menciptakan eksodus ratusan ribu pengungsi.

Suriah bisa dijadikan pelajaran dimana para elite dan pemimpin yang haus kekuasaan bersama-sama kekuatan asing tega menyengsarakan rakyatnya. (AP/AFP/ Reuters/Berbagai sumber/NS)

Advertisement